PENGANTIN PENGGANTI (BAB 73 : BERBAIKAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 73 : BERBAIKAN)
Paman Indra segera maju ke depan dan melerai Khansa dan Susan sambil memuji dalam hati atas keberanian nyonya mudanya ini dan berpikir pantas saja nyonya mudanya ini selalu berani menantang tuan mudanya. Hari ini Paman Indra benar-benar baru melihat sisi perkasa dari Nyonya mudanya ini.
“Tuan! Kali ini kau
benar-benar menemukan lawan yang sepadan, kau juga harus waspada dan banyak
berhati-hati,” pikir Paman indra.
Susan melihat Leon
telah datang lalu langsung saja mengadu dengan sedih dan tersedu-sedu kepada
Leon kalau, “Pelayan kecil ini telah berani memukuliku.”
“Lihatlah dia juga
baru mencakarku,” lapor Susan seraya memperlihatkan bekas cakaran kuku Khansa
yang meninggalkan jejak di lengan putih mulus Susan.
Ketika Susan mengusap
kepalanya karena merasa kulit kepalanya terasa panas, karena jambakan tangan
Khansa tadi. Susan tiba-tiba menjadi histeris karena melihat rambutnya banyak
rontok di genggaman tanggannya, “lihatlah ini, lihat pelayan kecil ini sungguh
kasar.”
Susan ingin menyerang
Khansa lagi, namun di tahan oleh Paman Indra. Leon terlihat berdiri tenang dan
terlihat sangat elegan dengan gaya satu tangan dimasukan ke saku celananya,
sambil dengan santainya memperhatikan dua wanita yang sedang bertengkar itu.
“Ini ada ribut-ribut
apa?” tanya Leon.
Leon menginterogasi
alasan Khansa berkelahi, Leon memandangi Khansa, lalu dengan cepat Khansa
mengoceh, “Dia dulu yang memulai perkelahian ini!” Jelas Khansa seray menunjuk
Susan dengan sapu lidi arennya itu.
“Dia duluan yang ingin
menamparku! Aku hanya mencoba membela diri saja!” jelas Khansa lagi dengan nada
berapi-api.
Khansa tidak mau
mengaku salah dan membuat Susan semakin kesal, “Pelayan kecil ini sungguh
pandai berdalih, lihatlah aku terluka sampai seperti ini. Tapi, masih juga tak
mau akui salah!” hardik kesal Susan.
“Sungguh kasar dan
kampungan!” hardik hina Susan lagi.
“Hah! Bukan salah aku
kalau kau begitu lemah. Dasar! Nenek sihir,” ejek ringan Khansa menyindir Susan
sambil menganggkat
kembali sapu lidi arennya dengan posisi bersiap ingin memukuli Susan lagi.
“Kau … kau …!” Susan
sudah benar-benar dibuat kesal oleh Khansa sampai kehabisan kata-kata.
“Kau ikut aku!” tukas
Leon sambil melihat ke arah Khansa.
Leon meminta Khansa
ikut dengannya ke ruang baca. Khansa pun melemparkan sapu lidi aren yang ada di
tangganya itu ke tubuh Susan lagi. Lalu Khansa pun pergi mengikuti
langkah Leon, karena memang tadi dirinya dengan emosi yang membuncah memang
tengah mencari-cari Leon.
“Apa kau mencariku?”
tanya Leon seraya bersedekap.
Melihat Khansa mengangguk dengan tatapan marah, hati Leon sedikit tergelitik,
“katakan ada apa?”
Khansa menjawab sekaligus menyindir Leon.
“sebelumnya Chief
Susan itu memintaku membeli sekotak ******, aku ingin tanya padamu, kamu pakai
****** ukuran apa, karena Susan tidak memberitahukan tadi ketika memintaku
membelikan ****** untuk kalian bermain malam ini!?”
Leon mengeryitkan alis
dan lalu menarik pinggang Khansa yang ramping dan mendudukannya di atas meja
kerja Leon.
Leon menekan kedua
tangan di sisi kanan dan kiri Khansa, lalu mendekatkan wajahnya kepada wajah
Khansa sambil menyeringai menggoda, "Menurutmu? Ukuran berapa?
Satu tangan Khansa
memukul dada Leon, “Mengapa kau suka sekali menggodaku sampai marah!”
“Menurutmu aku sedang menggodamukah?” tanya serius Leon.
Khansa sudah tidak
bisa menahan letupan-letupan kemarahan besar dan kecil yang telah Leon buat di
hatinya lalu mulai mencurahkan satu persatu isi hatinya.
“Kau sudah membuka
cadarku, menciumku, memelukku, meletakan tanganku di pinggang kuatmu itu! Lalu
kau tidak mengakui jika sudah menggodaku!” Jelas marah Khansa.
Leon mulai mengerjai
Khansa, tidak ingin buru-buru menjawab curahatan hati istri kecilnya ini dulu,
siapa suruh selama ini dia selalu membuat hatinya gemas. Melihat Leon yang
hanya terdiam semakin membuat hati Khansa terasa panas karena marah.
“Kau sudah membuat aku
bergantung padamu, lalu dengan seenaknya kau membawa wanita lain ke rumah
kita!”
“Aku ini bukan wanita
lemah yang bisa kau tindas atau menerima KDRT dari suami! percayalah Tuan Muda
Sebastian jika kau begini, memaafkanmu pun aku tak sudi!” tukas Khansa.
Khansa merasa selama
ini sikap Leon sangat tidak bertanggung jawab dan masih mencari wanita lain.
Khansa sangat sedih dan ingin pindah dari Vila Anggrek.
“Dan aku sudah
memikirkannya dengan sangat baik, besok aku akan pergi meninggalkan Villa
Anggrek ini, hidup tanpamu aku rasa itu bukan sesuatu hal yang sulit!” jelas
Khansa.
Leon memperhatikan
perkataan dan hati Khansa nampak tidak sinkron, mulut berucap akan pergi, tapi
mata malah memancarkan binar kesedihan yang mati-matian di tahan agar butiran
bening itu tidak tumpah dari kedua matanya.
Leon sangat memahami
jika, istri kecilnya ini selalu berusaha kuat untuk tegar meski tidak setegar
seperti yanf terlihat. Leon pun sudah tidak ingin mengerjai istri kecilnya ini.
Melihat perkelahian di luar tadi antara Khansa dan Susan, maka sudah bisa
disimpulkan jika rencananya berhasil mutlak, istrinya ini sah sudah cemburu karena
kehadiran Susan di Villa Anggrek mereka.
Leon pun menjelaskan
kalau tidak terjadi apapun antara dirinya dan Susan saat dinas hari itu, “Hari
ketika Susan menjawab panggilan telpon darimu, sungguh tidak terjadi apa-apa!”
“Aku saat itu sedang
mandi, dan tanpa sepengetahuanku Susan langsung menjawab panggilan darimu itu,”
jelas Leon.
Khansa sulit percaya
dan malah mulai menginterogasi Leon lagi, “Mengapa dia bisa seenaknya memasuki
kamarmu!”
“Saat itu ada berkas
laporan yang akan dia berikan kepadaku. Jika tidak percaya bisa tanyakan ke
asisten Gery!” jelas Leon.
Saat ini, Leon
mengungkapkan perasaan kalau sudah menyukai Khansa, “Tidak ada hal lain yang
terjadi, itu semua tidak seperti yang kau sangka.”
“Ini … apa kau sengaja
membawa Susan ke Villa Anggrek, hanya agar aky cemburu?” tanya penasaran
Khansa.
“Aku sudah tahu kau
selalu cemburu! Aku hanya iseng ingin memancingnya keluar saja untuk kau akui,”
jawab Leon.
“Hah! Cemburu! Mana
ada!” jawab Sarkas Khansa.
“Khansa!” panggil Leon.
“Aku tidak pernah
menyukai Susan dan tidak akan pernah menyukainya.”
Leon pun mengikuti
sikap Khansa yang tadi sudah mencurahkan isi hatinya,“Aku menggodaimu dan
sering iseng kepadamu itu karena aku menyukaimu, ingin mendapatkan perhatian
darimu.”
“Kecuali soal ******,
itu jangan kau hitung. Itu bukanlah keisenganku,” jelas Leon.
“Dan aku tidak pernah
seperti ini terhadap wanita. Hanya kepadamu saja, tidak ada wanita lain yang
bisa membuatku seperti ini,” jelas Leon lagi.
Khansa menatap Leon
dengan mata terbelalak, perkataan pengakuan Leon seperti bulu yang sedang
menggelitiki hatinya.
“Apa tadi ini, pria
ini memahami dengan apa yang baru saja dia katakan? tadi itu bukankah itu bisa
di bilang pernyataan cinta,” pikir Khansa.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya silahkan
klik navigasi bab dibawah ini. Kamu juga
bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan kamu. Misalnya novelku, noveltoon dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar