PENGANTIN PENGGANTI (BAB 8 : SUGAR BABY )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 8 : SUGAR BABY )
Khansa memanfaatkan kesempatan ini untuk “menjelaskan” kepada Leon bahwa Jihan lah yang mengatakan Leon sebagai sugar baby. Sambil menunggu kue pesanan Leon, Khansa sedikit membalas Jihan karena sudah bersiasat atas dirinya, menjahati dirinya, sudah menjualnya pada pak Arman.
“Kau jangan
naksir baby sugar aku yah! Dia ini hanya milik aku lho,” jelas Khansa
seraya bersandar di bahu Leon.
“Minta saja pada
Ibumu, supaya menjodohkan kau juga dengan pria kaya … emm … contohnya kaya Pak
Arman,” tukas Khansa.
“Kenalkan? Dengan Pak
Arman?” sindir Khansa.
Jihan, “…”
Leon memandangi lagi
istri kecilnya ini, tak menyangka jika gadis kecil ini malah pandai membully
balik. Leon pun tersenyum tampan, merasa puas dengan istri kecilnya ini.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kue pun telah selesai dibuat. Mereka
berdua pun pergi meninggalkan toko.
Jihan ditertawakan
oleh sahabatnya itu Jane, karena harus memanggil Khansa dengan sebutan nenek,
dan malah meledeki Jihan karena ternyata Khansa memiliki sugar baby yang sangat
tampan.
“Kau ini benaran deh,
apa mata kau ini buta!” ledek Jane.
“Pria setampan
itu masa kau bilang dia jelek, botak dan gendut,” tukas Jane seraya
tertawa sampai perutnya sakit.
Jihan, “…”
“Sudah tak mau main
lagi,” jawab kesal Jihan seraya bergegas pergi juga dari toko kue.
“Hei! Ini siapa yang
akan bayar kuenya,” teriak Jane.
Jihan tidak menggubris
teriakan Jane, malah masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat untuk
kembali pulang ke rumahnya.
“Issh …” gumam Jane
mengkesal lalu mengeluarkan kartunya untuk membayar kue yang bahkan tidak dia
pesan.
Pemilik toko tidak
berani menjual kue kepada mereka lagi karena mereka telah menyinggung Leon,
pemilik toko malah memutuskan tidak mau menjual kue yang sekarang kepada
mereka. “Maaf Nona kue ini tidak dijual,” ujar si pemilik toko.
“Eh tapi! Kenapa!?”
tanya bingung Jane.
“Ini akan aku beri makan
pada anjing peliharaan di rumah,” jawab enteng si pemilik toko.
“Sialan! Bapak tua ini
anggap status peliharaannya itu lebih tinggi dari aku,” gerutu Jane mengkesal.
“Ya sudah, aku tidak
akan datang lagi ke toko kue ini!” hardik Jane.
“Silahkan Nona, pintu
keluarnya disana, dan kedepannya kami tidak menerima kedatangan kalian lagi,”
jelas si pemilik toko dengan nada angkuh.
Jane keluar dari toko
kue tersebut dengan hati yang meradang. “Sial … ini semua karena gadis kampung
yang bernama Khansa itu,” gerutu Jane merutuki Khansa.
“Awas saja kau!” ancam
Jane lagi.
……
Sementara itu, di
dalam mobil saat perjalanan pulang, Leon mengeluarkan kartu kartu black
goldnya dan memberikannya kepada Khansa. Dia memberitahu
Khansa mungkin Khansa tidak akan mampu menghidupinya, tapi dia pasti mampu
menghidupi Istrinya, Nyonya Sebastian. Jantung Khansa berdegup kencang
ketika mendengar kata tersebut.
“Simpan kartu itu di
dompetmu!” ujar Leon.
Khansa, “…”
Memasukan kartu itu
kedalam dompetnya, dengan masih tetap terdiam karena hatinya masih berdegup
kencang. Sesampainya di rumah, nenek menanyakan keadaan kepulangan mereka ke
rumah keluarga Isvara.
“Apa sudah bertemu
dengan Kakek?” tanya Nenek Sebastian.
“Ya Nek,” jawab
Khansa.
khansa
memberikan kue yang tadi baru saja dibeli kepada nenek, nenek suka memakan kue,
Leon meminta nenek untuk tidak makan kebanyakan.
“Nek, jangan terlalu
banyak, itu sangat manis. Ingat kesehatan nenek,” nasehat Leon.
Khansa juga ikut
memakan kue tersebut, sambil mendengarkan suaminya ini sedang menasehati
Neneknya. Tanpa sengaja cream pada kue tersebut menempel di sudut bibir Khansa.
Melihat hal itu, baru
saja Leon ingin menghapus cream yang menempel itu, saat Khansa menyantap kue
tersebut, tapi malah Khansa mimilih menjilatnya dengan lidahnya sendiri.
Lalu sedikit menjulurkan lidahnya, sedikit meledek Leon sambil mengeluarkan
suara tawa kecilnya.
“Hiish …” gumam Leon.
Leon merasa jika
Khansa sedang menggodanya, Leon mengendurkan dasinya dan beranjak naik ke
lantai atas sambil menggelengkan kepalanya, sedikit tidak percaya jika dirinya
baru saja diledek oleh gadis kecil. Namun, hatinya tidak merasa marah, malahan
merasa lucu dan senang.
Khansa melihat kepala
pelayan membawa seorang pak tua ke lantai atas, dia menanyakan pada nenek siapa
orang itu. Nenek memberitahunya kalau itu adalah Tuan Suryo, beliau datang
sebulan sekali untuk mengobati penyakit insomnia Leon. Mendengarnya Khansa
segera naik ke lantai atas. Namun, terdengar keributan dari ruang kerja Leon,
Khansa terkejut melihat kondisi ruang kerja sangat berantakan, Leon sedang
mengamuk, peralatan Tuan Suryo juga berserakan di lantai, penyakit Leon kambuh
lagi.
Dia mengusir semua
orang.
Tuan Suryo baru saja ingin keluar dari dalam ruangan kerja Leon, Khansa
menahannya lalu menanyakan gejalanya kepada Tuan Suryo. Merasa jika tidak aman,
Tuan Suryo malah menarik Khansa keluar dari ruang kerja Leon.
“Sebaiknya Nyonya
diluar saja, di dalam berbahaya, khawatir Nyonya terluka,” saran Tuan Suryo.
Khansa sangat keras
kepala, bukannya menurut malah segera masuk lagi ke dalam ruang kerja
tanpa mendengarkan bujukan kepala pelayan dan Tuan Suryo.
Karena jika membiarkan Leon mengamuk dan insomnia berkelanjutan, maka akan
memungkinkan munculkan kepribadian kedua, hingga waktunya nanti Leon yang
sekarang akan menghilang.
Akhirnya Kepala
pelayan membiarkannya masuk. Melihat Khansa masuk ke ruangan kerjanya, Leon
menjadi marah, Leon malah meneriaki Khansa, dan tetap menyuruhnya keluar.
“Keluar!” hardiknya dengan marah.
“Keluar! Jangan sampai
aku mengulang kata yang sama lagi untuk ketiga kalinya!” teriak Leon lagi.
Jika Leon mengulang
kata yang sama untuk ketiga kalinya, maka akibatnya akan sangat fatal nanti.
Namun, Khansa
tidak takut, dia tetap melangkah maju, kemudian didorong oleh Leon hingga
terjatuh, bagian pelipisnya menabrak pas kena di sudut meja.
“Shhh …” Khansa
mendengus kesakitan, dia menutupi luka dengan tangan, darah segar mengalir dari
celah jari-jarinya.
Khansa menatapi
tangannya yang sudah diwarnai oleh darah kental yang keluar dari dahinya itu.
“Leon,” panggilnya
dengan suara melirih.
Khansa bangun lagi,
dan malah ke arah Leon lagi, tapi kali ini Khansa langsung saja memeluki Leon.
“Tenanglah! Tenanglah,” bisik Khansa demgan suara lembutnya.
Wangi tubuh Khansa
yang seperti.parfum itu sedikit membuat Leon menjadi tenang. Khansa berpikir
ini saatnya untuk mengambil kendali agar Leon tidak kehilangan dirinya dan
berubah menjadi brutal.
“Nah … nah sudah,
sudah tidak apa-apa,” ujar Khansa seraya menepuki punggung Leon dengan lembut.
Dan benaran saja, itu
berhasil membujuk Leon untuk menjadi lebih tenang. Leon malah merangkul balik
Khansa. Mencium wangi Khansa dalam-dalam. Wangi itu membawa ketenangan
tersendiri bagi Leon.
Setelah merasa Leon
sudah jauh lebih tenang, maka Khansa pun melepaskan pelukannya. Khansa membelai
lembut kening suaminya itu, menghapus sedikit keringat yang ada di sana.
“Semua akan baik-baik
saja,” hibur Khansa seraya menatapi kedua mata Leon, memperhatikan apakah
kepribadiannya yang brutal tadi sudah benar-benar menghilang.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar