PENGANTIN PENGGANTI (BAB 7 : KODE)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 7 : KODE)
Tatapan Leon tertuju pada bibir merahnya Khansa, seolah-olah sedang memberikan kode bahwa cara terbaik bagi seorang wanita untuk berterima kasih kepada pria adalah dengan sebuah ciuman.
Jantung Khansa
berdegup kencang, daun telinganya yang putih sudah berubah memerah.
“Sudah ah, tak mau tahu lagi.”
“Tak usah jelaskan
lagi,” tukas Khansa lagi dengan wajah memerah.
Setelah mengatakannya,
Khansa malah menoleh ke luar jendela dan tidak memedulikan Leon lagi, dan lebih
memilih melihat pemandangan dari balik jendela mobil mini cooper milik Leon
itu.
Leon menatap sikap
Khansa yang menghindar, istrinya ini adalah gadis yang cerdas, gesit,
mandiri, dan tidak suka bergantung pada orang, juga enggan mempercayakan
ketulusan hatinya kepada orang lain dengan begitu mudah, tapi seorang gadis
berusia sembilan belas tahun tak lain hanya seperti selembar kertas kosong
dalam soal perasaan dan tidak bisa menahan godaan dari seorang pria.
Mobil mewah tersebut
berhenti di lampu merah, Khansa menyandarkan diri di jendela lalu membetulkan
duduknya ketika melihat toko kue paling terkenal di kota Palembang.
“Mau makan kue?”
terdengar suara berat Leon bertanya.
Sorot mata Khansa
terlihat sedih, dia berkata dengan pelan. “Dulu Ibuku sering bawa aku untuk
beli kue di toko itu.”
Leon memutar setirnya
dan berhenti di tepi jalan. “Kalau mau ya beli sana!”
………
Toko kue ini merupakan kenangan yang sangat indah bagi Khansa, kenangan tentang
ibunya kembali berkelebat di ingatan Khansa. Dia sudah sepuluh tahun tidak
kemari, dia ingat waktu masih kecil Ibunya sering membawanya kemari untuk
membeli kue kesukaannya, seketika saja matanya memerah, dia tidak ingin Leon
melihatnya menangis, jadi dia pergi ke toilet, menangis sedikit di toilet,
Khansa mencuci wajahnya sambil menatapi wajahnya di cermin. Lalu sedikit
menepuk-nepuk wajahnya agar berhenti menangis. Menghela nafas panjang, lalu
keluar dari toilet.
Leon pun masuk ke
dalam toko kue untuk membelikan Khansa kue. Sedangkan, Jihan dan sahabatnya,
Jane Gautama, kebetulan juga berada di dalam toko kue tersebut. Keduanya masih
menertawakan perihal Khansa memelihara sugar baby, dan juga menghina sugar baby
itu habis-habisan
“Wanita kampung itu
memang benaran deh, tinggal di desa selama ini. Sekalinya ke kota malah menjadi
liar,” tukas Jihan menghina Khansa.
Tepat ketika
percakapan mereka sedang panas-panasnya, Jihan melihat Leon yang berjalan masuk
ke toko kue. Leon adalah tipe ideal Jihan, dari suara hingga tampangnya dan
juga bentuk tubuhnya yang terlihat sangat macho itu.Jihan tergila-gila pada
Leon.
Jane masih berada pada
topik barusan, dia bertanya kepada Jihan dengan nada pelan, apa mungkin tampang
sugar baby Khansa seperti ini. “Eh apa tampangnya kira-kira setampan itukah?”
tukas Jane seraya menunjuk ke arah Leon.
Jihan, “…”
Jihan amat tidak
bersedia kalau pria yang disukainya menjadi sugar baby orang, dia membantah
perkataan Jane. “Apaan sih!” Jihan memelototi Jane. “Orang kampungan kayak
Khansa pasti ya sugar babynya juga orang murahan, udah jelek, gendut lagi,
kalau dia punya sugar baby kayak gini, aku bakal panggil dia Nenek!” cibirnya.
Kue yang Leon inginkan
sudah habis, kue terakhir telah terjual. Staf toko memberitahu Leon bahwa kue
yang ingin dia beli telah dibeli oleh Jihan yang berada di sebelah. “Maaf Tuan!
sayang sekali kue ini telah dipesan oleh Nona ini,” ujar pelayan tersebut.
Jihan yang mendengar
perkataan pelayan toko tersebut berpikir akan menggunakan kesempatan ini
untuk memanfaatkan agar bisa mengobrol dengan Leon, Jihan mendekati
Leon dengan genitnya lalu dia mengatakan bisa memberikan kuenya kepada Leon,
jika dia menginginkannya.
Leon ini orang yang
statusnya seperti apa, jika dia mau bisa saja dia membeli toko kue ini, jadi
menerima barang bekas tidak pernah ada di kamusnya. Semua yang dimilikinya
haruslah barang baru, orang lain yang menyentuhnya duluan mana boleh begitu.
Leon tidak menggubris
godaan Jihan, sebagai gantinya dia mengeluarkan kartu black gold miliknya yang
tertera nama keluarga kepada staf toko, dia meminta tolong kepada staf untuk
membuatkan satu kue lagi. “Buatkan lagi satu yang baru, tidak pakai lama!”
Staf toko melihat nama
keluarga itu, dan malah tertegun seperti orang yang baru sadar dari pingsan,
tidak ada yang tidak mengenal keluarga Sebastian di kota Palembang ini, dengan
cepat dia segera saja meminta bagian dapur untuk membuatkan kue.
“Baik Tuan! Kami akan
membuatnya dengan cepat,” jawab pelayan toko tersebut dengan suara sedikit
panik.
Jihan merasa sangat
marah karena diabaikan, tapi dia juga terkejut mengapa staf toko bisa memenuhi
keinginan pria ini.
Dirinya dan Jane adalah pelanggan VVIP di toko ini, tapi tidak pernah ada
layanan yabg seperti dia lihat ini. Jihan semakin merasa kalau pria ini
adalah pria sempurna yang dia inginkan untuk jadi pendampingnya, Jihan mulai
berpikir licik. Dia menarik sedikit gaunnya dan menunjukkan lekukan yang
menggoda, lalu pura-pura pingsan.
Namun, hal di luar
dugaan terjadi. Leon tidak menangkap dirinya, melainkan menghindar ke sisi lain
sehingga Jihan terjatuh langsung ke lantai. Pas sekali Khansa keluar dari
toilet, Khansa terkejut melihat Jihan yang seakaan sedang berpose berlutut di
depannya, dia bertanya kepada Jihan kenapa memberi hormat begitu besar
padanya sambil tertawa meledek.
Jihan bangun, dia
bertanya pada Khansa dengan heran kenapa dia bisa ada di sini, jihan berpikir
jika sesuai dengan rencana ibunya. “Seharusnya Khansa berada di atas ranjang
Pak Arman sekarang,” gumam Jihan dalam hati.
“Ini kenapa gadis
kampung ini malah ada disini!” pikir Jihan lagi sambil menatap sinis tak
kepada Khansa.
Leon menghampiri dan
merangkul pinggang Khansa dengan romantisnya, lalu bertanya kenapa Khansa
begitu lama. “Kenapa lama sekali didalam, aku sudah memesankan kue spesial
untukmu lho,” ungkap Leon.
“Benarkah?” tanya
manja Khansa.
“Bukakah tadi bilang
mau makan kue,” ujar Leon seraya mencubit manis dagu Khansa.
“Kau ini … manis
sekali,” sahut Khansa dengan nada suara manja.
Leon pun memasukan
jari-jari tangannya ke jari tangan Khansa dan menggenggamnya erat sambil
tersenyum senang, seakaan mereka berdua ini sedang di mabuk cinta berat.
Melihat kemesraan
mereka, Jihan dan Jane menarik nafas, Khansa dan pria ini? Pikir Jihan iri dan
mengkesal, “Hei Khansa! Siapa dia?” tanya Jihan segera.
Khansa mengangkat
sudut bibirnya, “Bukannya kamu yang bilang dia sugar babyku?”
Mendengar jawaban
Khansa, maka Jihan jadi salah tingkah malu sendiri, karena tadi sudah
mengatakan kepada Jane bahwa sugar baby khansa adalah seorang pria yang
gendut, botak dan sangat jelek.
Khansa sengaja
menekankan perkataanya itu di depan Leon. Karena tidak ingin Leon salah paham
atas tudingan Maharani tadi ketika di rumahnya, tudingan yang menuduh Leon
adalah pria simpanan Khansa.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar