PENGANTIN PENGGANTI (BAB 83 : IKAT PINGGANG)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 83 : IKAT PINGGANG)
“Hei! Hari nampak mendung. Ayo! Masuk.”
Emily mengajak masuk
ke villa resort, Emily mulai membahas lagi bagaimana kelanjutan nasib Maharani,
“Em … apakah analisamu itu akan benar terjadi?”
“Tentu saja! Aku
adalah bukti nyatanya,” Jawab Yakin Khansa.
“Mengapa ayahmu itu
bodoh sekali!” hardik Emily.
“Pelaku dan bukti
kejahatan sudah ada di depan mata. Tapi, malah tidak mau melihatnya!” gumam
kesal Emily.
“Gajah di depan mata
tidak terlihat, semut yang jauh terlihat” Emily mengumpamakan Maharani sebagai
gajah dan Khansa sebagai semut.
Jelas-jelas Maharani
yang berlaku jahat, tapi Fauzan Isvara enggan melihat kesalahannya.
Sementara, Khansa yang tidak melakukan apa-apa malah selalu disalahkan.
“Ayahmu itu, orang
terbodoh di dunia,” hardik Emily lagi.
Emily masih penasaran
kenapa Khansa tidak membiarkan Leon menghabisi semua musuh-musuh Khansa.
“Malam itu, kenapa kau
malah menelpon aku?” tanya Emily.
“Karena nomormu adalah
nomor pertama yang ada di daftar nomor darurat aku,” jawab ringan Khansa.
“Mengapa bukan nomor
suamimu?” tanya Emily.
“Aku belum sempat
mengganti, menyeting ulang,” jawab sembarang Khansa.
“Bagaimana cara kau
melepaskan diri dari mereka, kau pasti tidak pingsan bukan saat itu?” tanya
Emily dengan penasaran.
“Tentu saja tidak!”
jawab Khansa dengan bangga.
“Ketika mereka mencoba
membiusku aku mencoba menahan nafas agar indera penciumanku tertutup. Sedari
kecil aku sudah akrab dengan tumbuhan herbal, sehingga aku tahu mana makanan,
minuman,
dedaunan sayur yang bisa menperkuat paru-paru kita,” jelas Khansa.
“Jadi kau benar-benar
menahan napas sampai lebih dari satu menit? Karena itu kau tidak pernah
pingsan.” ujar Emily.
“Kau ini! Apa kau baru
sehari ini mengenal aku hah!” Jawab Khansa lagi atas pertanyaan Emily.
Emily berpikir, sedari
kecil Khansa akrab dengan tanaman obat, jadi kemungkinan besar dia jadi kebal
dengan obat bius itu, karena Khansa juga kebal terhadap sebagian racun, jadi
wajar jika obat bius itu menjadi sia-sia.
“Jadi waktu itu kau
hanya berpura-pura pingsan?” tanya Emily lagi.
“Tentu saja,” jawab
Khansa dengan tertawa bangga.
“Kau ini benar-benar pintar,” puji Emily seraya memberi tanda jempol dan
mengedipkan matanya.
“Eh tapi, dengan nama
besar keluarga Sebastian, maka menolongmu akan menjadi hal yang sangat mudah
bagi mereka. Ayolah! Suamimu itu pasti akan mau menolongmu, istrinya,” ujar
Emily membujuk lagi.
Kahnsa masih saja
mengggelengkan kepalanya. Khansa hanya ingin mandiri dan mengandalkan diri
sendiri, Emily tidak berhasil membujuk Khansa untuk merubah pemikirannya.
“Hiish … kau ini
benar-benar berkepala batu!” Gumam Emily seraya melemparkan satu bantal sofa ke
wajah Khansa.
Khansa melempar balik,
bantal yang ada di tangannya, “Ayo temani aku membeli hadiah untuk Leon.”
“Dalam rangka apa?”
tanya Emily.
“Tidak ada apa-apa,”
jawab Khansa.
“Masa!” ujar Emily
sedikit menggoda.
“I-itu … waktu itu dia
sudah memberikan aku Flash, harimau benggala. Jadi sekarang aku juga ingin
membelikan hadiah untuknya,” jawab Khansa sembarang.
“Harimau?” tanya
Emily.
Khansa menganggukan
kepalanya, lalu Emily kembali berkata, “Ketika kita memberikan hadiah kepada
seseorang, biasanya kita memilih berdasarkan kepribadian orang tersebut.”
“Maksudmu, aku galak
seperti macankah?” tukas Khansa.
“Hissh sudah-sudah,
tak ingin debat. Ayo! Kita pergi,” ajak Emily.
“Sebentar aku akan
mengajak yang lainnya,” ujar Emily seraya mengeluarkan ponselnya dan
menghubungi manajernya.
“Ayo! Kita bersiap,
yang lainnya juga akab ikut bersiap,” ujar Emily lagi.
Emily juga mengajak
manajer dan beberapa staffnya untuk ikut berbelanja, pekerjaannya di Bali sudah
selesai, dan saatnya bersenang-senang. Karena itu Emily mengajak Manajer dan
asistennya. Dengan mini van mereka semua pergi ke Mall, begitu masuk ke Mall
sontak saja dua wanita yang bagai dewi itu pun menjadi perhatian utama.
Emily membawa Khansa
masuk ke butik pakaian pria dan asesoris pria, “Hadiah macam apa yang ingin kau
berikan kepada Tuan Sebastianmu itu?”
Ini pertama kalinya
Khansa membelikan hadian untuk pria, jadi dia sendiri pun merasa bingung.
Melihat Khansa yang terlihat bingung, Emily langsung saja menarik Khansa dan
membisikan sesuatu.
“Satu set pakaian
tidur seksi saja!” ujar Emily sambil terkekeh.
Khansa langsung saja
memukul bahu kawan baiknya itu, memakai cadar saja sudah bisa membuat Tuan Muda
Sebastian bernafsu terhadapnya, apalagi jika Khansa berlaku genit kepada Tuan
Muda Sebastian, sudah pasti Khansa akan habis dikunyah-kunyah oleh suaminya
itu.
Khansa mengamati ke
deretan pakaian pria, lalu melihat-lihat. Semua pakaian ini bagus, namun tetap
saja kurang. Karena pakaian Leon dibuat khusus hanya untuk Leon sendiri
dari serat yang berkualitas nomor satu.
“Hissh … mencari satu
hadiah aja, mengapa jadi begitu sulit,” pikir Khansa sambil menghela napas.
Khansa kembali
melihat-lihat jenis pakaian dan celana panjang yang ada disana, lalu matanya
mengunci sebuah hadiah yang dirasa sangat cocok untuk Leon.
“Ini akan terlihat
bagus di pinggang kuatnya Leon,” pikir Khansa sambil tersenyum, mengingat
ketika malam di kamar Bar 1949. Di malam ketika Leon membuka tali ikat
pinggangnya dan Khansa bebas
melihat pinggang kuatnya Leon.
Emily memperhatikan
wajah Khansa nampak memerah ketika memegang ikat pinggang itu di tangannya,
Emily menyenggol bahu Khansa “Sedang memikirkan apa?”
“Tidak ada …” jawab
khansa malu-malu.
“Apanya yang tidak
ada! Itu semua tertulis jelas di wajahmu,” Emily menggodai Khansa.
“Mana ada …” tukas
Khansa.
Khansa hanya bisa
menjawab dengan Tergugup, lalu segera melangkah ke kasir untuk membayar hadiah
yang telah dia pilih.
“Yang ini saja,” ujar
Khansa seraya meletakannya di meja kasir.
Ikat pinggang yang
Khansa pilih terbuat dari kulit murni dan bahkan dihiasi ornamen yang
membuatnya tampak lebih formal dan sempurna. Meski hanya di butik biasa namun
Khansa menilai jika Leon yang memakainya maka itu tetap akan terlihat berkelas
dan membuat takjub saat melihatnya, akan terlihat sangat berkualitas tinggi.
“Apa?” Khansa sedikit
ternganga ketika kasir menyebutkan harganya.
“15.000.000,” Khansa
mengulang perkataan kasir tersebut.
Khansa memberikan
kartunya kepada Kasir tersebut, sedikit menggigit ujung bibirnya, “Ya sudahlah,
esok kita menabung lagi saja,”
Bisa saja Khansa
menggunakan kartu Leon, namun ini adalah hadiah, jadi tak enak rasanya
jika masih harus memakai uang Leon, jika seperti itu sama saja Leon yang
membeli ikat pinggang ini, bukan dirinya.
“Bisakah kau membungkusnya dengan kertas kado!” pinta Khansa kepada kasir
tersebut.
“Tentu Nona!” ujar
kasir tersebut dengan tersenyum.
“Terima kasih,” jawab Khansa ramah.
Khansa dan Emily
menunggu beberapa saat, memperhatikan betapa si kasir sangat lihai memotong
kertas kado lalu membentuknya menjadi bentuk yang unik, bentuk sebuah mobil
karakter dari salah satu film kartun yang terkenal.
“Ini Nona,” ujar kasir
seraya memberikan kado yang telah rapih terbungkus.
“Bagus sekali!” puji
Khansa.
ππππππππππππππππππππ
BERSAMBUNG

Komentar
Posting Komentar