PENGANTIN PENGGANTI (BAB 69 : MAJIKAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 69 : MAJIKAN)
"Leon kau …! ujar Susan dengan canggung.
Senyuman di wajah
Susan menguap hilang ketika melihat Khansa duduk di ranjang besar milik Leon
itu.
Susan sama sekali
tidak pernah melihat Leon bisa begini, apalagi membayangkan ekspresi Leon bisa
selembut itu. Selama ini Susan mengenal Leon sebagai pemimpin yang berwibawa,
sukses, akurat dan memiliki kefokusan tinggi di dalam mengelola bisnisnya, juga
sesekali bisa bersikap kejam terhadap lawan bisnisnya. Susan tidak pernah
menyangka jika Leon memiliki sisi lembut seperti ini.
Leon menarik
tangannya, lalu menoleh kepada Susan, “Ada apa?” tanya Leon sembari menaikan
satu alisnya.
Rupanya Susan
kesasar dan tidak sengaja masuk ke dalam kamar Leon dan Khansa berada
sekarang, “A-aku ingin pergi ke kamar tamu, pelayan sudah memberi tahu arahnya
tadi, tapi nampaknya aku salah jalan,” jawab Susan.
Leon menarik kembali
tangannya, tatapan penuh cinta yang tadi susan lihat telah berubah menjadi
tatapan yang tidak ada kehangatan sedikitpun ketika menatap susan.
Susan mulai menanyakan
Khansa itu siapa, “Leon … wanita ini …?” ujar Susan terbata sembari memaksakan
senyuman di wajahnya.
Mendengar pertanyaan
Susan, belum juga Leon menjawab. Namun Khansa langsung saja berdiri dari
ranjang besarnya itu dan malah menjawab jika dia adalah pelayan kecil tuan muda
Sebastian.
“Nona Susan, aku
adalah pelayan di sini,” jelas Khansa.
“Pelayan?” gumam Susan
dengan ragu.
Khansa bohong pada
Susan. Khansa keluar dan tidak peduli pada Leon dan Susan, “Kalian mengobrol
saja berdua! Selamat mengobrol ya,” ujarnya.
Hati Leon malah
semakin senang melihat Khansa yang semakin cemburu karena serum cemburu yang
baru saja Leon suntikan untuk Khansa.
Susan menangkap pandangan yang tak biasa dari Leon yang ditujukan kepada
pelayan kecilnya itu. Hatinya sedikit tidak senang, dari awal Susan sudah
menargetkan Leon karena pria ini sangat memikat, Leon telah sangat memikat hati
Susan, Leon sangat mempesona.
Susan berniat
memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi wanita milik Leon. Susan pun
memikirkan sebuah ide.
“Leon! Ini pertama
kalinya aku datang ke Villa Anggrek, Villa ini nampak luas, bisakah kau
mengajakku berkeliling tuk melihat-melihat!” pinta Susan.
“Minta salah satu
pelayan di sini saja untuk mengajakmu berkelling melihat-lihat,” jawab ketus
Leon sembari beranjak dari kamarnya.
Susan hanya tertegun
melihat Leon yang langsung saja berubah jadi sedingin es, padahal tadi ketika
gadis yang mengaku sebagai pelayan kecil itu ada di kamar ini, nampak sekali
jika Leon sangat tidak tahan untuk tidak menggodainya.
Ini membuat Susan
semakin tidak bisa menahan rasa di hatinya. Sebagai pebisnis muda yang sukses,
kepribadian Leon juga hampir tidak memiliki kekurangan. Keputusan-keputusan
bisnisnya yang selalu akurat, membuat Leon di segani oleh pihak lawan
bisnisnya. Selain kepribadiannya yang berada dalam taraf kelas tinggi, Leon
juga dikarunia ketampanan, kewibawaan dan juga kekayaan yang melimpah yang
telah membuat banyak wanita dari kalangan sosialita jatuh hati kepadanya.
Leon Sebastian adalah
Tuan Muda yang sulit didekati, karena Aura dingin yang selalu dia tebarkan jika
di depan para wanita sosialita tersebut. Itu sebabnya selama ini tidak ada
wanita yang berani mendekatinya.
Tapi susan tetap
merasa percaya diri, karena tiba-tiba Leon menerima inisiatif pendekatannya.
Meski merasa sedih, karena tetap saja Leon bersikap dingin kepadanya, meski dia
sudah berhasil masuk ke Villa anggrek ini.
Merasa sudah sampai sejauh ini, Susan memutuskan tidak akan menyerah, dan tetap
percaya bahwa dia adalah jodohnya Leon.
…
Khansa mencari Paman Indra dan bertanya apa ada yang bisa dibantu. Khansa
memutuskan untuk berperan jadi pelayan. Paman Indra tidak berani mengatakan
apapun. Paman Indra malah berjalan begitu saja tanpa menjawab.
“Paman Indra ada yang
bisa aku bantu tidak?” tanya Khansa lagi.
Paman Indra
mengernyitkan alisnya, menatapi nyonya mudanya itu sekaligus berpikir rencana
apa yang sedang tuannya susun dengan membawa wanita lain ke Villa anggrek.
“Tidak ada Nyonya,
tidak ada yang bisa Nyonya bantu,” jawab Paman Indra.
Mana berani Paman
Indra meminta Nyonya mudanya bersih-bersih, sementara Tuan mudanya tidak
mengintruksikan apa-apa.
“Ruang tamu?” tanya
Khansa.
“Ah itu … i-itu,
Nyonya bisa memeriksanya sendiri apakah ada yang bisa dibersihkan disana!” ujar
Paman Indra.
“Jika begitu baiklah!”
ujar Khansa seraya pergi ke ruang tamu, untuk melihat apakah ada yang bisa dia
bersihkan disana.
Melihat Nyonya mudanya
pergi, barulah Paman Indra paham mengapa Leon membawa wanita lain ke Villa
Anggrek ini.
“Haa … untung saja
Nenek Sebastian tidak di sini, jika ada di sini maka pekerjaan aku pasti akan
bertambah. Menjadi perisai tuan muda Leon. Perisai kemarahan Nenek Sebastian,”
gumam Paman Indra sambil menghela napas panjang.
Khansa melihat seorang pelayan sedang mengelap sebuah vas-vas pajangan dari
kristal, lalu mengambil lap yang ada di tangan pelayan tersebut, “Sini! Biar
aku bantu kau membersihkan ini.”
Pelayan tersebut
tercengang ketika melihat Nyonya Mudanya ini malah ikut duduk berlutut
bersamanya di lantai.
“Nyonya!” panggil
pelayan itu dengan takut-takut.
Sungguh pelayan itu
sangat takut dengan Tuan muda Sebastian, jika saja salah paham terhadap
dirinya, takut disangka jika Nyonya muda di minta bekerja membersihkan perabot
rumah tangga Villa Anggrek.
Khansa terlihat asyik
berlutut diatas permadani karpet empuk yang ada di ruang tamu itu, dan dengan
serius mengelap vas-vas kristal tersebut.
“Aduh!” gumam Khansa
seraya memegang kepalanya yang baru saja terlempar oleh sesuatu.
Khansa menoleh, dan melihat Leon telah duduk di sana sambil memegang majalah
bisnis di tangannya, bertingkah seakan-akan sedang membaca. Leon sedang
semangat mengerjai istri kecilnya ini, karena itu melemparkan permen ke kepala
Khansa.
“Pria ini, benar-benar
ingin membuatku kesal ya!” pikir Khansa.
Khansa memeloti Leon
dengan mata hitamnya yang pekat, ditatapi seperti itu malah Leon balik
menatapi Khansa. Leon memperhatikan khansa hari ini tampak imut memakai baju
kaos putih, dengan celana selutut berwarna krem, betisnya terlihat indah dan
ramping. Rambut panjangnya nampak di kuncir tinggi. Khansa terlihat lembut
meski sedang kesal kepada Leon.
Khansa mengambil
permen yang ada di sampingnya, permen yang tadi dilemparkan oleh Leon. Khansa
membalas kembali. Sementara itu, Leon sama sekali tidak menghindar, permen itu
pun tepat mengenai wajah Leon.
Pelayan yang berada di
ruang tamu itu pun segera beranjak pergi mengamankan dirinya, jika Nyonya
mudanya di lempar permen, mana tahu jika kepadanya Vas kristal yang sedang di
pegang Nyonya nya akan melayang kepada dirinya. Pelayan itu dengan cepat
pergi ke dapur untuk menyelamatkan nyawanya yang berharga itu.
Leon memelototi Khansa,
“Dasar pelayan! Berani sekali melempar benda ke kepala majikanmu!”
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 69 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar