PENGANTIN PENGGANTI (BAB 91 : APA SUKA HADIAH DARI AKU )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 91 : APA SUKA HADIAH DARI AKU )
Jihan dan Maharani sedang berdiskusi apa tindakan selanjutnya, pintu kamar Maharani terbuka, Jihan menoleh menyangka jika Fauzan kembali ke kamar untuk membawa ibunya ke rumah sakit tapi malah melihat Khansa yang datang.
Saat ini Khansa masuk
ke dalam kamar Maharani untuk menyindir Maharani, dengan tatapan ingin membunuh
Maharani berkata kepada Khansa, “Mau apa kau datang!?”
Khansa dengan tenang
berjalan ke arah mereka berdua, berdiri di samping nakas yang ada di dekat
ranjang maharani, lalu malah memandangi bunga mawar yang ada di dalam Vas.
Khansa mengambil satu
tangkai mawar tersebut, lalu menjawab, “Tentu saja ingin mentertawakanmu,”
jawab Khansa seraya mematahkan tangkai bunga mawar tersebut.
“Dasar anak sial!”
hardik Maharani.
Maharani ingin bangun,
mau menampar Khansa, tapi Jihan melarangnya karena itu malah akan membuat luka
ibunya semakin robek jika bergerak sembarangan.
“Bu! Ingat Ibu masih
sakit! Jangan terpancing olehnya,” nasehat Jihan.
“Sungguh memalukan!”
hina Khansa kepada Maharani.
Dengan masih tertawa
mengejek, Khansa berkata lagi, “Sekarang kau sudah tidak ada manfaatnya lagi,
kau sudah hancur! Reputasi dan koneksimu telah hancur. Sedangkan di perusahaan,
kau telah menjadi aib. Begitu juga di dalam keluarga Isvara, kau adalah aib.”
“Aku adalah bawang
yang telah mengubahmu dari beharga menjadi tidak berharga. Saran aku
menangislah sepuasnya agar hati kalian tidak terlalu menjadi sesak!” tukas
Khansa.
Maharani sangat marah,
tapi tidak berdaya bertindak pada Khansa karena kondisi badan yang masih lemah.
Khansa memberitahu
Maharani tentang tujuan kepulangannya dari desa, “Selama aku di desa aku telah
menunggu saat-saat seperti ini, berpikir jika suatu hari aku harus bisa
membuatmu merasakan rasa sakit yang aku rasakan, selama belasan tahun.”
“Bagaimana? Suka tidak
dengan hadiahku?” tanya sarkas Khansa.
“Kehilangan cinta dan
ditinggalkan oleh dunia,” tukas khansa seraya bertepuk tangan.
Maharani sangat
menyesal kenapa dulu tidak membunuh Khansa saja, Maharani telah menilai rendah
Khansa. Hanya dengan tangan kosong anak bawang ini malah berhasil memorak
porandakan dirinya dan kedudukannya di keluarga Isvara.
“Aku seharusnya
membunuhmu waktu itu!” hardik marah Maharani.
Khansa membuanng bunga
mawar yang sedari tadi dia pegang, Khansa melemparkan bunga tersebut kepada
Maharani, “Anggap saja aku sedang menabur bunga di kuburanmu!”
Lalu Khansa pun pergi,
“Tidak ada gunanya lagi menyia-nyiakan waktuku, sampah hanya pantas di datangi
oleh lalat, bukan oleh wanita luar biasa seperti aku!” ujar Khansa sedikit
menghina Maharani lagi.
Dengan masih nada
penuh kemarahan, Maharani lalu memberitahu Khansa kalau Yenny Isvara sudah
kembali.
“Apa kau pikir ayahmu
akan menceraikan aku! Yenny Isvara telah kembali,” ujarnya.
Yenny Isvara!
Yenny Isvara,
kebanggaan dari keluarga Isvara, putri kesayangan Fauzan yang paling terkenal
di Palembang, sampai Jihan yang sudah putus asa barusan langsung kembali
semangat, memamerkan kakaknya dengan bangga.
“Kakak sudah kembali,
dari dulu kau bukan tandingannya apalagi sekarang!” cibir Jihan kepada Khansa.
Khansa menoleh,
lalu Khansa mengernyitkan alisnya, binar matanya terlihat sangat cerah berkilau
ketika melihat kedua ibu dan anak tersebut.
Khansa berkata dengan
tenang, “Sungguh kebetulan sekali, aku sudah lama menanti hari ini!"
“Jika begini sungguh
tepat waktu sekali! Anggap saja aku menghadiahkan kalian kepadanya!” tukas
Khansa sambil tertawa lalu beranjak pergi dari kamar.
“Jika begitu aku
pulang, sampaikan pesan kepada Yenny! Apakah menyukaibhadiah dariku?” tukas
Khansa lagi.
Maharani, semakin
geram ketika mendengar Khansa berbicara seperti itu. Karena memahami maksud
sarkas Khansa. Hadiah yang Khansa maksud adalah keadaanya dan keadaan Jihan
yang saat ini sangat kacau, dan perlakuan Fauzan yang telah menggugat cerai
kepadanya.
Di luar kediaman
Isvara, mobil yang Emily siapkan masih setia menunggui Khansa, begitu juga
dengan Leon dan Hansen. Khansa tidak langsung pergi masuk kedalam mobil, Khansa
mendengadahkan kepalanya, membiarkan rintik hujan menyapa wajahnya. Khansa juga
merentangkan tangannya seakaan mempersilahkan air hujan jatuh bebas di
tubuhnya.
Leon yang
memperhatikan ini, tiba-tiba saja merasa iri dengan air hujan gerimis itu, saat
ini Leon merasa ingin menjadi air hujan yang terjatuh di tubuh Khansa.
“Kak! Malam hari
bermain hujan, apakah tidak akan sakit?” ujar Hansen.
“Tutup matamu!”
perintah Leon.
“Issh mengapa
sedikit-sedikit memintaku menutup mata!” protes Hansen.
Khansa merasa sudah
cukup, mengambil napas panjang, tak ingin menjadi sakit, Khansa pun segera
masuk ke dalam mobil.
“Mbak, kita ke Villa
Anggrek!” perintah Khansa kepada supir yang Emily siapkan.
Leon pun mulai
melajukan mobilnya setelah melihat mobil yang membawa Khansa pergi. Namun,
tidak mengarah ke Villa Anggrek.
“Kak! Ini kita mau
kemana?” tanya Hansen yang melihat arah yang mereka ambil bukan ke arah Villa
Anggrek.
“Temani aku minum
teh!” Jawab Leon.
Tak ingin Khansa
curiga jika dirinya mengikutinya sedari tadi, maka Leon akan memberi jeda waktu
sebentar, membiarkan Khansa yang lebih dulu sampai di Villa Anggrek, barulah
nanti dirinya.
Leon membawa Hansen ke
kedai teh, asistenya pernah mengatakan jika Khansa pernah terlihat beberapa
kali minum teh di sini.
Kedai teh ini
bernuansa tahun 90an. Rimbun dan segar, begitulah kesan pertama ketika memasuki
kedai teh di Palembang ini. Dengan menghadirkan tanaman-tanaman hias yang
berjajar di muka dan di sekelilingnya, kedai teh ini memang menghadirkan udara
yang asri. Ditambah dengan anek teh yang bisa mendetoksifikasi tubuh, maka
jelas Khansa semakin menyukai kedai teh ini.
Leon pun memahami
mengapa kedai ini menjadi kedai teh kesukaan Khansa. Leon melirik jam
tangannya, “Harusnya dia saat ini sudah sampai di rumah,” pikir Leon.
Di halaman Villa
Anggrek, nampak supir dan Khansa bersibuk mengeluarkan barang-barang dan
oleh-oleh untuk nenek Sebastian dan juga untuk beberapa pelayan wanita di Villa
Anggrek.
Paman Indra membantu
Khansa membawa barang-barang tersebut. Khansa juga membawa camilan keripik
pisang asin bali.
“Kotak berisi tas-tas
itu adalah untuk pelayan wanita, dan kotak keripik ini adalah untuk kalian para
pria!” Jelas Khansa.
“Dan ini! untuk Nenek
dan Leon,” jelas Khansa.
Mendengar jika Nyonya
mudanya menyebut membawa hadiah untuk tuan mudanya maka Paman Indra pun
tersenyum senang. Karena sepertinya doa Nenek Sebastian akan terkabul.
Merasa jika Khansa
sudah sampai di rumah, maka Leon segera beranjak pergi, “Ini! Kau pulang saja
dengan ini,” ujar Leon menyerahkan kunci mobil kepada Hansen.
“Lalu! Kakak pulang
naik apa?” tanya Hansen.
Leon berjalan dengan
santainya ke mobil mewah yang telah terpakir menunggunya, Hansen pun
memanyunkan bibirnya, tanda sedang protes kepada Leon.
“Kak! Mana bisa
begini,” teriak Hansen.
Leon mengabaikan
teriakan Hansen, dengan tenangnya membuka pintu mobil dan masuk, segera pulang
ke Villa Anggrek.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar