PENGANTIN PENGGANTI (BAB 72: KHANSA DAN SAPU LIDI)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 72: KHANSA DAN SAPU LIDI)
Setelah khansa mengusir Susan lalu Khansa mengunci pintu. Khansa terduduk di lantai dan memeluk kakinya sendiri. Hatinya tiba-tiba saja membenci Leon ketika memikirkan akankah malam ini Leon akan benar-benar menyentuh Susan.
“Dasar playboy!” gumam
Khansa merutuki suaminya itu.
Khansa kembali
mengingatkan diri kalau hubungan dengan Leon hanya sebatas kerjasama saja.
Sepasang mitra kerja. Khansa harus mengingat tujuan awal kembali ke sini.
Mencari kebenaran
dibalik kematian ibunya. Seharusnya Khansa merasa senang, karena sudah berhasil
memberi pelajaran berharga untuk Hendra dan Jihan, menggagalkan pertunangan antara
keluarga Ugraha dan Isvara. Tapi, saat ini Khansa tidak sanggup mengendalikan
logika yang ada di pikirannya, Leon memenuhi pikiran Khansa, wajah dan
gerakan-gerakan elegan Leon ketika bersikap romantis kepadanya, sungguh itu
seperti sedang menikam hatinya pelan-pelan.
Khansa memandangi jam
di dindingnya, menghitung detik dan menit waktu yang terus berdetak
seperti jantungnya, hanya saja detak irama waktu lebih lamban berdetak
ketimbang detak hatinya yang sudah tidak beraturan itu.
Khansa sedikit-sedikit berdiri sambil bergumam, “Apakah saat ini Leon sudah
bersama Susan.”
Memperhatikan
sepertinya di luar sangatlah tenang, seperti sudah ada tidak kegiatan lagi,
hati Khansa semakin berdesir memikirkannya. Prasangka dikepalanya semakin
menjadi-jadi, kepada Leon dan Susan.
“Apa mungkin mereka
akan melakukannya malam ini? Hal-hal yang tadi dikatakan Susan,” pikirnya lagi.
Memikirkan tentang itu
sungguh gemuruh di hati Khansa benar-benar mengalahkan kerasnya gemuruh petir
ketika hujan.
Khansa semakin marah terhadap
Leon, selama ini dia sudah menjalani hidup dengan baik. Tapi, Leon malah datang
dan menggoda hidupnya, memasuki hidupnya dan masuk kedalam hatinya memorak
porandakan benteng pertahanan yang selama ini telah Khansa bangun.
“Tidak mana bisa
begini, melakukan dengan wanita lain di rumah! Benar-benar mereka mau cari
mati!” rutuk Khansa kepada keduanya.
Memikirkan ini hati
Khansa sudah meledak-ledak, sumbu yang dari tadi sudah Leon sulut, akhirnya
meledak dengan daya ledak yang dasyhat besarnya. Merasa sudah tergoda dengan
pesona Leon, dan sekarang Leon malah membawa wanita lain tepat di depan
matanya, jelas Khansa tidak bisa menerimanya. Khansa memutuskan untuk membuat
perhitungan.
“Mana bisa begini! Hah
… yang benar saja,” gumamnya.
Tanpa pikir panjang,
Khansa lalu pergi keluar dari kamarnya, pergi ke koridor kamar pelayan. Lalu
mengetuknya beberpa kali, pelayan tersebut terbangun dengan tergopoh, lalu
membukakan pintunya.
“Nyonya!” ujarnya
degan bingung.
“Ada apa! Nyonya?”
tanya pelayan itu.
“Apa kau memiliki sapu
lidi aren?” tanya Khansa.
“Sapu lidi?” tanya balik pelayan itu.
“Iya! Ada tidak?”
tukas Khansa dengan tidak sabar.
“Ada! Ada, Nyonya.
Sebentar akan saya ambilkan,” ujar pelayan tersebut kembali masuk ke kamar
untuk mengambil benda yang Khansa pinta.
“Cepatlah!” perintah
Khansa.
“Ini Nyonya,” ujar
pelayan tersebut seraya memberikan sapu lidi aren tersebut.
“Aku pinjam dulu ya!”
ujar Khansa lalu bergegas pergi ke kamar tamu yang ditempati oleh Susan.
Benda yang berfungsi
untuk membantu kita menyapu halaman ini, ternyata juga diyakini oleh beberapa
daerah, jika sapu lidi aren ini bisa mengusir hantu atau setan yang menganggu
rumah.
Konon, ada dua cara
yang bisa dilakukan.
Yang pertama dengan menyabetkan sapu lidi ke tempat-tempat yang dipercaya didiami
mahluk halus, misalkan kamar mandi atau kamar tidur. Kedua, dengan meletakan
sapu lidi di pojok atas ruangan, Konon ini dipercaya Karena lidi tersebut
memiliki aura gaib.
Khansa bepikir sapu
ldi aren adalah senjata yang paling cocok untuk mengusir setan yang sekarang
ada di rumahnya ini, khansa berpikir pria dan wanita bersama dalam satu
ruangan, bukankah orang ketiganya adalah setan.
Khansa merasa tidak
puas dan pergi mencari Susan, Khansa mengetuk pintu kamar Susan dengan keras
berkali-kali sambil memegang sapu lidi aren itu dengan kuat-kuat, “Buka
pintunya! Buka pintunya … apa kalian dengar!” teriak Khansa.
“Apa kalian ini tuli!”
pekik khansa lagi.
“Buka pintunya
sekarang juga!” teriak Khansa lagi dengan tidak sabaran.
Susan pun membukakan
pintu, nampak Susan sepertinya baru saja selesai mandi, terlihat rambutnya
masih basah.
Khansa saat ini ibarat
ayam jago yang sudah siap diadu. Khansa mengira Leon ada di dalam, dan
menerabas masuk begitu saja sambil membawa sapu lidi arennya.
“Katakan di mana Leon?
Bersembunyi dimana dia!” teriak marah Khansa sambil mengecek ke kamar mandi.
Melihat tidak ada di
kamar mandi, khansa mengecek kolong tempat tidur. Sementara itu, hati
Susan sedikit kecewa ketika membuka pintu tidak melihat Leon malah meliat ayam
betina yang sudah siap mematuk-matuk.
Dirinya jelas marah
melihat Khansa yang datang, tadi dia sudah melakukan ritual mandi mewah karena
ingin menyambut kedatangan Leon, tapi malah melihat Khansa sedang
mengibas-ngibas sapu lidi aren kepadanya.
Susan menjadi tidak
sabar dengan Khansa, “Apa yang sedang kau lalukan ini, hah!”
“Leon! Keluar kau!”
teriak Khansa.
“Di mana kau
menyembunyikannya, apa di dalam lemari!?” tanya marah Khansa sembari
mengibas-ngibas sapu lidi arennya lagi kepada Susan.
“Cukup! Kau ini hanya pelayan
rendahan. Apa kau pikir kau pantas mencarinya seperti ini!” hardik Susan seraya
menghalangi langkah Khansa.
“Minggir!” teriak
Khansa.
“Tidak!” jawab susan
dengan sedikit postur menantang.
“Aku akan hitung
sampai tiga! Kau akan tahu akibatnya jika tidak menurutiku!” Ancam Khansa.
“Satu”
“Dua”
Sudah sampai hitungan
kedua namun nampaknya Susan malah memilih menentangnya. Susan dan Khansa
mulai terlibat perkelahian sengit.
Khansa lalu menarik
tubuh Susan yang masih memakai handuk kimono di tubuhnya itu. Khansa menarik
tubuh Susan keluar kamar, lalu mendorongnya hingga Susan terjatuh ke lantai.
“Astaga! Pelayan ini
sungguh memiliki keberanian yang tinggi,” pikir Susan seraya bangkit dari
lantai.
“Pelayan rendahan, beraninya kau mendorongku!” hardik Susan seraya ingin
melayangkan tamparan kepada khansa.
Khansa sangat gesit,
dengan mudah bisa menghindar dari tamparan yang Susan layangkan untuknya. Malah
bermanuver dan menjambak rambut panjang Susan.
“Rasakan seranganku
ini!” gumam Khansa yang langsung saja menjatuhkan Susan lagi ke lantai.
Khansa mengambil sapu
lidi arennya yang tadi dia lempar ke lantai, lalu mengibas-ngibaskannya ke
tubuh Susan. Menganggap jika Susan adalah setan yang harus segera dia usir.
Susan tidak percaya
jika pelayan kecil ini memeiliki tingkat daya ledak perang yang tinggi,
sampai-sampai Susan merasa perih di kulit kepalanya ketika tadi Khansa
menjambak dan menarik rambutnya.
para pelayan berangsur
berlari kemari dan tidak sanggup mengatupkan mulut. Mereka mulai bergunjing,
“Ya Tuhan Nyonya Galak sekali,” ucap para pelayan yang sedang melihat kejadian
ribut-ribut ini.
Sosok yang tampan dan
tinggi pun keluar dari koridor. Leon keluar dari ruang baca dengan
Paman Indra mengikuti dari belakang.
πππππππππππππππππππ
Dukung terus novel ini
yaaa

Komentar
Posting Komentar