PENGANTIN PENGGANTI (BAB 78 : TERNYATA TIDAK PINGSAN )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 78 : TERNYATA TIDAK PINGSAN )
Jihan mulai membayangkan masa depannya yang indah, mengira dengan berbuat begini Hendra pasti akan menikahinya. Jihan merasa sudah menang karena telah berhasil merusak reputasi Khansa, melihat trending topik para netizen yang sudah mengatai-ngatai Khansa.
[Tak disangka dibalik
penampilannya yang polos anggun, ternyata Khansa Isvara adalah wanita liar]
[Ya sungguh Liar,
begitu haus akan sentuhan pria, sampai-sampai sekali bermain tidak cukup dengan
satu pria]
[Merasa suami sakit
keras, lalu berpikir jika apa yang dilakukan tidak ada salahnya! Wanita ini
benar-benar sakit jiwa]
[Ada yang tahu berapa
harga wanita ini? Aku ingin membookingnya untuk menemani akhir pekan aku]
[Diberi puluhan Milyar untuk menikahinya! Aku pun tidak akan sudi menerimanya]
Melihat media sosial
begitu heboh, Jihan pun bergumam sambil tertawa senang dan puas hati, “Kau
sudah kalah Khansa, aku akan tetap menjadi Nyonya Ugraha, dan kau akan jadi
pecundang selamanya.”
“Selamanya kau akan
tetap menjadi putri yang terbuang,” hina Jihan lagi.
Maharani merangkul
Jihan dan akan berbuat apa pun untuk memastikan kebahagiaan Jihan, “Selama ada
Ibu, maka Ibu akan memastikan putri-putri ibu untuk selalu menggapai kebahagian
dan kemakmuran,” janji Maharani.
“Terbaik,” puji Jihan
seraya mengedipkan matanya.
“Tapi Bu, jika ayah
tahu bahwa ibu yang ada dibalik semua ini! Apakah ibu tidak takut membuat ayah
murka?” tanya Jihan.
“Tenang saja, mati pun
ayahmu tidak akan peduli,” jawab Maharani.
“Bukankah Ibu pernah
bilang, jika ayah sangat mencintai ibunya Khansa?” tanya Jihan.
Ketika Jihan
mengatakan itu Maharani pun mendengus seraya mengatakan, “Huush … jangan
banyak tanya lagi tentang ini lagi,”
Mendengar ibunya
memperingatkan seperti itu, maka Jihan pun langsung menutup mulutnya dan tidak
bertanya lagi, dan tak ingin tahu lagi.
…
Jihan kembali ke kamar, dan kembali mengecek sosial media yang masih saja terus
menghujat Khansa. Melihat jika itu semakin heboh, maka Jihan pun semakin
berjingkrak kesenangan.
“Selamat menikmati,
dasar wanita bodoh,” ejek Jihan lagi.
Tidak lama kemudian
Fauzan pulang. Maharani melihat raut wajah yang muram sekali dan jelas kalau
malam ini Fauzan sudah mengetahui aib Khansa yang tengah menjadi trending
topik.
Berdasarkan tempramen
Fauzan yang sangat egois, maka adalah sebuah hal yang mudah untuk memancing
kemarahan Fauzan terkait foto skandal fulgar Khansa.
Maharani pura-pura
tidak tahu dan membakar-bakar Fauzan yang sudah jelas-jelas marah, “Mengapa
wajahmu nampak marah? Apa aku ada buat salah?”
“Khansa, anak sial itu!” jawab Fauzan dengan geram.
“Ada apa lagi? Kali ini apa yang sudah dia lakukan lagi?” tanya Maharani
sembari membantu Fauzan melepaskan dasinya dan jas kerjanya.
Fauzan menggulung
lengan kemejanya, seraya berkata “Foto-Foto laknat anak itu sedang viral
dan telah menjadi trending topik.”
“Nah kan! Benar apa
kataku. Jika anak itu memiliki simpanan, anak itu benar-benar liar,” hina
Maharani.
“Lihatlah! Masalah ini
sudah benar-benar menjadi serius,” tukas Maharani memanas-manasi Fauzan.
“Apa yang akan kau
lakukan tentang ini!?” tanya Maharani ingin tahu.
“Aku sangat marah
kepadanya, apalagi satu pun panggilan telpon dariku tidak dijawabnya,” jelas
Fauzan.
“Siapa tahu di luar
sana dia malah masih bersenang-senang!” hasut Maharani kepada Fauzan.
“Apa kau memiliki cara?” tanya Fauzan.
“Ah itu … jika kau mau
mendengarkan aku maka itu akan sangat mudah jika kau mau menyelsaikan masalah
ini tanpa harus merusak reputasimu, dan juga reputasi keluarga Isvara,” jawab
Maharani.
“Katakan idemu!” pinta
Fauzan.
Maharani pun
mengatakan idenya, Maharani meminta Fauzan mengadakan konferensi pers besok
untuk mengumumkan putus hubungan keluarga dengan Khansa.
Fauzan berpikir
sejenak, lalu setuju dan berkata, “Kau saja yang mengaturnya!”
Mendengarnya jelas
telah membuat hati Maharani membuncah, dengan dibuangnya Khansa dari silsilah
keluarga Isvara, ini jelas akan membuat kedudukan kedua putrinya akan menempati
nomor satu dan nomor dua, nona muda yang paling sangat diinginkan tanpa saingan
yang sepadan.
…
Di perusahaan.
Hansen datang bertamu ke ruangan Leon, Hansen penasaran Leon sedikit pun tidak
peduli dengan berita mengenai Khansa yang menggemparkan itu.
“Hei! Mengapa kak Leon bisa setenang ini?” tanya Hansen penasaran.
Leon hanya bisa
tersenyum datar pada Hansen, "Dia tidak suka jika aku mencampuri
urusannya, dia bisa menindas siapa pun yang dia mau, jika ada yang ingin
perhitungan dengannya, maka aku yang akan menghadapi mereka.
“Hah! Sejak kapan kak
Leon, berubah menjadi lebih manis daripada gula,” gumam Hansen sambil mengusap
tengkuknya karena merasa merinding.
Meski diledek oleh Hansen, Leon tidak peduli karena Khansa pernah berkata agar
Leon jangan mencampuri urusan pribadinya.
Saat ini Khansa sedang
bersama Emily, "Hei putri tidur bangunlah! Lihat ini kacau sekali. Kau
telah menjadi trending sensasi skandal No.1 di Kota Palembang ini.
“Emily ini masih pagi lho,” ujarnya.
“Kau ini! Ingin
bersaing dengan aku kah? Atau ingin mengambil pekerjaan aku?” Gumam Emiliy yang
merasa belakangan ini betapa Khansa sering sekali menjadi trending topik.
“Ih … ada apa? Kau ini
sedari dulu suka sekali begaduh dengan aku!” Protes Khansa kepada Emily.
"Hei! Ini lho,
kau masuk dalam pencariaan trending topik No.1 sejagat Palembang ini.
“Apa sih!?” tukas
Khansa lagi.
Emily memaksa Khansa
untuk melihat ponsel di tangannya. Khansa mengambilnya dengan rasa malas, lalu
hanya tertawa saja dan melemparkan ponsel Emily ke samping ranjangnya.
“Di mana-mana,
pemenang itu tertawa paling akhir,” ujar Khansa.
Emily pun membiarkan
teman baiknya itu melanjutkan tidurnya, “Terserah kau saja … aku pergi
sebentar, ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
Setelah Emily pergi,
Khansa pun mengibaskan selimutnya, lalu mengambil ponselnya dan menekan satu
nomor.
Di ruang kerja Leon, nampak
sedang serius menatapi berkas-berkasnya. Mendengar dering panggilan masuk di
ponselnya, Leon pun meletakan penanya dan langsung saja memjawab panggilan itu.
Ponsel yang Khansa hubungi adalah ponsel yang memang hanya menyimpan nomor
Khansa saja.
“Halo!” jawab Leon.
“Ah ternyata kau tidak
pingsan,” jawab Khansa.
“Pingsan?” tanya Leon.
“Ya pingsan! Karena
diselingkuhi! Seperti apa yang dikatakan di berita-berita itu,” sambung jawab
Khansa.
“Bukankah aku sedang
menjawab panggilan telponmu!” tukas Leon.
“Ah ya! jika begitu
tak akan ganggu lagi, kau pasti sedang sibuk,” ujar Khansa.
“Aku akan bersibuk
juga,” ujarnya lagi.
“Sibuk apa?” tanya
Leon.
“Tentu saja bermain,
aku masih muda, tentu hal paling menyenangkan adalah bermain,” jawab Khansa
dengan sedikit tertawa.
“Masih muda,” pikir
Leon.
Tiba-tiba saja Leon
memikirkan tentang perbedaan usia mereka, Leon menghela napas memikirkan
istrinya itu memang masih sangat muda.
Khansa sedikit merasa
lega, karena mengetahui jika Leon tidak terpengaruh oleh berita-berita miring
tentangnya.
Khansa meletakan
ponselnya diatas nakas sambil berkata “baiklah, saatnya menunggu pertunjukan
besar.”
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar