PENGANTIN PENGGANTI (BAB 68 : MARAH SEPERTI FLASH)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 68 : MARAH SEPERTI FLASH)
Rupanya Leon membawa Susan pulang ke Vila Anggrek, keduanya terlihat sangat akrab.Khansa membalikkan badan dan segera berlari ke lantai atas ke kamar, “ish … apa-apaan pria itu!” gumam kesal Khansa.
Para pelayan menyambut
hormat kepada tamu yang dibilang penting oleh tuan muda mereka.
“Selamat datang Nona,” sapa sopan mereka.
Ini adalah pertama
kalinya Leon membawa tamu wanita ke Villa Anggrek, selama ini selain Khansa
tidak pernah ada wanita lain yang secara khusus dia bawa ke Villa. Mengetahui
tentang ini, tingkat kepercayaan diri Susan pun semakin tinggi, merasa
jika kesempatan untuk menjadi Nyonya Sebastian semakin terbuka lebar.
Susan pun sudah mulai bertingkah seakan nantilah dia Nyonya rumah di Villa
anggrek ini.
“Terima kasih,”
jawab Susan dengan tersenyum ramah dan membiarkan pelayan membantunya
menggantikan sepatunya dengan sandal rumah.
Susan ingin menanamkan
kesan Nyonya rumah yang ramah di hadapan pelayan-pelayan yang dia anggap akan
melayaninya ini nanti jika kelak dia menjadi Nyonya rumah di Villa anggrek ini.
Sementara itu, Khansa merasa sangat kesal.
Khansa membanting keras-keras pintunya, lalu duduk di ranjang besarnya, memutar
ingatan yang tadi dia rekam dalam ingatannya.
Betapa Leon dan Susan
terlihat sangat serasi berjalan bergandengan tangan, sambil
bercakap-cakap dan saling melempar senyum satu sama lain. Satu tampan,
satunya lagi cantik, jika orang lain yang melihatnya juga akan mengatakan hal
yang sama, jika mereka adalah pasangan yang cocok.
Angin di hari ini
menyapu rambut panjang susan yang tergerai dan juga membuat gaun yang susan
pakai terlihat melambai-lambai di bawah betisnya. Sementara itu, Leon
bebicara dengannya sembari tersenyum. Sementara hati Khansa malah terasa panas
mendidih melihatnya.
“Dia benar-benar
membawa wanita pulang ke rumah! Itu pasti wanita itu kan. Itu pasti dia,” pikir
marah Khansa.
“Lalu dia menganggap
aku ini apa?”
“Bonekanya?”
“Ah ya aku hanyalah
istri di atas kertas,” pikir Khansa.
Khansa berdiri lalu
mengepalkan tangannya keras-keras karena merasa sangat marah. Saking marahnya,
Khansa merasa ingin mengunyah-ngunyah pria yang bernama Leon itu. Khansa
menarik napas dalam-dalam dan menenangkan dirinya.
Khansa menduga jika
Susan adalah pacar Leon, karena itu Leon berani membawanya ke Villa anggrek
ini. Khansa juga menebak-nebak posisi dirinya di dalam hati Leon, “Sudah
aku duga, dia bersikap manis bukan hanya kepada aku saja. Hah! dasar pria,”
ujar marah Khansa sambil menghentakan kakinya ke lantai.
“Jika sudah memiliki
orang yang disukai, mengapa dia bersikap baik dan manis kepadaku,” gumam kesal
Khansa.
“Dasar Palyboy cap teh
poci,” dengus marah Khansa lagi.
Khansa berdiri dan
menarik sprei rapih dari ranjangnya dan melemparkannya ke lantai, terkadang
jika sedang tidak bisa mengontrol emosinya, maka Khansa bisa bersikap sangat
bar bar.
Pada dasarnya Khansa
tidak mudah terpancing. Namun, kali ini Leon dengan sangat mudahnya sudah
benar-benar bisa merusak pengendalian Khansa yang sudah di jaganya dengan baik
selama ini.
Tiba-tiba saja
terbersit sebuah ide yang melintasi kepala Khansa, “Apa aku lemparkan saja
Flash ke arah wanita itu!” gumam marahnya.
“Tidak! Tidak, Flash
terlalu imut untuk di lemparkan kepada wanita itu. Anaconda lebih pantas
dilempar ke wanita itu,” gumam marahnya lagi sambil mengetuk-ngetuk kepalanya
sendiri.
“Hissh … apa yang baru
saja kau pikirkan khansa,” ujarnya kepada diri sendiri.
Kemarahan Khansa
dibuyarkan oleh suara pintu kamar yang terbuka, Khansa menoleh, “Ini dia
orangnya! Masih ingat kalau ini adalah kamarnya, masih tau pulang.”
“Tuan Sebastian kau
sudah kembali?” sapa Khansa seraya menybunyikan tatapan marahnya.
Leon masuk ke dalam kamar, lalu menceritakan Susan itu siapa pada Khansa, “Tadi
adalah Chief Susan, dia adalah Direktur Humas di perusahaan.”
“Oh, iya aku sudah
tau!” jawab sarkas Khansa.
“Wanita di telpon itu
kan?” jawab sindir Khansa dengan berpura-berpura tenang dan berlapang dada.
Leon menaikan satu
alisnya lalu mendesah senanh. Leon tadi melihat sekilas Khansa ketika ada di
halaman Villa, melihat bagaimana Khansa berlari dan bersembunyi di kamar
mereka, hal itu tanpa sadar membuat wajah Leon tersapu senyum samar. Istri
kecilnya ini sedang cemburu, dan itu memberikan getaran hati yang tak bisa Leon
terjemahkan dengan kata-kata.
Leon sengaja menggoda
Khansa, karena tahu Khansa ada sedikit cemburu, karena Susan memang sangat
cantik dan berbakat. Leon masih bertanya bagaimana pendapat Khansa tentang
Susan. Khansa menjawab dengan jujur, tapi hati Khansa sangat tidak nyaman.
“Menurutmu bagaimana?”
tanya Leon.
Khansa memicingkan matanya, “Cantik dan juga sintal,” jawab Khansa.
Khansa masih
menjawab dengan intonasi suara yang mencoba menyembunyikan pemikirannya
yang ingin segera mengambil busur panah dan melesatkan satu anak panah ke
masing-masing, kepada Leon dan Susan.
“Apakah Tuan
Sebastian, sudah tidak sabaran untuk segera menjadikan Chief Susan untuk
menjadi kekasihmu?” sindir Khansa.
“Hmm … mengingat permintaan Nenek yang mendesak aku agar segera memiliki anak,
seperti mencari pacar adalah ide yang bagus,” jawab asal Leon.
“Booom!” hati Khansa
terasa berdentum kencang dengan ledakan level tertinggi, “Apakah dia ini akan
mati jadi ingin lekas-lekas memiliki bayi,” pikir Khansa.
“Lihat saja Nenek,
masih belum pulang dari berdoa karena sangat menginginkan aku memiliki bayi,”
tukas Leon.
Khansa pun tidak bisa
berkutik lagi, karena memang nenek, benaran pergi berdoa untuk ini dan belum
kembali.
“Lagipula, bukankah
tempo hari kau ada memintaku untuk mencari wanita lain untuk mentutaskan
inginku?” sindir Leon kepada Khansa.
Mendengar perkataan Leon pun membuat Khansa semakin tidak bisa berkutik.
Khansa pun mengalihkan
pandangannya dengan sedih. Leon mendekatinya dan mencoba melihat wajah Khansa
dari dekat, lalu menapuk wajah Khansa, “Ada apa?”
“Jangan sentuh aku!”
hardik marah Khansa.
“Sekarang marah karena
apalagi?” tanya Leon sedikit menggodai Khansa sambil tertawa kecil, mengingat
waktu itu juga Khansa marah seperti ini ketika mendengar suara Susan menjawab
panggilan telpon darinya.
Khansa duduk di sisi
ranjang, nampak seperti Flash yang sedang mengamuk. Sementara Leon berdiri
tegak dengan satu tangan di saku celananya.
Satu tangan lagi iseng mencubit dagu dan pipi Khansa dengan memasukan
jarinya ke balik cadar Khansa, jari-jarinya merasakan kulit kenyal lembut
Khansa, terasa benar-benar segar untuk di sentuh.
Pandangan mata Leon
terlihat penuh cinta,menatapi istri kecilnya ini yang tengah bertingkah seperti
Flash. Namun, juga dipenuhi oleh tatapan nakal yang terlihat sedang menggodai
gadis yang di sukainya itu.
Leon terlihat sangat
lemah lembut, menjulurkan tangan mau mengusap kepala Khansa untuk menghibur
Khansa. Baru saja Khansa ingin menepis tangan Leon,
Saat ini Susan masuk
dan suasana jadi sangat canggung. Hanya terdengar suara detak jam dinding.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 68 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar