PENGANTIN PENGGANTI (BAB 71 : PROVOKASI )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 71 : PROVOKASI )
Khansa sampai di depan pintu ruang makan. Khansa tak sengaja mendengar percakapan Leon dan Susan. Tadinya Khansa berpikir jika Susan hanya akan mampir saja, mendengar suaminya menyetujui permintaan Susan untuk diperbolehkan tidur di Villa Anggrek, jelas saja membuat Khansa menjadi terkejut.
Khansa merasa tidak
menduga jika suaminya itu akan mengijinkan dan malah tak sengaja menjatuhkan
sup panas yang sedang dipegangnya, dan itu malah menjadi melukai tangannya
sampai sedikit melepuh.
“Aw!” Khansa mendesis
dan mengernyitkan alisnya karena menahan sakit.
Mendengar Khansa
mendesis, Leon segera saja berdiri lalu menghampiri Khansa, melihat sup dan
mangkuknya sudah ada di lantai dan melihat Khansa sedang memegangi tangannya
sambil meniup-niupnya, Leon segera saja menarik tangan Khansa.
“Kau ini mengapa
ceroboh sekali? Sakit tidak?”
Leon segera saja
mengikuti apa yang tadi Khansa lakukan, meniup-niup luka di tangan Khansa
itu.
Dalam pandangan semua yang ada di sana , itu terlihat sangat romantis.
Paman Indra
hampir-hampir saja terjatuh lemas melihatnya. Pertama karena Nyonya mudanya
terluka waktu membawa sup asparagus hangat, kedua karena tuan mudanya sedang
bersikap romantis pada wanita, hal yang tidak pernah dia sangka sama sekali.
Sungguh dua kombinasi yang ini sudah cukup untuk menyerang jantung Paman Indra
sampai K.O
Lebih-lebih Susan
sangat memperhatikan tingkah laku Leon ini, “Leon mengapa sangat perhatian
sekali kepada pelayan kecil itu,” pikirnya.
“Bahkan dia
meniup-niup luka pelayan kecil itu,” pikir Susan lagi yang melihat itu terlihat
sangat intim seperti sepasang kekasih.
Merasa semua mata
sedang memandanginya, maka Khansa pun segera menarik tangannya dari genggaman
Leon.
“Aku akan merawat
lukanya diatas!” ujar Khansa seraya pergi ke atas.
Perasaan Khansa
menjadi Galau, sementara perasaan Susan mencurigai jika ada sesuatu yang salah.
“Sepertinya pelayan
tersebut mencoba menggoda Leon,” curiga Susan.
“Tidak bisa dibiarkan,
akan aku tunjukan siapa yang akan menjadi Nyonya rumah di sini,” ancam susan.
…
Di dalam kamar mandi, Khansa segera saja membuka kran air, Langkah
pertama yang paling benar saat menangani luka bakar adalah dengan mendinginkan
luka menggunakan air mengalir bersuhu ruang.
Penggunaan air ini
memanfaatkan hukum fisika di mana panas yang ada di luka akan ‘dipindahkan’
keluar melalui air. Selain itu, air mengalir juga bisa membersihkan luka
sehingga luka terbebas dari berbagai bakteri.
Khansa memahami
prinsip seperti ini, sedari kecil sudah akrab dengan dunia medis, maka tentu
saja khansa sangat mengingat prinsip kesehatan ini. Khansa mengobati luka, tapi
terus terpikirkan sikap Leon yang romantis tadi.
“Jika saja malam ini,
aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri dia membawa wanita pulang dan
membiarkannya menginap di sini, maka pasti aku akan sedikit meleleh karena
sikap manisnya itu,” gumam Khansa.
Khansa sangat
terpikat, tapi di saat bersamaan merasa tidak aman karena Susan menginap di
Vila Anggrek.
“Susan menginap
disini, akankah sesuatu nanti akan terjadi,” pikir Khansa.
Setelah kejadian itu,
Khansa tetap di kamar, setelah beberapa waktu terdengar dua ketukan.
Khansa membuka pintu dengan cepat. Khansa mengira itu adalah Leon tapi rupanya
Susan.
Khansa sudah tidak
bisa menyembunyikan lagi kemarahan di hatinya, dan memberikan tatapan marah
dengan bola matanya yang hitam itu.
“Nona Susan! Ada apa?
Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Khansa kepada Susan.
Susan memandangi
Khansa yang mengenakan cadar di wajahnya itu, mencoba menganalisa apakah wajah
dibalik cadar itu adalah seorang wanita yang cantik atau tidak.
Susan memperhatikan
dua bola mata Khansa yang jernih dan berwarna hitam pekat itu. Kedua mata yang
dapat memikat pria.
“Pantas saja jika Leon
tertarik kepada pelayan ini,” pikir Susan.
Susan pun dengan
sombongnya mengangkat bibir bergincu merahnya itu, “kau tadi bilang kau hanya
pelayan disini bukan?” tanya ketus Susan.
“Iya? Lalu kau mau
apa?” tanya Khansa tak kalah ketusnya.
“Jika begitu aku ada
tugas penting untukmu,” jawab Susan dengan tersenyum. Namun, Khansa dapat
melihat dengan jelas jika itu adalah senyum permusuhan.
“Tugas apa?” tanya
Khansa masih meladeni permainan Susan.
“Pergi dan belikan aku
sekotak k*ndom!” Perintah Susan.
“Sepertinya malam ini
aku akan membutuhkannya, ingat satu kotak yah!” Perintah Susan lagi.
“K*ndom,” pikir Khansa
sambil terbeku.
“Apakah ini perintahmu
atau perintah Tuan Sebastian!?” tanya Khansa menyelidik.
“Bukankah sama saja,
toh kami yang akan memakai k*ndom itu malam ini!” jawab sarkas Susan.
“Tidakkah kau lihat
dengan jelas, Tuan Leon mengijinkan aku tinggal menginap di sini,
bukankah itu artinya dia menginginkan apa yang aku inginkan juga,” jelas Susan
dengan panjang lebar.
“Malam ini pasti akan
terjadi sesuatu antara aku dan Tuan Leon,” tukasnya dengan penuh percaya diri.
Susan menatapi Khansa,
lalu membusungkan dadanya yang memang sudah terlihat besar itu, sambil berpikir
apa haknya pelayan kecil ini berani-beraninya bersaing dengan dirinya.
Dengan masih penuh percaya diri, Susan melontarkan pertanyaam kepada Khansa,
“Hei! Pelayan kecil, apa kau sedamg bermimpi untuk naik ke atas ranjang
tuanmu?”
“Percayalah padaku,
jika dia benar sedang menggodamu, maka itu karena dia sedang ingin mencoba
sesuatu yang baru, bermain bunga liar sepertimu,” ungkap Susan.
“Jika dia merasa
bosan, maka dia akan membuangmu pada tempatnya,” jelas Susan lagi.
“Jadi buang jauh-jauh
mimpimu itu ya! Karena Leon hanya akan menjadi milik aku,” tukas sarkas Susan
dengan nada sombong.
“Lihat saja lekukan
tubuhmu yang lurus itu, dan lihatlah lekukan tubuhku ini! Menurutmu Tuan
Leon akan memilih yang mana?” Tanya provokasi Susan lagi.
Mendengar perkataam
Susan, benar-benar membuat telinga Khansa sakit, tubuhnya memang tidak
semenawan Susan, yang memancarkan aura dewasa. Namun Khansa juga merasa tubunya
tidaklah jelek, dan lagi dia masih sangat muda. Masih memiliki banyak waktu
untuk membentuk lekuk tubuhnya nanti.
Khansa teringat
pemikiran mesum Leon tadi waktu memangkunya dan berbicara tentang bando kucing
dan seragam pelayan. Memikirkan sisi mesum ini, maka Khansa berpikir jika Leon
tidak akan menolak godaan Susan malam ini.
Khansa mengepal
tangannya keras-keras, mencoba untuk tetap tenang sambil berkata, “Nona Susan
karena Tuan Leon begitu menyukaimu, maka kau saja yang membelinya sendiri, dia
pasti akan samgat senang jika kau yang membelinya!” ujar marah Khansa sambil
membanting pintu kamarnya di depan wajah Susan.
“Hei! Pelayan kurang
ajar, apa kau tuli aku meminta kau yang membelikannya, mengapa kau malah
membantah!” hardik Susan.
“Hei buka pintunya,
cepat belikan aku k*ndom!” teriak Susan lagi.
Susan sangat percaya
diri bisa mendapatkan Leon, dan kemari untuk memprovokasi Khansa yang dianggap
sebagai pelayan.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar