PENGANTIN PENGGANTI (BAB 88 : BAYI AJAIB )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 88 : BAYI AJAIB )
Nyonya Wadana sangat marah, lalu bertanya dengan marah, “Apakah dia selirmu?”
Tuan Wandana tidak
berani mengakuinya, Tuan Wandana melihat sabuk ikat pinggang yang masih di
pegang oleh Nyonya Wandana, khawatir jika sabuk itu malah ikut melayang ke
tubuh gendutnya itu, jadi menyangkal adalah jalan yang terbaik.
“Istriku, ini tidak
seperti yang kau kira. Maharani ini adalah putri angkatku,” jawab Tuan Wandana
dengan nada membujuk.
“Hah! Putri angkat?
Sejak kapan kau memiliki putri angkat!” hardik marah Nyonya Wandana.
“Dan mengapa tidak
memberitahu aku, jika ingin mengadopsi anak!” hardik Nyonya Wandana semakin
marah.
Nyonya Wandana tidak
percaya dan mulai melabrak Maharani lagi dengan habis-habisan. Nyonya Wandana
menendang Maharani yang sedang terduduk menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Nyawa Maharan serasa ingin lepas dari tubuhnya. Merasakan perih di sekujur
tubuh dan juga sakit karena tendangan Nyonya Wandana.
Melihat Nyonya Wandana
ingin memukul lagi, Maharani segera saja bersujud memegang kaki Nyonya Wandana,
“Mama angkat, benaran aku dan Papa angkat tidak ada hubungan apa-apa.”
“Hari ini adalah
perayaan hari jadi pernikahan aku dan suamiku, karena itu mengundang papa
angkat,” jelasnya lagi.
Fauzan sangat benci
pada Maharani, tapi tidak berani membesarkan masalah karena memerlukan dana
investasi.
Fauzan pun berdiri dan
berkata, “Nyonya! Memang benar Maharani adalah istriku dan ini adalah pesta
perayaan hari jadi pernikahan kami.”
Fauzan membantu
Maharani menjelaskan pada Nyonya Wandana, barulah Nyonya Wandana percaya dan
kemarahannya reda sedikit. Nyonya Wandana menoleh ke arah Tuan Wandana.
“Nah kan! Sudah
kubilang bukan, jika ini hanya putri angkatku saja,” tukas Tuan Wandana.
“Bukankah aku sudah
memberimu seorang putri, mengapa masih mau mengangkat putri orang lain untuk
menjadi putrimu!?” tanya marah Nyonya Wandana.
“I-itu . . . aku . .
.” tuan Wandana kesulitan menjawab
Semua orang mulai
bergosip. Pandangan mereka mulai berubah tentang hubungan Papa angkat dan putri
angkat ini.
[Tak disangka, ratu
film ini ternyata seorang gundik]
[Sudah memiliki suami
kaya, tapi malah tak puas dan mencari pria yang lebih kaya lagi]
[Benar-benar penuh
drama sekali hidupnya]
Tuan Wandana segera
saja memeluk istrinya itu, lalu mencoba membujuknya lagi.
“Jika kau tidak suka,
maka hari ini juga aku anggap dia ini bukan putri angkat aku lagi. Kedepannya
aku tidak akan berhubungan dengan dia lagi.”
“Jangan marah, nanti
darah tinggimu naik. Jangan sampai sakit,” ujar Tuan Wandana.
Arief Wandana bersedia
putus hubungan ayah dan anak angkat dengan Maharani demi menyenangkan hati
Nyonya Wandana. Maharani merasa dunianya semakin hancur, dukungannya telah
hilang. Sekarang dirinya hanya terlihat seperti butiran debu di mata Fauzan.
Wanita tak berguna.
Khansa mendekati Jihan
yang terpaku lemas melihat keadaan ibunya, lalu berkata, “Bagaimana rasa
bawangku, pedas di mata dan di hati bukan?”
“Kau seharusnya
memahami pepatah, yang mengatakan, pemenang selalu tertawa di akhir,” cibir
Khansa kepada Jihan.
“Jadi aku sudah
sepadan belum, untuk bisa melawan nenek sihir yang bernama Maharani!” ledek
khansa lagi sambil bersedekap di hadapan Jihan.
"Minggir kau!
ujar marah Jihan sembari mendorong tubuh Khansa.
Khansa kembali
menikmati pertunjukan yang di sutradarai olehnya, sekaligus penulis
Skenarionya.
Nyonya Wandana masih
memandangi Maharani dengan tatapan jijik, lalu menoleh dan berkata dengan marah
kepada Tuan Wandana, “Pulang! Aku akan memperhitungkan tentang ini di rumah
nanti.”
Baru saja beberapa
langkah mereka pergi,
Layar di ruangan
tiba-tiba hidup, awalnya mau memutar video kemesraan Fauzan dan Maharani
beberapa tahun ini, tapi malah jadi sebuah video lain.
Arief Wandana dan
Maharani, sedang berada di salah satu kamar suite. Dengan cahaya remang-remang
terlihat Maharani sedang menggeliat di atas ranjang besar. Dalam kamar tersebut
nampak beberapa pria sedang tertawa senang. Ada sutradara, produser dan
beberapa pengusaha.
“Ayo kita nikmati
bersama sekaligus!” ujar Tuan wandana.
Di dalam video,
Maharani masih muda dan sudah menikah dengan Fauzan. Maharani duduk di
lantai dengan tercengang melihat video itu, berpikir darimana asalnya dan
siapa yang melakukannya.
Kedua mata Nyonya
Wandana terbelalak melihat video tersebut. Nyonya Wandana mendorong tubuh Tuan
Wandana, lalu mulai memainkan sabuk ikat pinggang yang sedari tadi masih dia
pegang di tangannya.
Maharani sangat putus
asa, Nyonya Wandana memukuli Maharani tanpa ampun sambil merutuki.
“Dasar j*lang,
pe*acur! Kau pantas mati!” hardik marah Nyonya Wandana seperti kesetanan.
Nyonya Wandana sangat
lihai melakukan ini, nampaknya sudah banyak sekali wanita penggoda yang dipecut
olehnya.
Maharani
berteriak-teriak karena kesakitan, sabetan-sabetan itu terasa perih menusuk
kulitnya. Maharani menjerit, menangis meminta tolong. Maharani terus minta
ampun, tapi tidak ada yang membantu.
Di salah satu ruangan,
Leon meletakan berkas dari tangannya. Lalu melihat video yang Hansen kirimkan
kepadanya, dengan tambahan pesan yang berisi, “Kakak ipar sedang asyik
bermain.”
Video yang Hansen
kirimkan adalah video Maharani yang sudah terlihat kacau balau, lalu video
Khansa yang sedang duduk tenang menonton sambil sesekali memasukan anggur ke
dalam mulutnya, dibalik cadar.
Leon menyeringai,
tersenyum samar sambil bergumam “Gadis kecil ini suka sekali membuat
kerusuhan.”
“Apa tidak ingin
bergabung?” tanya Hansen.
“Tidak, pekerjaanku
banyak,” jawab pesan singkat Leon kepada Hansen.
“Banyak apanya,
jelas-jelas sudah ada di sini!” gumam Hansen sambil tertawa.
Melihat kakak iparnya
sudah menang, Hansen memasukan ponselnya ke saku, lalu melangkah pergi, seraya
berpikir jika kakak iparnya itu begitu cerdas dan mandiri, jadi tiada guna dia
hadir mengawal ketika kakak iparnya telah bisa menjaga diri dengan baik.
"Aku jadi sangat
ingin melihat anak kak Leon dan kakak ipar. Hmm . . . Kira-kira akan seperti
apa ya? gumam Hansen sambil tertawa apakah akan mirip dengan Khansa, atau mirip
dengan Leon, atau penggabungan keduanya.
Hansen menghentikan
langkahnya, lalu berpikir, “Sepertinya aku akan sangat kesusahan jika sifat
bayi Kak Leon dan Khansa, adalah penggabungan dari mereka berdua,”
“Astaga, itu
sepertinya akan menjadi bayi ajaib! Yang akan mengonjang ganjingkan duniaku,”
pikir Hansen lagi dan sudah merasa bergidik hanya dengan memikirkannya saja.
Di kamar suite, Leon
berdiri di depan jendela kamar yang tingginya hampir menyentuh langit-langit
ruangan kamar itu. Leon tidak ingin menampakan diri, karena Khansa sudah
mengabaikan dirinya dalam beberapa hari ini, semenjak kepergiannya ke Bali, dan
kembalinya dari Bali, malah langsung menghadiri acara Fauzan dan Maharani.
“Kau ini mengapa
sangat nakal sekali!” gumam Leon, seraya memandangi wajah Khansa di layar
ponselnya. Leon waktu itu mengambil foto itu secara diam-diam
ketika Khansa terpulas di lengannya, karena terlalu lelah ketika sudah
mengacauka pertunangan Hendra dan Jihan.
“Apa aku perlu
menghukummu nanti di rumah, karena selalu saja bermain permainan yang
berbahaya,” pikir Leon.
ππππππππππππππ��ππππ
Bersambung

Komentar
Posting Komentar