PENGANTIN PENGGANTI (BAB 86 : ATM BERJALAN )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 86 : ATM BERJALAN )
Arief Wandana datang dan menjadi pendukung Maharani, suasana segera berubah 180 derajat. Fauzan sangat hormat pada Arief Wandana. Karena merasa ATM berjalannya telah bersedia datang.
Arief Wandana terlihat
memiliki kulit yang terawat, rambut yang terlihat rapih dan gaya berpakaian
yang stylish serba mahal berkelas. Tuan Wandana adalah salah satu pria
flamboyan, pria yang sangat memperhatikan penampilannya, pria pesolek meski
bertubuh gemuk. Namun, karena dompetnya ikut menggendut maka para wanita dengan
mudahnya mendekat dan hinggap seperti lalat berharap akan mendapatkan
kucuran dana untuk menyokong mereka dan menyambung hidup.
Fauzan dengan segera
menyapa Tuan Wandana, “Selamat datang,”
“Terima kasih karena
sudah menyempatkan untuk datang,” sapa Fauzan dengan sopan serta mencari muka
dan memberikan jabatan tangannya.
Arief Wandana, hanya
tersenyum sekedarnya. Enggan membalas jabatan tangan Fauzan, lalu malah
langsung menyapa Maharani dan berkata, “Aku dengar belakangan ini ada yang
senang sekali menindas putri angkatku ini!?”
“Aku tidak berani
mengadu kepada Papa, takut membuat Papa repot,” jawab Maharani dengan manja.
“Jadi semua yang
kudengar adalah benar?” tanya Tuan Wandana melirik kepada Fauzan.
“A-aku berjanji akan
menjaganya dengan baik di kedepan hari,” tukas Fauzan.
Saat ini Arief Wandana
menegaskan pada Fauzan kalau tidak boleh membuat Maharani menderita sedikitpun.
“Aku membiarkan putri
angkatku menikah denganmu, bukan untuk kau buat susah! Apa kau paham!?” tukas
Tuan Wandana.
Fauzan yang tadi baru
saja terlihat menjadi seorang ayah yang adil, tiba-tiba saja sudah seperti
seekor An*ing yang patuh pada tuannya ketika melihat tuannya datang.
Fauzan mengangguk
mengiyakan perkataan Arief Wandana dengan sangat patuh, “Baik Tuan, tidak perlu
mengkhawatirkan tentang ini,” janjinya lagi.
Fauzan tidak peduli dengan perkataan yang tadi dia katakan kepada Khansa.
Satu-satunya hal yang
dia pedulikan saat ini adalah, tuan Wandana mau berinvestasi untuk menutupi
kekurangan modal di perusahaannya. Karena itu Fauzan harus terlihat
sangat patuh di depan tuan wandana.
“Ya tuan Wandana, aku
akan memperlakukan dia dengan baik, rumor apa pun yang ada di luar sana tidak
akan mempengaruhi hubungan kami,” jawab sopan Fauzan.
Fauzan pun menarik
Maharani ke sisinya, merangkulnya dan menepuk-nepuk lembut bahu Maharani bahkan
mengecup puncak kepala Maharani.
"Tuan bisa
melihat semegah apa pesta yang aku buat ini untuk merayakan hari jadi
pernikahan kami. Bukankah ini telah menandakan seberapa besar aku
memperhatikan Maharani dan menjaga martabat statusnya sebagai Nyonya
Isvara.
Maharani pun tersenyum
senang sekaligus dengan mimik muka yang mencibir. Jika Maharani seekor
An*ing, maka saat ini ekornya akan bergoyang-goyang. Tanda jika hatinya senang
sampai terbang ke atas langit.
“Bagaimana menurutmu?”
tanya Tuan Wandana.
“Itu … kita lihat
bagaimana nanti saja,” jawab sombong Maharani sambil melirik ke Fauzan.
Tuan Wandana melihat
ke arah Fauzan, “jika kedepannya aku mendengar putri angkatku diperlakukan
tidak baik, maka aku tidak akan segan memberikan pelajaran kepadamu,” ancam
Tuan Wandana.
“Perlakukan dia dengan
baik!” perintah tuan wandana.
“Ya! Ya tentu saja,
aku akan memperlakukannya dengan baik,” janji Fauzan.
Status Arief Wandana
sangat tinggi karena dia investor kelas kakap, seluruh pebisnis kaya yang hadir
segera mendekati untuk bicara dengan Arief Wandana.
[Tuan Wandana,
akhirnya kita bisa bertemu disini. Senang sekali]
[Tuan Wandana, kami
sudah banyak mendengar tentang anda. Salah satu pria yang dinobatkan sebagai
pengusaha sukses di dalam dan di luar negri]
Maharani mendengar
sanjungan-sanjungan untuk Arief Wandana, merasa ikut bangga, seakaan pujian itu
ditujukan kepadanya.
Maharani terus
merangkul lengan Arief Wandana, Maharani pamer pada Khansa dan juga pada para
istri pebisnis kaya yang tadi mengabaikan dirinya.
Para istri pebisnis itu pun atas perintah suaminya diminta untuk menyapa
Maharani, berbasa basi busuk. Karena semua ingin menarik perhatian Tuan
Wandana.
[Selamat ya atas
perayaan hari jadi pernikahanmu dengan Tuan Isvara]
[Semoga kedepannya
selalu mesra dengan Tuan Isvara]
[Kau sangat beruntung
memiliki Papa angkat seperti Tuan Wandana ini lho]
[Iya banar-benar
beruntung]
Jihan terang saja
tidak ingin membuang kesempatan ini untuk membual kepada Khansa, “lihatlah
begitu Papa angkat ibuku datang, semua orang langsung hormat kepada ibuku.”
“Lihat saja bagaimana
ayah kita patuh sampai-sampai terlihat ingin bersujud di kaki ibuku,” ujar
Jihan membual sombong.
Dengan bangga Jihan
berkata lagi, “kau bukanlah tandingan untuk ibuku.”
“Kau bahkan tidak
memiliki kekuatan seperti ibuku, setengahnya saja juga tidak memiliki, jadi
jangan bermimpi untuk bisa mengalahkan ibuku!” Jelas Jihan.
“Hah! Pemenang selalu
tertawa di akhir. Dan aku adalah tipe orang yang tertawa.di akhir,” gumam
Khansa dengan nada berbisik pelan.
“Kita lihat saja
nanti!” ujar ringan Khansa.
“Dasar anak bawang!”
cela Jihan kepada Khansa.
“Makanan tanpa ada
bumbu bawang, maka itu akan terasa hambar,” jelas Khansa dengan sedikit
meledek.
“Dan aku adalah bawang
yang akan memberikan banyak rasa kepada kalian berdua ibu dan anak!” ledeknya
lagi sembil tertawa.
“Kau pasti tahu kan,
jika bawang bisa membuatmu menangis” tukas Khansa.
“Jadi nikamati saja,
menu-menu kejutan yang akan selalu aku suguhkan! Ok,” tukas Khansa menyindir
sambil menepuk-nepuk bahu Jihan.
“Tetap saja kau
bukanlah saingan ibuku!” hardik marah Jihan.
“Lihatlah bagaimana
mereka menyanjung ibuku dan Papa angkatnya,” tukas bangga Jihan lagi.
“Ya ibumu itu sungguh
luar biasa, dapat menemukan Papa angkat yang seperti itu,” jawab Khansa.
Mendengar jika bualan
Jihan tadi tidak mempengaruhi Khansa, malah kekesalan yang ingin Jihan ciptakan
100% berbalik ke arahnya.
“Wanita j*lang, tidak tahu diri. Lihat saja bagaimana nanti ibuku akan
membereskanmu,” gumam kesal Jihan sambil menunjuk-nunjuk wajah Khansa.
Alunan musik pun
terdengar, itu artinya saatnya berdansa. Ingin sedikit memberi malu kepada
Fauzan, maka Maharani memilih mengajak Tuan Wandana untuk berdansa, ketimbang
mengajak Fauzan berdansa.
“Papa! Bersediakah
menemani aku berdansa!” pinta Maharani dengan suara berdana manja.
“Tentu saja, kita
sudah lama tidak berdansa,” jawab Tuan Wandana seraya mengambil uluran tangan
Maharani.
Mereka berdua pergi
melangkah ke lantai dansa dengan saling merangkul, lalu mereka pun mulai
berdansa. Arief Wandana dan Maharani berdansa dengan sangat intim, Maharani
mulai menggoda Arief Wandana dengan tatapan nakalnya.
“Sudah sangat lama sekali Tuan, kita tidak bertemu! Apa kau merindukan aku?”
tanya Maharani.
“Kau bisa saja menjadi
wanita rahasiaku, aku akan menjamin semuanya untukmu! Mengapa kau malah menikah
dengan pria lain?” tanya tuan Wandana.
“Jika aku tidak
menikah, maka bisa saja aku dihabisi oleh wanita galak yang ada di rumahmu
itu,” jelas Maharani.
Mereka berdua pun
saling melempar senyum. Merasa gemas dengan jawaban menggoda Maharani, Arief
Wandana berkata, “Datanglah ke kamar hotelku malam ini.“
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar