PENGANTIN PENGGANTI (BAB 76 : MATA PANDA)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 76 : MATA PANDA)
Leon menatapi Khansa dengan binar gairah laki-laki normal, Leon pun membenamkan wajah Khansa yang memerah dalam pelukanya. Wajah yang telah mati-matian dirasa menggodai hatinya dengan gemuruh kencang, bagai badai yang tidak bisa dia kendalikan.
Melihat Khansa memakai
cadarnya itu sudah seperti godaan baginya, apalagi sekarang, tidur seranjang
dengannya tanpa menggunakan cadar dan dengan aroma tubuh yang menggoda.
Leon mulai mau mencium
Khansa lagi, tapi Khansa menolak karena sudah ingin istirahat.
“Aku lelah,” ujar Khansa.
Ya baru saja menjadi
ayam betina yang murka, tentu saja menguras habis energi Khansa malam ini, di
tambah sebelumnya memukul tiga ekor ular dengan telak, yakni Hendra, Jihan dan
Maharani. Jadi yang Khansa inginkan hanya menidurkan tubuh lelahnya ini,
mengumpulkan energi untuk peperangan selanjutnya.
Leon hanya bisa
membaringkan tubuh Khansa di sebelahnya, lalu juga membaringkan tubuhnya di
sebelah Khansa sambil menatapi langit-langit kamarnya menatapi lampu kristal
yang menggantung mewah di atas sana. Leon meletakan satu tangannya menutupi
kedua matanya.
Leon memang sakit,
namun untuk soal yang itu, Leon sehat 100%. Leon menghela napas panjang, lalu
mulai menyelimuti Khansa, “Ayo! saatnya tidur.”
Leon hanya bisa
menyemangati hatinya, “Harap bersabar ini ujian.”
Khansa dengan cepat
pun terpulas dalam pelukan Leon, sementara Leon menciumi kening khansa sambil
menikmati aroma manis dari tubuh Khansa. Ini rasanya seperti menyiumi aroma
tubuh dan aroma mulut bayi yang tercium sangat harum.
Khansa tidur dalam
pelukan Leon. Saat ini, Hendra menelepon lagi, Leon mengangkat panggilan itu
dan menyeringai nakal.
Hendra terpaku karena
emosi yang sudah dia tahan dari sebelumnya, akhirnya Khansa mau menjawab
panggilan telponnya, “Khansa!” panggilnya.
“Dia sudah tidur!”
jawab Leon dengan nada dingin, memotong kalimat yang baru saja Hendra akan
katakan kepada Khansa.
Hendra yang mendengar
jika yang menjawab ponsel Khansa adalah suara seorang pria, dan ini adalah
tengah malam, terang saja langsung membuat Hendra membeku, sampai-sampai sesaat
tadi Hendra lupa untuk bernapas.
Berdasarkan sikap
arogan dan dominan yang Leon miliki, jelas saja dia ingin pamer dengan tuan
muda Ugraha yang sedang mencoba mengejar istri kecilnya itu.
“Tuan muda Ugraha, mohon maaf. Khansa sudah tidur. Nampaknya dia terlalu lelah
karena aktivitas malam kami tadi,” ujar Leon membual kepada Hendra.
Setelah menekankan perkataan terselubung jika Khansa adalah miliknya,
Leon dengan hati ringan langsung saja menutup panggilan telpon dari Hendra itu.
“Ingin berebut dengan
aku, hah! Mimpi saja,” ujar Leon menyeringai kesal bercampur dengan cemburu.
Lalu meletakan kembali ponsel Khansa di atas nakas lalu merebahkan dirinya
kembali sambil memeluki tubuh Khansa lagi.
“Ini adalah Khansaku,
mana boleh kau kejar, dan tidak pantas kau kejar,” hardik Leon lagi kepada
Hendra dalam hati.
…
Keesokan paginya setelah sarapan pagi bersama, Khansa mengatakan kepada Leon
jika dia ingin pergi ke rumah sakit. Khansa ingin pergi untuk menjenguk
Bibi Fida yang masih di rawat di rumah sakit.
Leon pun mengantar Khansa sampai ke rumah sakit, namun tidak ikut masuk. Khansa
bertemu Jihan di depan pintu rumah sakit.
Penampilan Jihan sudah
sangat buruk rupa, mata yang membengkak karena terlalu banyak menangis, garis
hitam di bawah matanya, biasa disebut mata panda. Nampaknya Jihan tidak tidur
semalaman. Impiannya selangkah lagi menjadi nyonya muda Ugraha telah di
hancurkan oleh Khansa dengan begitu mudahnya.
“Khansa di mana Kak
Hendra?” pekik marah Jihan.
“Dimana kau
menybunyikannya!?” tanya hardik Jihan.
“Ayo! Cepat katakan, dasar murahan!”
Jihan merasa jika
Khansa menyembunyikan tuan muda Ugraha, karena Jihan berkali-kali menghubungi
namun Hendra tidak menjawab panggilannya.
“Ayo! Cepat katakan!”
Hardik Jihan lagi dengan nada yang sudah tidak sabaran.
Sejak hari itu, Jihan
tidak bisa menghubungi Hendra, Jihan mulai marah pada Khansa, Khansa dengan
bangga berkata kalau Hendra terus menghubungi dirinya tapi tidak di jawab.
“Untuk apa aku
menyembunyikannya, panggilan telponnya yang ratusan kali itu pun aku malas
untuk menjawabnya,” ungkap Khansa sambil menyeringai.
“Apa?” tanya Jihan
tidak mempercayai perkataan Khansa.
“Apa katam? Kak Hendra
ada menghubungimu?” tanya Jihan penasaran.
Jelas saja hati Jihan
marah dan cemburu ketika dirinya ratusan kali menghubungi Hendra, tapi malah
Hendra ratusan kali menghubungi Khansa.
“Dasar j*lang, kau
pasti sudah menggunai-gunai Kak Hendra kan, kau sudah memeletnya sehingga lupa
dengan aku,” ujwe marah Jihan.
“Mengaku saja hah!”
pekik teriak Jihan lagi.
“Untuk apa aku bermain
dukun, jika aku mau maka orang pertama yg aku guna-guna adalah Fauzan, agar dia
patuh kepada aku dan aku bisa mengusir kalian ke jalanan dengan hati senang,”
tukas Khansa tak kalah marahnya.
“Jihan!” panggil
Khansa.
“Aku tak ada waktu
meladeni kau dengan kesedihanmu yang mengenaskan ini! Masih ada hal penting
yang harus aku urus,” gumam Khansa.
“Aku pergi dulu ya!”
ujar Khansa dengan sedikit nyinyir.
Lalu Khansa melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan hati senang.
Sementara, Jihan langsung mengepalkan tangan dengan geram karena merasa
sangat marah kepada Khansa, jika saja kemarahan itu ada bentuknya, maka niscaya
saat ini akan keluar kepulan asap dari ubun-ubun kepala Jihan.
…
Merasa tidak mendapatkan hasil dari aksi mencegat Khansa, maka Jihan pulang ke
rumah dengan gontai, lalu mengadu dengan sedih pada Maharani tentang kejadian
hari ini.
“Bu lihatlah bagaimana
Khansa telah mengguna-guna Kak Hendra. Bahkan Kak Hendra tidak mau mendengar
suara aku!” ujarnya sedih.
“Kak Hendra sudah
tidak mau aku lagi,” ujarnya lirih.
Jihan sangat marah, “Akan lebih jika Khansa Isvara mati bu!” tukas Jihan lagi.
Wajah Maharani nampak
buruk sekali, tak kalah buruknya dengan penampilan yang sama seperti Jihan.
Dirinya merasa Khansa ini benar-benar racun dunia, semenjak kedatangannya
kehidupan dia dan putrinya menjadi sangat kacau.
Rencana dan harapan
terbesar Maharani adalah agar putri-putrinya menikah dengan salah satu tuan
muda dari empat keluarga yang berkuasa di Palembang ini. Sudah akan selangkah
lagi berhasil, tapi racun dunia itu menghancurkannya dalam satu kali tepuk.
Saat ini Maharani benar-benar merasa menjadi seeokor lalat yang mudah dibunuh.
“Bu, kak Hendra pasti
akan mengejar Khansa lagi, lalu mereka akan kembali seperti dulu lagi,” tangis
pecah Jihan.
Maharani menenangkan
putrinya itu, lalu menyeka air mata Jihan sambil menghiburnya.
Maharani sudah mulai
merancang rencana menikahkan Jihan pada salah satu dari empat keluarga
terhebat ini telah sangat lama, hatinya juga sangat mengutuki keras
dengan lantang kepada Khansa. Semua usahanya sia-sia.
Maharani sedih melihat
Jihan dan menghibur Jihan ,“Percayalah pada ibu, kali ini aku akan membuat
Khansa menyesal atas perbuatannya."
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar