PENGANTIN PENGGANTI (BAB 89 : MENGINTAI ISTRI )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 89 : MENGINTAI ISTRI )
Kaki Fauzan jadi lemas dan terduduk di atas lantai. Semua orang yang hadir segera memfoto-foto, mereka merendahkan Maharani. Khansa masih menyaksikan hal ini dari sofa yang terletak di pojok ruangan.
Setelah sampai di
rumah, Fauzan mendapat informasi kalau banyak partner bisnis yang membatalkan
kerja sama karena aib Maharani.
Kepala pelayan masuk,
dan mengabarkan kepada Fauzan jika ada timbul beberapa masalah besar di
perusahaannya.
“Tuan, situasinya
tidak baik. Banyak rekanan yang memutuskan kerjasamanya dengan perusahaan
kita,” jelas kepala pelayan tersebut.
Fauzan sedang duduk di
ruang kerjanya sambil menghisap rokok.
Punggungnya tiba-tiba
terasa lemas hanya untuk sekedar menyangga posisi duduknya. Pada saat ini uban
di kepala Fauzan terlihat sangat jelas, seoalah-olah dirinya ini menua dengan
begitu cepat.
“Tuan karena berita
viral tentang Nyonya maka bisa jadi kita akan segera mengalami kebangkrutan,”
ujar kepala pelayan itu lagi.
“Mengapa mereka
tiba-tiba membatalkan kontrak?” tanya Fauzan.
Kepala pelayan itu
menjelaskan kepada Fauzan. Jika kini Fauzan dan Maharani tengah menjadi
trending topik di media.
Kepala pelayan
menyerahkan ponselnya dan meminta Fauzan untuk membaca sendiri, tentang Nyonya
Isvara yang sedang viral.
Satu persatu aib lama
Maharani, sedang terpampang jelas. Aib Maharani yang dikatakan telah tidur
dengan banyak sutradara dan produser di sebelum dan di sepanjang karirnya di
dunia hiburan, bahkan masih melakukannya di saat sudah menikah dengan Fauzan.
Ditambah lagi, jika
semua tahu bahwa Maharani ini juga asisten Fauzan. Terkadang ikut pergi atau
pergi sendiri menemui klien. Mereka pun membicarakan apakah Maharani juga tidur
bersama dengan klien-klien perusahaan Fauzan.
“Mungkin mereka takut
terseret menjadi Viral karena Nyonya, karena itu memutuskan kerjasama dengan
kita,” jelas kepala pelayan itu lagi.
Fauzan melanjutkan
membaca berita viral tersebur, para netizen mengatai Fauzan bodoh dan memberi
saran agar Fauzan melakukan tes DNA dengan Khansa dan Jihan.
[Apakah selama ini! Si
Fauzan ini bisa tidur nyenyak dengan bergelimangan uang jual diri dari Nyonya
Isvara]
[Sungguh bodoh,
diselngkuhi berkali-kali, tapi malah tetap saja membiarkan wanita seperti itu
berdiam di sisinya, berbagi satu tempat tidur dan tinggal dalam satu rumah]
[Ya, jika itu aku!
Maka aku akan melakukan tes DNA untuk Jihan dan Yeny]
"Ya itu akan
terlihat konyol jika selama ini ternyata membesarkan anak orang lain]
[Benar-benar pasangan
tersuram]
Fauzan mematikan
rokoknya, dan menekan-nekan rokok itu di asbak. Lalu dengan tiba-tiba, Fauzan
melemparkan asbak itu ke lantai dengan sangat kencang hingga terpecah belah
menjadi kepingan. Fauzan Lalu berdiri dan menendang meja sampai dengan
terbalik. Fauzan melempar kursi, melampiaskan kemarahannya seperti orang yang
baru saja kerasukan.
Semua yang dia
rencanakan telah hancur begitu saja, apalagi hal yang paling dia pedulikan,
perusahaannya juga akan segera hancur, dan ini akan menjadi momen memalukan
dalam kehidupannya.
“Ini semua karena
wanita pe*acur itu, Maharani!” Fauzan merutuki Maharani.
“Dia benar-benar telah
mencelakaiku!” hardik marah Fauzan lagi.
Kepala pelayan yang
melaporkan berita tadi perlahan menyingkir, karena tidak pernah melihat tuannya
berlaku kasar impulsif seperti ini.
Fauzan tidak bisa
menahan emosi lagi dan masih terus menghancurkan barang-barang yang bisa
di raih cepat oleh tangannya.
Merasa lelah, Fauzan
pun akhirya berhenti dan terduduk di sofa. Fauzan menoleh kepada kepala pelayan
lalu bertannya, “Dimana Nyonya?”
“Nyonya . . . Nyonya,”
jawab kepala pelayan terbata.
“Katakan dengan
jelas!” perintah Fauzan.
“Nyonya dipukuli
habis-habisan oleh Nyonya Wandana dengan sangat parah dan sekarang tidak bisa
turun dari ranjang,” jelas kepala pelayan tersebut.
“Segera minta
pengacara mengurus akta perceraian!” perintah Fauzan kepada kepala pelayan.
Saat ini Fauzan
memasuki kamar dan mau bercerai dengan Maharani. Di dalam kamar terlihat jika
tampang Maharani sudah sangat menggenaskan, bajunya yang masih bersimbah darah
itu belum digantinya.
“Fauzan … cepat
selamatkan aku! Bawa aku ke rumah sakit!” pinta Maharani.
“Aku tidak tahan lagi!
Ini sakit sekali!” Jelas Maharani.
“Rasanya aku akan
mati, tolong aku! Bawa aku ke rumah sakit!” pinta Maharani lagi dengan suara
yang melemah.
Bukannya mendapatkan
pertolongan dan kasih sayang dari suami, tapi Maharani malah mendapatkan
pemberitahuan yang mengejutkan hati.
“Aku telah menggugat
cerai kepadamu!” jelas Fauzan.
“Aku akan
menceraikanmu!” jelasnya lagi.
“A-apa . . . maksudmu
…” Maharani merasa salah dengar.
“Kau akan segera
mendapatkan akta cerai kita!” tukas Fauzan.
Wajah Maharani semakin
jadi buruk, ketika mendengar perkataan Fauzan tadi. Bercerai, setelah
pengorbanan yang dia lakukan selama ini, jelas saja Maharani tidak akan pernah
bisa untuk menerimanya.
Khansa menunggu Emily
mengirimkan supirnya untuk menjemput dirinya. Namun, Khansa tidak langsung
pulang, masih ada sesuatu yang harus dia selesaikan di kediaman Isvara. Leon
dengan mobil sedan biasa, mengikuti mobil yang membawa Khansa.
Leon sengaja memakai
mobil biasa agar tidak kentara jika dirinya sedang mengikuti Khansa, “Menikah
denganmu! Mengapa itu terasa menjadi sedang naik wahana roller Coaster dengan
puncak tertinggi,” pikir Leon sambil terus melajukan mobilnya, mengikuti
Khansa.
Di dalam mobil yang
Emily aturkan untuk Khansa, terlihat Khansa sedang bersandar sambil memejamkan
sebentar kedua matanya. Lalu tiba-tiba terbayang wajah Leon.
“Astaga . . .” gumam
Khansa.
“Mengapa jadi
terbayang wajahnya,” gumam khansa lagi.
Khansa mengambil
ponselnya, dan melihat tidak ada telpon atau pun pesan dari Leon, lalu menghela
napas panjang dan segera memasukan ponselnya ke dalam tasnya.
Terdengar bunyi pesan
masuk, Khansa segera saja mengeluarkan ponselnya lagi, namun sedikit kecewa
ketika melihat itu hanyalah pesan dari Emily.
“Bagaimana rasanya
jadi pemenang?” isi pesannya.
“Biasa saja,” jawab
sombong Khansa.
“Hissh, kau ini!
Terkadang lebih narsis daripada aku. Sangat tinggi sekali percaya dirimu itu,”
balas pesan Emily.
“Aku kasih tau ya,
dengan bakat akting dan percaya diri tinggi yang kau miliki, kau pasti akan
berhasil di dunia hiburan. Mau jadi artis tidak,” jelas Emily panjang lebar di
pesannya.
“Tidak perlu! Tanpa
menjadi artis aku selalu viral dan menjadi trending topik,” jawab singkat
Khansa.
“Benaran deh! Narsismu
itu benar-benar tidak ada obatnya,” ujar Emily dalam pesannya lagi.
“Sudahlah, aku akan
kembali sibuk bekerja. Ingat makan! Jangan bermain terus,” pesan singkat Emily
lagi untuk sahabatnya itu.
“Ya, ya aku akan ingat
makan, dan kau! Bekerja dengan baik, jangan ingat aku terus,” Khansa membalas
pesan Emily dengan banyak gambar wajah tersenyum.
Hansen ikut dengan
Leon di dalam mobil, lalu bertanya, “Kak! Bukannya tadi kau bilang banyak
pekerjaan yang harus kau urus?”
“Apakah mengintai
istri termasuk pekerjaan yang digeluti akhir-akhir ini?” tanya Hansen sedikit
meledek Leon.
“Diam! Apa kau tahu
cabang perusahaan aku yang di Afrika sedang membutuhkan Direktur baru.
Sepertinya ide yang bagus jika aku menelpon ayahmu, dan mengatakan membutuhkan
bantuanmu,” ancam Leon.
πππππππππππππππππππ
BERSAMBUNG

Komentar
Posting Komentar