PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 82 : PRIA SEPERTI APA )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 82 : PRIA SEPERTI APA )
Para awak media langsung menunjuk-nunjuk Jihan. Ibu dan anak itu meringkuk seperti tikus jalanan yang dimarahi dan dipukul semua orang. Ketika Jihan berteriak agar menjauhi mereka, para awak media malah balik mengatai-ngatai ibu dan anak itu .
[Jihan ini, juga sama
jahat dan liciknya dengan ibunya, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya]
[Yang aku dengar ibu
dan anak ini juga pernah menjual Khansa kepada Tuan Arman, hanya demi sebuah
investasi untuk perusahaan Isvara]
[Mereka berdua ini
memiliki hati seperti hati penyihir jahat]
[Berhati hitam dan
busuk]
Dengan cepat
sekelompok security muncul dan memaksa untuk menyelamatkan ibu dan anak yang
sudah terluka dengan menyedihkan itu. Setelah dengan susah payah menyelamatkan
ibu dan anak tersebut, para petugas itu meminta Jihan dan Maharani agar segera
pergi meninggalkan tempat konfrensi itu. Para petugas itu juga memiliki
beberapa bekas cakar di wajahnya karena mencoba menahan serangan untuk Jihan
dan Maharani.
Mereka segera menuju
ke mobil mereka, dan segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat yang
kacau itu.
…
Maharani dan Jihan sampai di rumah, Jihan takut Fauzan marah dan akan mengusir
mereka keluar dari rumah, “Bu Ayah benar-benar marah kali ini! Apakah ayah akan
mengusir kita?”
“Bagaimana ini!
Bagaimana jika Ayah akan mengusir kita?” ujar Jihan lagi dengan nada Khawatir.
“Kemana kita akan
pergi nanti?” tanya Jihan sambil menggigit-gigit bibirnya.
Maharani pun tidak
pernah menyangka jika dia akan berakahir seperti ini, Maharani merasa sudah
mengorbankan seluruh masa mudanya demi Fauzan dan demi keluarga Isvara. Karena
itum Maharani tidak bisa dan tidak rela kalah dari Khansa, dan Maharani juga
enggan mengaku kalah dari Khansa, anak yang dianggapnya kampungan itu.
Maharani tidak
menyangka jika Khansa malah akan balik menipunya dengan membuat adegan dramatis
seperti itu, lalu membuatnya menerima konsekuensinya. Berita tentang dirinya
semakin Viral, Ibu dan anak itu tidak berani pergi keluar rumah, dan Maharani
jelas tidak ingin meningalkan kediaman Isvara, karena status Nyonya Isvara yang
sah adalah miliknya jadi untuk apa dia pergi.Khansa yang seharusnya pergi dari
keluarga Isvara, bukan dirinya.
Maharani mengambil
tangan Jihan, lalu menepuk-nepuknya, “Sudah tak usah kahawatir lagi, Ibu pasti
akan menyelesaikan masalah ini !” ujarnya menghibur Jihan.
Belakangan ini Fauzan
sering tidak pulang, akhir-akhir ini Fauzan lebih memilih tidur di luar.
Maharani menelepon Fauzan berkali-kali, tapi Fauzan tidak menjawbanya. Maharani
menutup teleponnya, dia sangat marah, sampai-sampai ingin melempar ponselnya.
“Semua ini karena anak
sial itu,” hardik marah Maharani.
“Tunggu saja! Aku akan
segera menghancurkanmu. Aku adalah Maharani, apa yang aku inginkan harus bisa
dan selalu akan aku dapatkan. Bukankah aku sudah berhasil merebut status posisi
ibumu itu Hah!” gumam kesal Maharani, meracau sendiri.
…
Saat ini Khansa sedang berlibur ke Bali, menikmati hari yang menyenangkan
bersama Emily. Mereka berbincang sembari becanda, berjalan santai, “Tuan Isvara
benaran nampak marah kali ini, ini pertama kalinya aku melihat dia sekasar itu
kepada Maharani,” ujar Emily.
“Apa kau lihat, Tuan
Isvara menampar Maharani?” ujar Emily dengan nada senang.
“Ya dia menamparnya,
namun satu tamparan itu tidak cukup menggantikan penderitaan yang telah aku
tanggung selama ini.” ujar Khansa melirih.
“Apa menurutmu dia
akan menceraikan Maharani?” tanya Emily seraya menghentikan langkahnya.
“Emm, sepertinya belum
akan! Aku sangat mengenal Fauzan Isvara ini. Selama kau masih berguna untuknya
maka dia tidak akan membuangmu. Lihat saja aku! Diasingkan bertahun-tahun.
Namun, hanya karena aku berguna untuknya maka dia memanggilku kembali,” jelas
Khansa.
“Ya analisamu itu ada
betulnya juga,” ujar Emily.
“Lalu apakah kau sudah
bersiap akan untuk peperangan selanjutnya?” tanya Emily.
“Tentu saja, bukankah
aku sudah mengatakan aku kembali karena ingin mengetahui tentang kematian ibuku
waktu itu, jadi tentu saja aku sudah siap dengan segala konsekuensinya?” jawab
lugas Khansa.
“Termasuk jika kau
harus kehilangan suamimu pada akhirnya nanti?” tanya Emily dengan nada
Khawatir.
Mendengar pertanyaan Emily, bibir Khansa yang sedari tadi lugas menjelaskan ini
dan itu, tiba-tiba langsung saja terkatup. Enggan untuk menjawab, tak mau
menjawab.
Khansa bersedia
menikah dengan tuan muda Sebastian karena memang ingin meminjam status keluarga
Sebastian untuk mencapai tujuannya.
“Aku bukan wanita yang
hanya mengandalkan perlindungan pria untuk hidup,” jawab Khansa dengan yakin.
“Bagus jika begitu,”
ujar Emily yang berpikir jika akan terjadi perpisahan antara Khansa dan Leon,
maka itu tidak akan membawa kepedihan yang mendalam bagi sahabat baiknya ini.
“Tapi! Apa kau akan
benar-benar menyerah jika keadaan membuatmu harus berpisah dengan suamimu?”
tanya Emily lagi penasaran.
Khasa terdiam lagi,
Lalu Emily mengemukakan pendapatnya lagi. “Jika ada cinta, maka pertahankan!
Jika bersamanya kau malah mendapatkan sakit hati maka tinggalkan!” nasehat
bijak Emily.
“Hei sejak kapan kau
jadi selembut ini, bijak sekali hari ini!” gumam Khansa sambil tertawa.
Emliy yang dia kenal
tidak akan segan membalas yang mencubitnya lebih dulu, bahkan bisa membalas
dengan daya dua kali lipat. Tapi hari ini malah bisa mendengarkan nasehat manis
yang keluar dari mulutnya.
“Pikirkanlah apa yang
aku katakan ini, jika cinta jangan menyiksa diri sendiri, jika cinta itu
menyakitimu maka pergilah. Cinta tidak akan membuatmu menangis perih! Ingat
itu, jika seperti itu namanya bukan cinta, tapi cinta bertepuk sebelah tangan!”
nasehat Emily lagi.
“Emm … apa itu adalah
naskah skenario drama terbarumu?” tanya Khansa sedikit mencandai Emily.
“Ihh kau ini ….
Mengapa sering kali tak mau dengar apa kataku!” gumam Emily menggemas dengan
teman baiknya ini.
“Padahal akan menjadi
lebih mudah jika kau langsung saja meminta bantuan tuan muda Sebastianmu!”
“Sudah aku katakan,
aku tidak ingin mellibatkan tuan muda Sebastian terlalu dalam ke permasalahan
aku!” jelas Khansa lagi.
“Ya,ya baiklah,
berdebat denganmu maka aku akan selalu kalah,” tukas Emiliy.
Mereka tiba di Vila,
Khansa langsung saja berbaring di ayunan rotan. Khansa hari ini memakai gaun
berwarna merah, ini semakin menonjolkan kulit putihnya, wajah kecilnya yang
begitu menawan, terlihat acuh tak acuh dengan daya pikat yang riang.
Jika Khansa tidak
pernah di asingkan ke desa, maka bisa jadi saat ini Khansa akan menjadi pesaing
Emily di dunia entertainment, sebagai primadona yang sangat diingini.
Emily langsung melihat
ke arah Khansa, hatinya terasa meleleh melihat kecantikan kawan baiknya ini,
sambil berpikir apakah tuan muda Sebastian akan berhasil menawan teman baiknya
ini untuk selalu berada di sisi tuan muda Sebastian, jika tidak maka pria
seperti apa yang bisa menahannya?

Komentar
Posting Komentar