PENGANTIN PENGGANTI (BAB 85 : PEMANASAN )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 85 : PEMANASAN )
Perayaan hari jadi pernikahan Fauzan dan Maharani dilangsungkan sesuai waktunya, seluruh pebisnis kaya dan istri di seluruh Palembang juga masih datang menghadiri.
Bagaimana pun juga ini
adalah termasuk perjamuan bisnis berbalut pesta. Tempat para pebisnis handal
saling bertemu, jadi mereka tetap datang memenuhi undangan Fauzan Isvara.
Maharani sengaja
menggunakan riasan tipis, sehingga terlihat seperti wanita polos dan lugu,
beberapa hari kemarin sebutan wanita j*laang tersemat di nama akhirnya, dan
nampaknya dia ingin memperbaiki imej dirinya itu.
Maharani juga memakai
gaun panjang yang tidak terbuka, sehingga memberikan kesan keibuan yang penuh
dengan sifat kasih sayang.
Maharani akan
membuktikan dirinya kepada khalayak umum, jika popularitasnya masih sama
seperti dulu, tidak terkalahkan. Maharani berjalan dengan sepatu hak tingginya
itu, lalu menyapa beberapa wanita sosialita yang sedang asyik berbincang.
“Halo! Nyonya-nyonya,”
sapa Maharani.
“Nyonya! gaun dan
perhiasanmu ini sangat indah! Sangat cocok dengan apa yang dikenakan hari ini,”
puji Maharani kepada salah satu sosialita yang datang hadir.
“Membuatmu jadi tampak
langsing lho,” puji Maharani.
Maharani pun nampak
tidak mengalami kesulitan untuk berbasa basi busuk, hal yang hampir seumur
hidup ini dia lakukan. Karena itu sudah tidak asing lagi dan sudah sangat lihai
dan sudah mendarah daging.
Bukannya mendapatkan
jawaban yang ramah dan menyenangkan. Tapi, malah mendapatkan jawaban singkat
lalu para istri pengusaha kaya tersebut, meninggalkan Maharani begitu saja,
menjauhi Maharani dengan acuh tak acuh dan dengan tatapan sedikit jijik sambil
berbisik-bisik.
[Sebaiknya kita
menjauhi wanita ini, khawatir jika aura buruknya mengenai menular kepada kita]
[Ya hati wanita ini
terlalu busuk]
[Bermain dengan
bangkai pasti kita akan terkena baunya, baunya akan menempel pada kita]
Para wanita sosialiya
itu pun kompak menjauhi Maharani dan pergi pindah posisi ke tempat lain.
“Sial! Apa-apaan
mereka ini. Apakah mereka menganggap aku ini adalah kuman yang harus dijauhi!?”
pikir marah Maharani.
Hari ini Maharani
ingin membuktikan pada semua orang kalau dirinya baik-baik saja. Maharani
mencoba lagi mendekati beberapa istri pebisnis kaya, namun lagi-lagi diabaikan,
bahkan mereka menggosipkan masalah foto tak senonoh di belakang Maharani, dan
sempat mendengarnya.
Jihan berjalan ke arah Maharani.
Jihan melihat wajah
ibunya itu terlihat tidak baik, lalu berkata, “Bu, apakah mereka juga
mengabaikanmu?”
“Iya,” jawab Maharani
dengan kesal.
“Mereka itu
benar-benar membuatku kesal,” jelas Jihan.
“Mereka ini bahkan
membicarakan kita dibelakang, mengatai kita bu,” adu Jihan lagi kepada
Maharani.
“Apa yang mereka katakan?” tanya Maharani.
“Mata duitan! Mereka
bilang kita wanita mata duitan, pemburu harta,” jawab Jihan dengan kesal.
"Bahkan teman-temanku yang biasa menjilat,
mencari perhatianku
malah mengabaikan aku juga!" adu kesal Jihan lagi.
“Bagaimana ini bu! Apa
yang harus kita lakukan?”
Maharani membeku di
tempat, hatinya menggelap kesal sendu, dirinya baru saja diabaikan dan sekarang
putrinya mengadu jika diabaikan juga.
Padahal Maharani telah melakukan yang terbaik untuk menutup skandal itu. Namun,
tetap saja efeknya masih terus menggema.
Berita viral tentang
ibu tiri yang ingin menguasai harta warisan anak Khansa Isvara masih terus saja
bergulir bagai bola panas meski sudah tidak ada lagi di pencarian topik utama
di internet.
Fauzan sedikit-sedikit
melirik jam tangannya, “Apakah tuan Wandana akan datang?” tanya dan pikir
Fauzan.
Fauzan pun melangkah
ke arah Maharani dan bertanya pada Maharani kenapa Arief Wandana masih belum
datang. Fauzan sedang perlu investasi dana yang mendesak, tentu saja kehadiran
Tuan Wandana adalah hal yang paling di tunggunya.
Fauzan tidak peduli
dengan urusan Maharani dan Jihan. Karena tujuan membuat pesta ini adalah karena
Fauzan ingin bertemu dengan tuan Wandana dan berharap Tuan Wandana mau
menginvestasikan dana segar ke perusahaannya. Sehingga operasional perusahaan
dapat berjalan dengan mulus lagi.
“Jangan lupa jika ayah
angkatmu sudah datang, tawari dia untuk berinvestasi dalam proyek kita!”
perintah Fauzan.
Mendengar perkataan
Fauzan tentang pendanaan proyek medis terbaru di perusahaannya, maka hati
Maharani langsung saja meradang marah. Maharani merasa jika proyek lebih
penting dibandingkan perayaan hari jadi pernikahan mereka.
Suasana hati Maharani
semakin memburuk, lalu berkata, “jadi ini semua karena kucuran dana?” tanya
Maharani dengan marah.
“Tentu saja! Setelah
tuan muda ugraha batal berinvestasi, tentu saja perusahaan membutuhkan investor
baru,” jawab Fauzan.
“Kau bahkan tidak
mempedulikan aku dan Jihan!” ujar Maharani dengan tatapan marah.
“Kalian berdua tidak
berguna!” balas hardi Fauzan.
“Jika tidak bisa
membawa keuntungan, maka jangan terlalu banyak mengeluh!” sindir Fauzan kepada
Maharani.
“Banyak mengeluh
katamu!” hardik tanya Maharani.
Melihat Maharani dan Fauzan bertengkar, Khansa sedikit tersenyum. Khansa pun
mendekati mereka untuk melihat pertunjukan yang baru saja akan dimulai,
sebuah pemanasan kecil untuk pertunjukan besar.
“Ayah apakah sedang
bertengkar?” tanya Khansa.
Maharani bertambah kesal melihat Khansa, sejak kejadian foto skandal
waktu itu, Khansa tidak pernah muncul di hadapan mereka, dan sekarang Khansa
memperlihatkan diri, jelas saja ini menjadi perhatian besar orang-orang yang
hadir.
“Tidak kami tidak
sedang bertengkar,” jawab Maharani.
“Ayah jangan
bertengkar lagi, sungguh aku tidak apa-apa,” jelas Khansa memberi kesan menjadi
putri yang baik.
Ketika para tamu
melihat Khansa yang seperti ini, sungguh itu seperti sedang tidak memberikan
muka kepada Fauzan dan Maharani. Membuat kesan jika pasangan suami dan istri
itu memiliki hati yang kejam.
Anak yang begitu patuh
dan baik hati meski Ayahnya telah memutuskan hubungan dengannya. Para tamu yang
hadir pun berbisik-bisik.
[Khansa adalah anak
yang penurut, mengapa Fauzan ini begitu kejam]
[Lihatlah betapa besar
hati Khansa Isvara ini.Ibu tiri menjebak, ayah malah memutuskan hubungan
keluarga, tapi masih baik kepada keduanya]
[Bukankah ini seperti
sebuah kesialan bagi Khansa, karena memiliki orang tua yang seperti itu]
[Sungguh tak patut
untuk dijadikan panutan, mereka bahkan tak pantas untuk menjadi orang tua]
Fauzan yang mendengar
bisik-bisik ini segera saja berkata kepada Khansa dengan suara sedikit keras,
" Khansa anakku, kau pasti merasa sedih. Kembalilah ke rumah kapan saja
kau mau. Jika ada yang menindasmu maka aku akan memberikan pelajaran yang baik
untuknya."
Fauzan menatapi
Maharani, seakaan sedang memberi tahu jika Fauzan sedang memberi pelajaran
kepada Maharani dengan membela Khansa. Seketika saja, darah di tubuh Maharani
terasa mendidih dengan uap penuh kebencian.
Tidak lama kemudian,
Arief Wandana datang, “Tuan Wandana,” sapa salah satu tamu.
Tatapan kebencian
Maharani langsung saja berubah menjadi tatapan yang meneduhkan ketika melihat
Tuan Wandana datang.
Maharani berjalan ke
depan dengan ekspresi bangga dan merangkul lengan Arief sambil menyapa dengan
manja, “Papa angkat.”
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar