PENGANTIN PENGGANTI (BAB 87 : DIPECUT )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 87 : DIPECUT )
Maharani juga punya niat yang sama, Arief Wandana tidak bodoh dan tidak akan investasi pada Fauzan dengan cuma-cuma. Tentu saja Maharani harus menebusnya dengan tubuhnya yang berbaring di atas ranjang Tuan Wandana. Demi membuktikan jika dirinya masih berguna untuk keluarga Isvara maka, Maharani sudah tentu bersedia melakukannya.
Jihan merasa senang
dan menyindir Khansa dengan arogan saat melihat sikap spesial Arief Wandana
terhadap Maharani, “lihatlah penguasa dalam keluarga Isvara yang sebenarnya
adalah ibuku, lihat saja bagaimana ibuku mengabaikan ayah.”
“Jadi kau jangan
banyak tingkah,” ejek Jihan.
Khansa mengabaikan
Jihan dan sengaja mengadu pada Fauzan, untuk menyenangkan hati ayahnya. Khansa
mengatakan sesuatu dengan polos, “Ayah! Jihan bilang jika Maharani adalah
kepala keluarga Isvara, semua tunduk kepadanya, termasuk Ayah!” tukas Khansa.
“Benarkah?” tanya
Khansa dengan sikap polosnya.
“Maaf jika sikapku
telah merepotkan Ayah, sehingga membuat Ayah dimarahi Maharani, kepala keluarga
Isvara!” tukasnya dengan polos yang bertujuan.
“Jika memang begitu,
kelak ke depannya aku akan menjaga sikap, khawatir akan membawa kesulitan untuk
Ayah lagi!” jelas Khansa.
"Nanti malah
akan membuat kepala keluarga Isvara marah lagi kepada Ayah " tambah
Khansa lagi.
Perkataan polos Khansa
yang bernada kencang itu sontak saja, menarik perhatian para tamu. Mereka semua
langsung memandangi Fauzan, memberi tatapan mengejek.
Fauzan menoleh kepada
Jihan, lalu memeolotinya dengan tatapan ingin menguliti Jihan. Kasus kemarin
baru meredea beberapa saat, sekarang anak ini sudah berulah lagi. Jihan pun
merasa gemetaran mendapatkan tatapan seperti itu dari Fauzan.
Kemudian Khansa
melanjutkan perkataan polosnya lagi, “Tapi ayah! Apakah tuan Wandana itu
benar-benar papa angkat Maharani? Terlihat sangat akrab sekali.”
“Lihatlah bagaimana
mereka saling merangkul tubuh satu sama lain ketika berdansa,” tukas Khansa.
“Bukankah itu terlihat
nampak aneh,” ucap polos Khansa lagi.
“Itu malah nampak
seperti sepasang kekasih, menurutku,” Khansa menambahi perkataannya lagi dengan
membubui bahan peledak di perkataamnya.
Khansa mengatakan itu
dengan sangat polos, sehingga para tamu yang hadir di sana tidak menangkap sama
sekali jejak niat dari perkataan Khansa itu, niat sengaja untuk memojokan
Maharani.
Setelah mendengar
perkataan Khansa, para tamu langsung saja mengalihkan pandangannya kepada
Maharani dan Tuan Wandana yang sedang asyik berdansa.
Tuan Wandana
melingkarkan tangannya di pinggul ramping Maharani. Sementara, Maharani
sesekali memberikan senyuman menggoda kepada tuan Wandana seraya merangkulkan
kedua tangannya di leher Tuan Wandana.
Para tamu
memperhatikan dan sedikit tercengang ketika melihat tubuh keduanya saling
menempel erat. Sontak saja ini membuat Fauzan dan orang-orang mulai meragukan
hubungan papa angkat dan putri antara Arief Wandana dan Maharani. Semua orang
mulai membincangkan hal ini.
[Papa angkat, anak
angkat. Tapi, terlihat tidak seperti itu]
[Seperti sepasang kekasih]
[Betul! Lihat saja
bahasa tubuh mereka. Begitu intim]
[Lihatlah cara mereka
memandang tidak seperti papa dan anak]
[Hush! Tuan Isvara
masih di sini lho, sudah jangan dibahas lagi]
Emosi Fauzan memuncak
sambil memandangi Arief Wandana dan Istrinya berdansa mesra di lantai dansa,
“pel*cur itu! Wanita murahan.”
Pintu Aula
terbuka, Nyonya Wandana datang menerabas masuk, ketika sampai
Nyonya Wandana berteriak meneriaki Mahrani yang masih asyik berdansa dengan
suaminya, “Wanita j*lang!”
Maharani menoleh,
“Siapa yang kau panggil ******!”
Ketika melihat Nyonya
Wandana berdiri sedang memperhatikan mereka yang sedang berpelukan di lantai
dansa Maharani terpaku dan segera melepaskan tangan yang tadi sedang melingkar
di lehernya.
Nyonya Wandana
melangkah ke arah mereka dan "plak"sebuah tamparan keras mendarat di
pipi Maharani, meninggalkan jejak merah di sana.
“Tingkat keberanianmu
tinggi sekali, menggoda suamiku di depan orang banyak!” hardik Nyonya Wandana.
“Apa ingin berebut
denganku!” tanya marah Nyonya Wandana.
Tuan Wandana pun maju,
dan berusaha menjelaskan, tapi malah itu menyulut kemarahan istrinya semakin
menjadi. Jika membela maka betul ada sesuatu di antara mereka.
“Diam kau!” Hardik
Nyonya Wandana menatap dengan penuh kemarahan kepada Tuan Wandana.
“Sabuknya!” pinta
Nyonya Wandana kepada asistennya.
Asistennya maju dengan
membawa sebuah nampan yang di atasnya ada sebuah sabuk ikat pinggat dari kulit
dengan asesoris kepala besi. Tuan wandana sedikit mundur, jika marah maka
istrinya ini akan menggunakan sabuk kulit itu sebagai alat pemukul.
Nyonya Wandana
mengambilnya lalu mulai meneror tubuh Maharani dengan pecutan-pecutan keras
yang mendarat di tubuh Maharani, bahkan sesekali kepala besi di ujung sabuk itu
mengenai wajah Maharani dan kepalanya.
“Arrgh …” teriak
Maharani.
Teriakan kesakitan
Maharani terdengar menggema, karena tidak bisa mengelak maka dengan lancar
pecutan dari Nyonya Wandana sukses mendarat di tubuhnya. Cairan berwarwan merah
merembes dari balik pakaian Maharani.
Maharani pun terjatuh
duduk di lantai, sambil dengan gemetaran memeluki tubuhnya sendiri denhan tiada
daya. Lecutan sabuk kulit Nyonya wandana bahkan tidak memberikan jeda
sedikitpun untuk hanya sekedar menghela napas. Para tamu yang melihat pun mulai
berbisik-bisik lagi.
[Siapa wanita galak
ini, datang tiba-tiba lalu memukuli orang dengan seenaknya]
[Hush jaga bicaramu,
kau ini bodoh atau apa? Apa kau tadi tidak mendengar jika Tuan Wandana adalah
suaminya]
Yang lain tidak berani
ikut campur karena tahu seberapa besar kekayaan Nyonya Wnadana ini. Fauzan pun
tidak berani melangkah melerai penganiayaan itu. Tuan Wandana memang berkuasa.
Tapi, Nyonya Wandana lebih berkuasa lagi atas Tuan Wandana.
Rupanya Khansa
diam-diam mengirim video dan foto pada Emily, dengan disertai isi pesan yang
meminta Emily membujuk istri Tuan Wandana agar terprovokasi agar segera bisa
datang ke tempat acara.
Tentu dengan senang
hati Emily mengirimkan kepada Nyonya Wandana dengan disematkan sebuah pesan
singkat, “Saran aku! Datang.”
Pada awalnya Nyonya
Wandana enggan datang ketika Emily mengirimkan undangan acara perayaan hari
jadi pernikahan Tuan Isvara dan Maharani, namun ketika melihat pemandangan di
video betapa suaminya mesra memeluk Maharani, memeluk wanita selain dirinya.
Nyonya Wadana yang
secara kebetulan berada tidak jauh dari tempat acara langsung saja pergi untuk
melabrak.
Masih merasa belum
puas, Nyonya Wandana masih saja menyabeti Maharani dengan sabuk ikat pinggang
kulitnya itu sampai Maharani kepayahan dan menangis.
“Nyonya, ampun. Kami
tidak seperti yang kau kira,” ujar lirih Maharani.
Namun tetap saja
Nyonya Wandana membabi buta, selama dia melihat wanita yang ingin menjadi
pelakor di dalam rumah tangganya belum tumbang, maka pantang bagi Nyonya
Wandana untuk menghukumnya.
Beginilah Nyonya Wandana
menghukum para wanita yang kedapatan sedang menggoda dan mendekati suami
flamboyannya itu.
Saat ini, Arief
Wandana meninggalkan Maharani dan berlari ke arah istrinya sendiri dengan
ketakutan, “Istriku! Jangan begini! Ini tidak seperti yang kau kira,” ujar Tuan
Wandana.
ππππππππππππππππππ
BERSAMBUNG

Komentar
Posting Komentar