PENGANTIN PENGGANTI (BAB 9 : TERLIHAT MESRA )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 9 : TERLIHAT MESRA )
Leon sedikit tersadar sekarang, dia membantu Khansa mengobati luka.
Khansa bercanda dengan bertanya. "Apakah akibat fatal yang kau katakan
tadi adalah kekerasan rumah tangga (KDRT)?
Leon juga sudah
sedikit santai dan menjawab. "Masih berani masuk kalau tahu KDRT?
Khansa menjawab.
“Orang lain takut padamu, tapi tidak denganku.”
Leon hanya bisa
terdiam mendengar jawaban Khansa, sedikit merasa puas dihati ketika mendengar
perkataan Khansa ini. Entah mengapa kalimat yang Khansa lontarkan itu terdengar
romantis di telinga dan terasa manis di hati.
Selesai mengobati
luka, Leon tetap meminta Khansa untuk keluar. Khansa memeluk Leon, tubuh Khansa
sangat lembut seperti seekor kucing kecil yang penurut. Leon mencium wangi
tubuh Khansa, wangi itu terus memikat sarafnya.
Khansa memintanya
untuk tidak merasa sendiri. “Sekarang ada aku, kita bisa melewatinya
berdua, aku akan menemanimu.”
Urat-urat Leon yang
tadinya bermunculan perlahan menghilang sekarang setelah ditenangkan oleh
Khansa, kondisinya perlahan sudah jauh membaik. Leon masih saja
memikirkan aroma tubuh Khansa, selama itu mereka saling memeluk dalam
keheningan. "Tubuhmu sangat wangi, kamu masih belum memberitahuku pakai
parfum apa?”
Khansa tersenyum, dia
berkata dengan main-main. “Tuan Leon, kan sudah kubilang aku tidak pakai
parfum, kamu terus saja menanyakan hal ini, aku jadi curiga kamu sedang PDKT
denganku, jangan-jangan … kamu mau meniduriku?”
Leon, “…”
Melihat Leon terdiam,
Khansa mengatakan Leon bisa mengigit sesuatu jika masih merasa tidak nyaman.
Tapi malah disalah artikan oleh Leon, mengira Khansa minta digigit, lalu
Leon dengan begitu saja menggigit. Alhasil Khansa merspon balik dengan
menggigit pundak Leon sampai sangat dalam dan berdarah. Leon mundur ke belakang
dan menabrak sudut sofa, keduanya terjatuh ke atas sofa. Khansa mengatakan
mereka sudah impas.
Pose keduanya sekarang
ini sangat mesra.
Mata Leon sudah berubah. Mereka terus saling menggoda.
Khansa ingin bangun,
tapi dia malah dipeluk oleh Leon. “Ei ini … mengapa tenaganya masih kuat,”
gumam Khansa.
Khansa memandangi
suaminya ini, dalam pandangan mata Khansa, suaminya ini terlihat seperti singa
yang sedang mengintai makanan. Terlihat tenang namun ketika akan menerkam calon
makanannya dan itu bahkan tidak mengurangi kegagahannya sedikitpun.
Khansa pun mengalah, mengusap lembut kening suaminya itu lalu memasukan dirinya
kedalam pelukan Leon.
Leon dapat merasakan
tubuh Khansa yang meringsek masuk kedalam pelukannya, tubuh lembut yang seperti
tidak bertulang. Aroma Khansa yang memenuhi penciuman Leon menambah ketenangan
tersendiri untuk Leon. wangi itu terus menerus memikat sarafnya.
Wajah mungil Khansa
menempel pada dada Leon yang kekar, seolah-olah seekor kucing jinak sedang
menjilatinya. Urat-urat di sekujur tubuh Leon yang tadinya bermunculan perlahan
menghilang, bahkan aura mengerikan di bawah matanya pun menghilang berganti
dengan kelembutan, Leon mengangkat tangannya dan memeluk Khansa.
Khansa balas
memeluknya dengan tenang selama beberapa saat, kemudian tangan mungilnya
berpindah dari pinggang Leon ke arah atas, dan mengelus tulang belikat di
punggung Leon.
“Nyonya Sebastian,
kamu lagi merayu aku ya?” Gumam Leon, rasa sakit yang menusuk membuat
kabut pada sepasang matanya tadi telah menghilang dan berubah
kembali menjadi jernih.
Posisi keduanya
sekarang sedikit mesra.
Khansa menatap mata Leon, di dalam matanya tampak dua kobaran api yang sedang
membara, menatap Khansa seolah-olah dia adalah mangsa yang lezat.
“Tuan Leon, mau apa?”
Leon tahu betul mata
Khansa sangat indah, terutama ketika Khansa melawannya seperti sekarang ini,
terlihat lincah, Leon menatapi Khansa dengan matanya yang tampan, bibir
tipisnya menempel di atas plester di kening Khansa, dia menciumnya dengan
pelan. “Sakit tidak? Maaf untuk yang tadi, maaf…”
Seorang pria yang
bossy meminta “maaf” padanya dengan suara kecil, Khansa merasa merinding.
“Dasar siluman, benaran deh pria ini!” pikir Khansa.
Kita sudah impas, jadi
tak apa, Tuan Leon, lepaskan aku dulu!” Khansa mengulurkan tangannya ke dada
Leon, dia ingin mendorong Leon.
Namun, Leon tidak
bergerak, malahan dia mengulurkan tangan untuk memegang wajah mungil Khansa.
Jemarinya yang jenjang menelurusi kontur wajah Khansa dan masuk ke rambut
hitamnya, bibirnya yang tipis pun berpindah dari kening Khansa ke bawah….
Bulu mata Khansa yang
lentik berkedip sejenak, dia sama sekali tidak berani bergerak, “a… apa yang
mau dia lakukan?”
Seiring dengan semakin mendekatnya Leon, suara nafas keduanya pun bergabung
menjadi satu.
Di saat Leon semakin
dekat, sebuah jarum panjang milik Khansa dengan cepat menusuk ke dalam pelipis
Leon.
Leon pun menutup matanya dan terjatuh ke sisi Khansa.
Khansa menatap lampu
gantung kristal di langit-langit, dia berusaha menutup matanya, orang bodoh
saja tahu kalau tadi Leon ingin menciumnya tadi. Khansa bertanya kepada Leon
apa dia ingin menidurinya, dan Leon tidak menjawab, tapi dia seolah-olah
membuktikannya dengan tindakan. Khansa segera membuka matanya. “Tidak! Entah
apapun maksud Leon, Khansa dan dia hanyalah sebatas pasangan kontrak,” pikir
Khansa mengingatkan dirinya lagi dengan keras.
Khansa hendak bangun,
tapi sebuah lengan bertenaga merangkul pundaknya.
Khansa mengangkat kepala, Leon masih tertidur. Leon sedang tidur, hanya saja
dia tidak membolehkan Khansa pergi bahkan dalam mimpi sekalipun, ini seakaan
kasih tahu Khansa jika bayangannya pun tidak dijinkan pergi apalagi orangnya.
Khansa ingin
melepaskan diri dari pelukannya, tapi tangan Leon sangat bertenaga, sedangkan
Khansa juga takut membangunkannya dan membuat semuanya jadi sia-sia, jadi dia
kembali berbaring.
Di ruang kerja
tidaklah besar, agak sempit bagi keduanya untuk tidur bersama, Khansa mau tak
mau menyampingkan badan agar tidak makan tempat.
Setelah berbaring sebentar, ponsel Khansa pun berbunyi. Fauzan menelpon untuk
menyalahkan Khansa atas kejadian Pak Arman.
Khansa langsung
mengatakan secara terus terang tentang Maharani yang memberinya obat, dia juga
mengatakan Maharani punya dua orang putri, selain putri bungsunya, Jihan, dia
masih punya putri sulung, Yenny Isvara, kenapa harus Khansa yang dipertaruhkan.
Yenny adalah putri
kebanggaan Maharani, keluarga Isvara memanglah keluarga medis, sejak kecil
Yenny punya bakat yang sangat tinggi dalam bidang pengobatan, selain cantik,
dia juga pintar, sehingga dipanggil sebagai nona ternama nomor satu di kota
Palembang, dan sangat disayangi oleh Fauzan.
Saat kecil Khansa dan
Yenny adalah sahabat yang paling baik, saat itu Khansa sangat cerdas, entah
dari aspek manapun dia pasti lebih unggul dibandingkan Yenny, tapi selama hampir
sepuluh tahun dibuang ke desa, Khansa sudah tidak lagi seunggul sebelumnya, apa
yang masih bisa dia gunakan untuk menandingi putri Maharani?
“Coba lihat apa yang Khansa katakan, beraninya dia menghina Yenny ?” kata
Maharani.
Benar saja, Fauzan
juga jadi tidak senang, dia berkata, “Khansa, bar 1998, besok malam kamu harus
datang tepat waktu untuk menemui Pak Arman!”
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar