PENGANTIN PENGGANTI (BAB 74 : MEMECATNYA )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 74 : MEMECATNYA )
Khansa tercengang, keadaan saat ini sungguh di luar dugaannya, tadi sudah jelas-jelas dirinya sudah siap berperang dengan kekuatan penuh untuk memukuli dua pasangan yang tadi dia anggap tercela itu, dan sudah memutuskan jika dirinya akan pindah dari Villa Anggrek, tidak ingin melihat wajah Leon lagi dan juga pinggang kekar Leon demi kedamaian hatinya, agar tidak terus menerus merasa sakit hati.
Tapi malah dengan
tidak di duga Leon, mengungakapkan isi hatinya, dan menjelaskan jika tidak
terjadi apa-apa antara Susan dan dirinya, Leon tidak pernah menggoda wanita
mana pun sebelumnya, dan juga tidak berniat sama sekali.
Khansa masih
memastikan lagi pada Leon,“Apa kau sedang berkata jujur? Tidak sedang
mengerjaiku?”
Khansa mengernyitkan kedua alisnya, karena masih khawatir jika ini masih salah
satu bentuk keisengan Leon kepadanya.
Leon tersenyun
dan berkata dengan suara baritonnya, “Kita bisa pergi ke rumah sakit
untuk memeriksa kalau aku masih perjaka,” ujar Leon sambil tertawa kecil dengan
manisnya.
Merasa sedang dikerjai
lagi, Khansa langsung saja mendorong tubuh Leon dengan kedua lututnya, “Dasar
kau! Masih saja mengerjaiku.”
“Mana ada tes
keperjakaan untuk laki-laki, hah!” tukas kesal Khansa.
“Kau ini … masih saja
suka mengerjaiku!” ujar khansa dengan wajah cemberut dari balik cadarnya.
Gerakan Khansa tidak
membuat Leon marah, karena hati Leon sedang berbunga-bunga. Istri kecilnya ini
baru saja memukuli wanita lain karena dirinya. Ini benar-benar membuat Leon
merasa sangat istimewa di hati Khansa, dan betapa istrinya ini sudah sangat
jatuh cinta kepadanya jika menilai dari tingkat kecemburuan yang tadi dia liat.
Karena merasa jika
dirinya ini sangat berharga bagi Khansa, Leon pun mulai bersikap romantis
terhadap Khansa, lalu memohon agar Khansa mau pacaran dengannya, “Mau ya jadi
wanitaku?”
“Jangan menolak aku!”
pinta Leon dengan nada lembut sedikit merengek.
Khansa masih terdiam,
masih berusaha mensikronkan hati dan pikirannya, selama ini dirinya sudah
menjaga diri dengan baik, tidak mengijinkan siapa pun untuk menaiki, melompat
masuk ke balik dinding hati yang sudah dia bangun dengan kuat, kokoh dan
tinggi.
Siapa sangka pria yang
bernama Leon sebastian ini, dengan tiba-tiba datang dan merobohkannya hanya
dengan melalui nada bujuknya, dengan suara baritonnya itu. Dinding pertahanan
di hati Khansa mulai runtuh karena Khansa juga merasa mulai menyukai Leon.
Khansa tidak dapat
memungkiri perasaannya lagi, jika berjauhan dengan Leon maka dia akan
memikirkannya, terkadang menunggu Leon pulang sambil menghitung detik, menit,
jam. Ketika melihat sakit Leon kambuh, sungguh hatinya juga ikut terasa
sakit. Ketika melihat Leon membawa wanita lain pulang ke rumah mereka, seketika
saja api cemburu telah membakar sekujur tubuhnya dan juga hatinya sampai panas
ke otaknya. Api cemburu itu sudah seperti bahan bakar bagi Khansa sehingga tadi
mampu membuat Khansa bersikap bar-bar kepada Susan.
Melihat Khansa
terdiam, Leon pun tersenyum, “Apa ini artinya kau mau?” tanya Leon dengan
lembut untuk memastikan sambil mencium, mengecup-ngecup tangan Khansa.
“Ya,” jawab Khansa
seraya menganggukan kepalanya dan menatapi kedua mata Leon yang sedang
menatapinya.
Leon pun tersenyum
puas dan senang, malam ini perasaan masing-masing telah terkonfirmasi. Leon
mencium kening Khansa, dan Khansa dengan patuhnya menerima ciuman yang di
daratkan di keningnya itu. Khansa mendorong tubuh Leon, sembari memberikan
peringatan keras kepada Leon.
“Aku peringatkan ya,
tidak lagi membawa wanita lain bersamamu! Ke rumah atau pun ke tempat lain,
paham tidak!” tukas Khansa.
Khansa memperingati Leon
kalau dirinya sangat galak dan bisa memukul orang dan siap memulai pertengkaran
lagi, Leon malah menyukai sifat bar bar Khansa yang menggoda sekali.
“Aku kasih tahu ya!
Karena sikap bar bar mu inilah yang membuat aku jatuh cinta kepadamu!” tukas
Leon menggombali Khansa dengan tatapan penuh kegembiraan.
“Terlihat semakin
menggemaskan,” goda Leon lagi.
Khansa merasa hatinya berbunga-bunga lalu berlari ke dalam kamar dengan membawa
rasa semanis madu dihatinya, dan wajah memerah semerah apel.
…
Susan masih belum pergi, dan langsung mendekati Leon saat melihat Leon keluar
dari ruang baca. Susan meminta Leon membantu memberi pelajaran pada Khansa.
“Leon! Apakah kau
sudah memecat pelayan kecil itu?” tanya Susan.
“Lihatlah, memar-memar
yang dia buat di kulit aku ini!” ujarnya.
“Sudah seharusnya kau
memecatnya bukan!” rengek susan lagi.
Susan berpura-pura
terlihat lemah, agar Leon merasa simpati kepadanya. Namun, Leon malah
mengabaikan dan menjaga jarak dengan Susan. Dan perkataan Leon selanjutnya
malah membuat Susan lebih terperanjat lagi.
“Chief Susan, mulai
besok kau tidak perlu datang bekerja!” ungkap Leon.
Leon baru saja meminta
Susan menghilang selamanya dan jangan muncul di hadapan dirinya lagi.
“Apa?” tanya Susan
dalam limbung.
“Kau aku pecat!” Jelas
Leon.
Susan terdiam,
terpaku, rasanya dirinya baru saja tersetrum sengatan listrik ribuan volt,
seraya menatapi dengan tatapan tak percaya kepada Leon, atas apa yang tadi baru
saja dia dengan tentang hal pemecatannya.
“Leon! Apa kau tidak
salah? Mengapa aku yang dipecat! Yang membuat onar itu pelayan kecilmu itu!”
hardik marah Susan.
Leon menatapi Susan
sambil meyeringai sarkas, lalu memberitahu tentang kebenaran status Khansa,
“Kau telah membuat kesalahan besar tadi.”
“Apa! Kesalahan apa?”
tanya Susan dengan bingung yang mendalam. Susan terpaku dan bingung dirinya
telah berbuat salah di mana, dan salah apa.
Leon memberitahu Susan
kalau Khansa adalah Nyonya Sebastian, “kesalahan terbodohmu adalah berani
merayuku di depan Nyonya Sebastian,” ungkap Leon.
“Apa! Pelayan kecil
itu … Nyonya Sebastian?” gumam tak percaya Susan lalu wajahnya pun terlihat
pucat.
…
Di dalam kamar. Khansa baru selesai mandi, Leon sudah berada di atas ranjang
sudah memakai piyama tidurnya, yang secara khusus dibuat untuknya dari bahan
baju berkualitas tinggi, karena Leon memiliki gangguan sulit tidur yang akut,
maka untuk piyama tidur ini benar-benar dipilih dari bahan terbaik dan buatan
tangan, bukan buatan pabrik. Pengaturan seperti ini diharapkan dapat membuat
Leon bisa tidur dengan lebih nyenyak.
Leon duduk bersandar
di ranjang mereka sembari menyentuh-nyentuh tabletnya, Leon masih memerika
beberapa email terkait pekerjaannya.
Khansa berdiri terpaku
melihat Leon yang sudah naik keataa ranjang besar dikamarnya itu. Selama ini
meski satu kamar tapi mereka terbiasa tidur terpisah. Satu ranjang jika hanya
karena harus memberikan kesan jika mereka adalah pasangan suami istri yang
romantis.
“Baru saja mengungkap rasa, ini tidakkah terlalu cepat jika dia sudah ingin
tidur satu ranjang,” pikir Khansa.
Leon melihat Khansa, lalu menatapi istri kecilnya itu yang tengah terdiam
terpaku memandanginya. Leon menepuk-nepuk bagian samping ranjang yang masih
kosong, “Naiklah kemari.”
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar