PENGANTIN PENGGANTI (BAB 81: TIDAK MAU MELIHATNYA LAGI )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 81: TIDAK MAU MELIHATNYA LAGI )
Maharani melotot kejam pada Jihan dan menutup mulut Jihan, tapi terdengar oleh seorang awak media. Maharani menarik Jihan untuk pergi juga dari sana. Saat mereka bertiga hendak pergi, secara kebetulan sedari tadi ada reporter yang sedang berdiri tak jauh dari mereka, matanya langsung saja terbelalak ketika mendengar percakapan ibu dan anak itu.
“Ya ampun! ternyata
Nyonya Isvara dalam dalang dari skandal ini!” ujar reporter tersebut.
Fauzan yang mendengar
ini, langsung saja menghentikan langkah kakinya, Maharani pun terkejut dengan
wajah yang memucat, Hatinya mengatakan kali ini dirinya akan benar-benar habis.
Para wartawan langsung saja mengerumuni Maharani.
Dalam sesaat, seluruh
dunia tahu kalau Maharani sang ibu tiri lah pelakuknya. Para netizen mulai
mengkritik Maharani, Fauzan juga diserbu berbagai pertanyaan dari awak media
tentang perbuatan Maharani.
[Jelas saja pelakunya
adalah ibu tiri, Maharani yang ingin menguasai harta bagian Khansa]
[Sungguh ratu drama
sekali wanita ini, sangat pandai menyusun skenario]
Para wartawan pun
sibuk mengambil foto-foto Maharani, sambil mendorong mikrofon mereka di depan
Maharani sambil melontarkan berbagai pertanyaan.
[Mengapa kau melakukan
semua ini? Bersengkokol membuat foto skandal, menjebak Khansa Isvara?]
[Kalian sudah membuang
Khansa ke pedesaan,lalu menjadi pengantin pengganti untuk menggantikan posisi
putrimu dalam perjodohan keluarga. Dia tidak berbahaya, mengapa kalian malah
menjahatinya]
Maharani hanya terdiam
mendengar segala macam pisau pertanyaan yang di lemparkan kepadanya dengan
terang benderang. Para awak media pun ikut melirik ke arah Fauzan Isvara dan
kembali menanyakan hal yang kurang lebih sama.
[Tuan Isvara! Apakah
kau benar-benar tidak tahu bahwa Nyonya Isvara adalah pelakunya?]
[Apa pendapatmu
tentang skenario yang dibuat oleh Nyonya Isvara ini]
Tiba-tiba saja
konfrensi pers yang awal mulanya ingin menjelekan Khansa berubah drastis menjadi
membuka aib pasangan isvara itu, Ayah yang hanya setengah hati mencintai
putrinya itu. Fauzan menatapi Maharani dengan tatapan terkejut karena mendengar
pernyataan-pernyataan para awak media. Tidak pernah terpikir dalam pikirannya
bahwa istrinya itu adalah dalang dari skandal foto fulgar ini.
Keadaan belum mereda,
tapi malah ada berita lain yang lebih menghebohkan lagi. Baru saja terposting
berita Maharani ketika masih baru memulai debutnya sebagai. Berita itu
menuliskan siapa yang waktu itu menjadi pendukung Maharani untuk bisa melangkah
menjadi artis. Pria itu adalah orang yang baru saja ditangkap oleh pihak
kepolisian baru-baru ini karena kasus pelac*ran di kalangan artis. Para awak
media pun kembali berspekulasi jika pria itu adalah kaki tangan Maharani di
dalam menjebak Khansa.
[Bukankah pria ini
adalah soponsor utama Maharani di waktu dulu]
[Sudah pasti mereka
sudah bersengkokol di dalam menjebak Khansa]
[Sungguh benar-benar
kejahatan yang teroragnisir dengan baik]
Mendegar bisik-bisik
awak media terang saja membuat Fauzan benar-benar telah merasa kehilangan
reputasinya karena hal ini, “Apa ada yang ingin kau jelaskan tentang ini?”
Maharani pun
tercengang takut melihat tatapan Fauzan yang mengerikan itu, ya reputasi adalah
segala-galanya bagi Fauzan, dan hari ini Maharani malah menghancurkannya. Emily
merasa geram dengan Maharani yang sedari lama telah menjahati Khansa, karena
itu Emily langsung mencari aib Maharani dan langsung saja menyebarkannya. Kali
ini Emily memakai rumus pepatah “sudah terjatuh tertiban tangga pula.”
Pikiran Maharani jadi
kosong, berani yakin kalau Emily sedang membantu Khansa. Semua ini jebakan
Khansa. Maharani tercengang dan tiba-tiba tidak tahu harus bagaimana berbohong,
lalu mengulur waktu agar dibahas dirumah.
“A-aku akan
menjelaskan ini padamu nanti, ayo! Kita pulang dulu,” ajak Maharani sambil
ingin menggandeng tangan fauzan.
Fauzan tidak mendengar
penjelasan Maharani dan langsung memukul Maharani dengan kejam di tempat juga
dengan sangat kasar sampai terjatuh di lantai.
“Aargh!” teriak
Maharani.
Maharani merasa kali ini dirinya benar-benar akan tamat, Maharani menyeka
bibirnya yang berdarah itu. Fauzan tidak ingin bertemu lagi dengan Maharani dan
langsung pergi.
“Aku tidak ingin
bertemu denganmu lagi!” ujar fauzan seraya langsung pergi meninggalkan
Maharani.
Maharani tidak pernah
merasa begitu sedih, Maharani berdiri sambil menghapus lagi sudut bibir yang
masih mengeluarkan darah dan pipinya yang memerah karena tamparan telapak
tangan Fauzan. Sementara itu, para awak media masih terus mengambil foto-foto
Maharani yang menyedihkan itu.
Beberapa orang dari
kerumunan itu semakin menggebu mengambil foto Maharani, Jihan langsung saja
mendorong-dorong awak media yang terlihat brutal tersebut. Tidak berhasil malah
membuat Jihan juga terjatuh dan ikut terinjak-injak. Keadaan mereka berdua saat
ini sangatlah tidak sedap di pandang dan tidak dihargai.
“Pergi kalian!” pekik
Jihan kepada para awak media itu
.
Jihan mencoba memapah Maharani, mereka berdua saling berangkulan untuk bisa
berjalan, namun awak media masih belum mau melepaskan ibu dan anak tersebut,
bahkan ada salah satu dari mereka yang menjambak rambut jihan sangking gemas
kesalnya pada kedengkian ibu dan anak itu.
“Arggh…” teriak Jihan
mendengus kesakitan.
“Lepas! Pergi kalian!”
teriak Maharani seraya menolong Jihan dan mengusir-usir orang yang mengerumuni
mereka.
Para awak media merasa
senang mendapatkan berita besar hari ini, skandal luar biasa yang pernah mereka
lihat terjadi di Kota Palembang ini. Mereka bahkan berasumsi sendiri jika
fauzan Isvara akan menceraikan maharani. Bahkan ada beberapa dari mereka yang
menghardik Maharani secara kasar karena mereka gemas melihat wanita cantik
namun berhati iblis dan gila. Mereka menganggap satu tamparan yang fauzan
berikan tadi tidaklah cukup.
Foto-foto menyedihkan
ibu dan anak tersebut segera saja menjadi topik yang Viral. Sementara itu di
Bali, Khansa sedang menyentuh-nyentuh layar ponselnya membaca berita tentang
Maharani dan Jihan.
“Sudah kubilang bukan?
Pemenang tertawa di akhir,” ujar Khansa.
Khansa juga membaca
berita tentang pria yang dulu menyokong maharani, dan di curigai sebagai orang
yang bersengkokol untuk menjebak dirinya, “Wanita ini memang benar-benar sangat
jahat!”
“Heran, kaki tangannya
ini banyak sekali, pendukung kejahatannya,” gumam kesal Khansa.
Sebuah pesan masuk ke
ponsel Khansa, melihat nama Emily yang tertera di layar Khansa pun langsung
membacanya, “Bagaimana aku pintar kan?”
Khansa pun tersenyum
membaca pesan dari sahabat baiknya itu, mengerti maksud pesan dari Emily adalah
minta di puji karena sudah melakukan hal yang keren untuk Khansa.
“Ya, ya kau memang
temanku yang paling pintar,” isi pesan Khansa untuk Emily.
“Juga cantik,” isi
pesan Emily lagi.
“Hissh … narsis sekali
anak ini,” gumam tertawa Khansa.
Sementara itu di
tempat konfrensi pers, awak media masih saja menjepret dengan heboh. Maharani
berteriak dengan keras dan menyedihkan, “Jangan foto lagi! Tidak boleh ambil
foto!”
“Security! Security,
cepat kemari!” Teriak Maharani lagi dengan nada tidak tahan dan tidak sabaran.
ππππππππππππππππππππ
Bersambung

Komentar
Posting Komentar