PENGANTIN PENGGANTI (BAB 90 : BAJAY)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 90 : BAJAY)
Ketika sampai di kediaman Isvara, gerimis datang mengundang angin. Khansa membuka pintu mobil lalu turun dari mobilnya, Khansa berdiri dengan tenang memandangi kediaman isvara, khansa terlihat cantik dibawah temaran cahaya lampu dan angin yang membuat gaun dan rambutnya sedikit melambai ketika angin meniup-niupnya.
Dari dalam mobil,
Hansen dan Leon mengamati, “tutup matamu!” perintah Leon kepada Hansen.
“Kenapa?” tanya Hansen
membantah.
“Jika kau tidak
menutupnya, maka dalam beberapa hari tiket ke Afrika akan datang ke rumahmu!”
ancam Leon.
Hansen pun langsung
memejamkan matanya, dalam hati berkata jika pasti Leon tidak ingin pria lain
menikmati keindahan dan kecantikan istri kecilnya itu.
Leon masih tidak
berkedip menatapi istri kecilnya itu. Mungil, cerdas dan bernyali besar. Dalam
hati Leon merasa jika Khansa benar-benar pantas mendampingi dirinya. Yang
hampir menandingi kepintarannya dalam berstartegi.
“Kecil-kecil cabe
rawit!” puji Leon.
“Siapa? Apakah itu
julukan untuk kakak ipar?” tanya Hansen.
“Cabe rawit?” tanya
Hansen lagi.
“Diam . . . atau . .
.” belum sempat melanjutkan ancamannya, Hansen sudah menjawabnya lebih dulu.
“Atau kakak akan
mengirm aku ke Afrika bukan?” ujarnya.
“Nah! Itu sudah tahu,
jadi jangan berisik lagi,” tukas Leon.
“Ya, ya diam ya diam
saja, apa susahnya!” jawab kesal Hansen sambil bersedekap lalu menyenderkan
tubuhnya ke kursi dengan posisi santai.
“Huh!” Hansen masih
saja bergumam sedikit tidak terima. Namun, tetap patuh memejamkan kedua
matanya.
Leon menghela napas
ketika melihat Khansa mulai berjalan di koridor kediaman Isvara lalu masuk ke
dalam sana. Pikiran leon terbang kemana-mana, melihat sepertinya istri kecilnya
itu sangat menikmati bermain di luar tanpa dirinya.
“Apa dia
merindukanku?” tanyanya dalam hati.
“Kak! Apa aku sudah
boleh membuka mataku?” tanya Hansen.
Leon menoleh kepada
Hansen, melihar betapa patuhnya Hansen kepadanya, Leon pun menyeringai tertawa,
“Bukalah,” ujarnya.
“Akhirnya,” ujar
Hansen membuka mata sambil membetulkan posisi duduknya.
“Apakah kita sudah
akan pulang?” tanya Hansen.
“Kakak ipar pasti akan
tidur di sini bukan? Di rumahnya,” ujar Hansen.
“Jika kakak iparmu
tidur di sini, maka kita juga akan tidur di sini,” jawab Leon.
“Apa? Di mobil kecil
ini, kita akan tidur di mobil kecil ini?” tanya Hansen dengan tidak percaya.
“Apa kau keberatan!?”
tanya Leon dengan nada mengintimidasi.
“Oh! Tentu tidak, ini
sepertinya akan sangat mengasyikan tidur di mobil seukuran bajay,” gumam Hansen
sambil terbatuk-batuk.
Di dalam
kediaman Isvara, di kamar terlihat Maharani dan Fauzan masih terdengar
berdebat.
Maharani masih tidak
percaya kalau Fauzan akan minta cerai dengannya, “Apa ini, kau benar-benar
ingin menceraikan aku!?”
“Ya,” jawab ringan
Fauzan.
Fauzan pun mengatakan
alasan mengapa mau menceraikan Maharani itu semua adalah karena Maharani
sudah merusak nama baiknya serta membuat keluarga Isvara hampir bangkrut.
Maharani sangat marah
dan tidak terima alasan Fauzan, Maharani memandangi Fauzan dengan tatapan tidak
percaya.
“Katakan sekali lagi!”
ujar Maharani kepada Fauzan.
Fauzan pun semakin
mengeraskan suaranya, “Perusahaan keluarga Isvara hancur di tanganmu, katakan
jika sudah begini untuk apa aku mempertahankanmu!” hardik Fauzan.
“Apa katamu, karena
aku!” tukas marah Maharani.
Maharani bangun dari
ranjanngnya lalu menaikan nada suaranya ketika berbicara kepada Fauzan, “Apa
selama ini kau tidak melihat pengorbananku di dalam membesarkan bisnis
perusaahan dan keluarga Isvara!”
Fauzan pun langsung menyindir
Maharani, “Pengorbanan katamu! Tidur dengan pria lain selain suamimu kau anggap
itu sebuah pengorbanan!?”
“Dasar j*lang,” hina
Fauzan kepada Maharani.
Seketika saja air mata
Maharani berjatuhan mendengar hinaan dari suaminya itu. Maharani menjelaskan
dengan gusar, “bukankah dulu kau bilang tidak mempermasalahkan masa laluku?”
“Lalu sekarang mengapa
mengungkit tentang hal ini, hah!” ujar Maharani dengan suara gemetaran karena
marah dan menahan rasa sakit di tubuhnya.
Maharani berusaha
menjelaskan, tapi Fauzan tidak peduli lagi, “Cukup! Jangan beralasan lagi kau
melakukannya demi kelangsungan bisnis keluarga, kau melakukan itu karena egois,
hanya karena ingin tetap menyandang status Nyonya Isvara.”
“Kau melakukannya
karena tidak ingin hidup miskin,” tukas Fauzan lagi.
Maharani tertawa, lalu
menangis dan kembali tertawa seperti hampir gila saja, Maharani tahu kalau
Fauzan selalu mencintai Stephanie, ibu kandung Khansa.
“Habis manis sepah
dibuang, kau menceraikan aku karena melihat aku sudah tidak bermanfaat lagi
untukmu bukan? Dan jangan kau pikir aku tidak tahu, jika selama ini kau masih
saja mencintai Stephanie.”
“Diam! Jangan sebut
namanya dengan mulut kotormu itu, kau sama sekali tidak pantas menyebut
namanya!” tukas marah Fauzan.
“Mengapa aku tidak boleh
menyebut namanya!” jawab marah Maharani lagi.
“Karena kau sangat
murahan, dan dia tidak. Dia terlalu bersih untuk bisa kau sebut namanya, dan
kau benar-benar tidak pantas menyebut namanya,” jelas Fauzan lagi.
“Tidak ada gunanya
lagi berbicara denganmu, nanti tanda tangani saja surat perceraian kita.”
Fauzan memaksa
Maharani menyetujui perceraian dan lalu keluar. Jihan datang menghampiri dan
memohon pada Fauzan agar membawa Maharani ke dokter.
“Ayah! Ibu terluka
parah! Ayo kita bawa ke rumah sakit!” pinta Jihan.
Mengetahui jika Jihan
11-12 dengan Maharani maka Fauzan sekalian memarahi Jihan dengan habis-habisan.
“Lihatlah bagaimanana
ibumu memanjakanmu, sehingga menjadi bodoh seperti ini!” tukas Fauzan.
“Pantas saja Tuan Muda
Ugraha meninggalkanmu!” cibir Fauzan menghina Jihan.
“Benar-benar tidak
berguna!” ujar marah Fauzan lagi dengan bertubi-tubi.
“Ayah mana bisa
begini! Jangan marah, aku mohon Ayah bawa ibu ke rumah sakit!” pinta jihan
lagi.
“Biarkan saja ibumu
mati! Jangan ganggu aku lagi!” tukas Fauzan seraya menghempaskan tangan Jihan
yang sedang menariknya.
Jihan pun akhirnya
memilih segera masuk ke kamar Maharani. Fauzan ingin pergi dan saat ini
melihat Khansa yang berjalan dengan anggun dan lemah lembut di koridor. Khansa
terlihat ramping menggenakan gaun yang terlihat sangat pas di tubuhnya.
Fauzan melihat mata
Khansa yang terlihat meneduhkan, walaupun memakai cadar namun tetap saja cadar
itu tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Ekspresi Fauzan terlihat sedikit
sentimental.
Akhirnya Fauzan berbalik
dan pergi, cahaya lampu di punggungnya menyiratkan kerinduan dan rasa terluka.
Di dalam kamar
Maharani, Jihan duduk di sisi ranjang ibunya, Jihan menangis mengadu kepada
maharani tentang perkataan kasar Fauzan tadi ketika memarahinya.
“Bu! Apakah ayah akan
menceraikan ibu?” tanya Jihan dengan suara tercekat.
“Bagaimana Ayah bisa
begitu kejam kepada kita, lalu kita harus apa Bu?” tanya Jihan lagi.
Dalam hati Maharani
bertekad, dia tidak akan pernah bercerai dengan Fauzan, dia tidak akan
meninggalkan keluarga isvara, dirinya tidak akan menjadi sampah yang dengan
gampang bisa dibuang.
“Tidak! Tidak akan,
aku dan ayahmu tidak akan pernah bercerai,” jawab tegas Maharani.
ππππππππππππππππππ
BERSAMBUNG
Dukung terus dengan
Vote, like, komen, poin
YANG MAU TAHU
PERJUANGAN AUTHOR MENJADI PENULIS, BISA LANGSUNG KLIK PENULIS BINTANG
BERKISAH YA.
Akan ada 3 pemenang yang dipilih untuk mendapatkan
hadiah misterius dari Noveltoon, di akhir tahun 2021 ini ya.
Yuk ramaikan juga
dengan komentar kalian.
love You All.

Komentar
Posting Komentar