PENGANTIN PENGGANTI (BAB 70 : SUP ASPARAGUS )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 70 : SUP ASPARAGUS )
“Kemarilah!” tukas leon sembari menggerakan satu jarinya memanggil Khansa.
Khansa hanya bisa
mendengus marah, “Arogan sekali pria ini,” pikir Khansa.
Jika saja yang sedang
Khansa pegang di tangannya ini bukan sebuah Vas Kristal, maka tanpa pikir
panjang khansa akan melemparkannya kepada Leon.
“Sini! Ayo cepat”
panggil Leon lagi dengan nada tidak sabar.
Khansa pun berdiri
menghampiri Leon, “Ada apa Tuan Sebastian,” jawab Khansa.
Enggan menjawab, Leon
malah menarik lengan Khansa dan membuat Khansa jatuh terduduk di pangkuannya.
Leon memaksa Khansa untuk duduk di atas paha Leon.
“Kau … kau mau apa?”
“Lepas!” ujar Khansa
sembari berusaha beranjak bangun dari dekapan Leon.
Leon tahu Khansa sudah
marah, namun Khansa menyangkal, “Marah ya? Bukannya tadi kau bilang jika kau
adalah pelayan pribadiku, pelayan kecilku?”
“Jadi tidak salah kan,
kalau melayaniku!” jelas Leon.
“Pria ini …” pikir Marah Khansa.
Dia berkata jika
dirinya adalah pelayan, karena Leon tiba-tiba membawa wanita datang ke rumah
mereka. Jadi dengan asal tadi Khansa menjawab pertanyaan Susan, melihat ada
wanita lain masuk ke kamar tidur mereka, siapa pun pasti akan langsung meledak
di tempat.
Binar mata khansa
menatapi Leon, dengan tegasnya, “Aku bilang kan aku pelayan, bukan bilang
pelayan yang bisa menemanimu bermain!” tukas Khansa sedikit bernada marah.
Leon menyeringai,
“Maksudmu pelayan yang menemani bermain itu … pelayan yang memakai bando
telinga kucing dan memakai seragam diatas lutut dengan sepatu hak
tinggi?” tanya Leon dengan sedikit tertawa.
“Apakah pelayan yang
itu?” tukas Leon kembali menyeringai.
“Jika kau sudah
berseragam seperti yang kubilang tadi, apa itu artinya aku bisa bermain
denganmu,” goda Leon kepada istrinya itu.
Entah sejak kapan,
mengerjai dan meledek istri kecilnya ini, menjadi hobi yang tidak bisa dia
tinggalkan, hobi yang membuat hatinya senang sampai berbunga-bunga.
Khansa berpikir
ternyata suaminya ini memang mesum, bisa-bisanya memikirkan pelayan dengan
seragam seperti itu. Leon memahami tatapan pandangan istrinya itu. Bagaimana
pun juga, dia adalah pria dewasa yang sudah cukup umur untuk bisa melakukan
hal-hal yang terkait dengan olahraga ranjang. Ingin menggodai istrinya lagi,
Leon pun bekerja sama bersandiwara dengan Khansa menjadi majikan dan pelayan.
Suasana jadi membaik,
Leon dengan manja memerintah Khansa membuka bungkusan permen dan menyuapi
dirinya, “Hei pelayan, buka ini, aku mau makan.”
Leon meberikan permen
yang tadi mengenai wajahnya karena lemparan Khansa.
“Hish … apa kau ini seorang bayi? Mengapa manja sekali,” gumam Khansa
.
Khansa tidak berdaya menghadapi Leon dan hanya bisa menurut, khansa
membukakan permen itu lalu memasukannya ke dalam mulut Leon.
“Nih makan!” ujar
Khansa.
“Ini manis sekali,”
gumam Leon dengan mulut penuh permen.
“Maksud aku permennya
lho,” gumam senang Leon lagi.
Leon pun mengunyah
permen itu demgan seringai jahil, lalu muncul sebuah ide lagi untuk mengerjai
istri kecilnya itu.
“Hei! Pelayan!”
panggil Leon.
“Ada apa lagi! Tuan
Sebastian?” Jawab ketus Khansa.
“Katakan tujuanmu
menjadi pelayan kecilku?” tanya Leon.
“Tujuan?” tanya
Khansa.
“Ya Tujuan,” jawab
Leon
“Tujuan apa?” tanya
khansa dengan sengit sekaligus bingung.
Jika bersedia menikahi
Leon, jelas dia memang memiliki tujuan sendiri, tapi menjadi pelayan pura-pura,
jelas sekali Khansa tidak memiliki tujuan itu.
Melihat istri kecilnya
terlihat kebingungan, maka dengan senang hati Leon menjelaskan maksud
perkataannya,“Sudah bukan rahasia lagi jika ada beberapa pelayan yang berniat
naik ke atas ranjang tuannya, apakah ini adalah tujuan utamamu?” tanya ledek
Leon.
Khansa sangat malu dan
tak menyangka Leon semesum itu. Khansa segera memukul-mukul dada Leon,
“Sekarang bisa turunkan aku tidak!”
“Dasar mesum,” tukas Khansa seraya mencubit pinggang Kuatnya Leon.
Telinga Khansa menjadi
memerah mendengarnya, Khansa menjadi bertambah marah lagi, karena yang menarik
dirinya ke paha Leon tadi adalah Leon sendiri tapi malah mengatakan jika malah
dia berniat naik ke atas ranjangnya dalam arti tidur bersama dengannya.
Hari ini Leon sudah
benar-benar menyulut banyak sumbu peledak di hati Khansa, tinggal tunggu
meledak bersamaannya saja. Khansa mencoba meninju dada Leon, namun Leon
malah menangkap tangan mungil Khansa dan meletakannya sendiri di dadanya
dengan senyuman bahagia senang.
Terdengar langkah hak
sepatu tinggi berdentum-dentum di koridor ruang tamu, mendengarnya Khansa
langsung saja mendorong dan berdiri melepaskan diri dari pangkuan Leon.
Susan dengan wajah sumringah menatap Leon dengan penuh kasih sayang, dan juga
merasa puas atas keindahan Villa Anggrek ini, berangan -angan jika dirinya
sudah resmi masuk kedalam villa Anggrek ini maka akan ada beberapa perabot
rumah tangga yang berencana dia akan ganti.
“Leon, Villa Anggrek
ini sangat indah,” puji Susan.
“Akan sangat
menyenangkan jika bisa tinggal di sini selamanya” ujar Susan lagi.
Bertambah kesal
mendengar nada suara lembut susan memanggil suaminya itu dengan nada genit dan
mesra, Khansa pun segera pergi dari ruang tamu.
“Silahkam nikmati
waktu kalian berdua,” gumam kesal Khansa dalam hati.
Melihat Khansa pergi,
Leon pun ikut berdiri, Leon kembali bersikap dingin dan meminta Susan tinggal
untuk makan malam.
“Makan malam telah
siap, mari kita makan!” ajak Leon tanpa memandang kepada Susan.
Di ruang makan, Leon
dan Susan duduk bersampingan di meja makan. Sementara itu, Khansa membantu
Paman Indra dan beberapa pelayan bersiap di dapur. Khansa akan membawakan
makanan ke dalam ruang makan. Ada sup asparagus, dan juga beberapa makanan ala
eropa lainnya.
“Apakah ini semua
makanannya?” tanya Khansa.
“Iya Nyonya,” jawab
Paman Indra
.
“Jika begitu aku akan membantu membawanya,” ujar Khansa seraya memgambil
semangkul sup asparagus panas dari atas meja dapur dan segera membawanya ke
ruang makan.
Susan mencari alasan
agar bisa menginap di Vila Anggrek, “Leon aku teringat tentang Grand opening
gudang makanan baru perusahaan kita. Ada beberapa detail acara yang harus aku
diskusikan dan butuh persetujuanmu,” ujar Susan.
“Jadi apakah tidak
apa? Jika malam ini aku Menginap di sini untuk berdiskusi?” tanya Susan.
Susan berpikir jika
triknya nanti ini akan berhasil, malam hari berdiskusi berdua di ruang kerja.
Pria dan wanita, bukankah itu akan lebih mudah memercikan percikan api asmara,
hanya dengan satu percikan saja maka gairah akan datang, dan itu akan menjadi
momentum keemasan bagi titik balik kehidupan Susan, lalu menjadi dua insan yang
tidak dapat dipisahkan.
Leon bukannya tidak
tahu tujuan Susan. Namun, tetap menyetujui permintaan Susan karena Leon juga
memiliki tujuan sendiri.
Leon memandang Susan,
dan mengizinkan, “baiklah malam ini, menginaplah di sini.”
Saat ini terdengar suara sesuatu yang pecah dari luar pintu ruang makan.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 70 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar