PENGANTIN PENGGANTI (BAB 92 : JIMAT)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 92 : JIMAT)
Khansa pulang ke Vila Anggrek, dan segera mencari nenek Sebastian, “Nenek di mana?” tanyanya kepada Paman Indra.
“Ada di ruang
tamu,” jawab Paman Indra.
“Segera bagikan
oleh-oleh ini kepada semuanya ya!” pinta Khansa.
Setelahnya, Khansa pun
segera bergegas ke ruang tamu, dan memberikan hadiah yang dibelinya saat
liburan ke Bali, kepada Nenek Sebastian.
“Nenek!” panggil
Khansa.
“Khansa! Sudah
pulang!” ujar Nenek Sebastian sembari memeluk Khansa karena merasa rindu.
“Nenek! Aku membawakan
hadiah untukmu,” ujar Khansa.
“Lihatlah! Aku harap
Nenek menyukai hadiah yang sudah aku pilihkan.”
“Ini banyak sekali,”
ujar Nenek Sebastian.
Selain kain songket,
Khansa juga membelikan aneka kripik pisang, keripik nangka gebyar Bali dan juga
dodol Bali.
Nenek Sebastian sangat
senang, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan sebuah permen terlezat.
Nenek Sebastian membuka lipatan-lipatan kain songket tersebut dan mengamatinya
satu persatu.
Khansa membukan satu
bungkus keripik gebyar Nangka Bali, dan menyuapinya kepada Nenrk Sebatian.
Sambil memakan
camilan, Nenek Sebastian juga sambil mengamati kain songket yang Khansa belikan
untuknya.
“Sangat-sangat
berkualitas,” puji Nenek Sebastian.
“Apakah Nenek suka?”
tanya Khansa.
“Tentu saja! Ini bagus
sekali,” puji Nenek Sebastian.
“Bantu nenek
memakainya!” ujar Nenek Sebastian yang melihat Khansa memakai gaun tipis
selutut yang dikombinasikan dengan potongan kain songket di ujung bawahnya, yang
dibuat berundak-undak menumpuk.
Meihat itu begitu
indah, maka Nenek Sebastian juga tidak sabar ingin mencoba memakai kain songket
itu di tubuhnya.
“Ayo! Bantu Nenek
memakai ini!” pinta Nenek Sebastian.
“Ah! Ya,” ujar Khansa
lalu berdiri dan membantu nenek melilitkan kain songket tersebut.
“Sudah,” ujar Khansa
seraya berdiri dan tersenyum gemas.
Khansa memuji Nenek
Sebastian, “Wah! Benar-benar seperti ratu bangsawan.”
“Cantik sekali!” puji
Khansa lagi.
“Benarkah!?” tanya
Nenek Sebastian.
“Tentu saja,” jawab
Khansa seraya mengedipkan matanya dan mengangkat dua jempol tangannya.
“Fantastis!” puji
Khansa lagi.
“Jika begitu, fotokan
Nenek dengan kain ini!” perintahnya seraya memberikan ponselnya kepada Khansa.
Nenek Sebastian pun
segera berpose, dengan berbagai macam pose dan dengan jenis kain songket yang
berbeda-beda.
“Kita coba di sisi
ini!” ujar Nenek Sebastian.
Melihat hasilnya
bagus, Nenek Sebastian meminta foto di sisi lain lagi, “Sekarang kita coba di
sini.”
Melihat hasil jepretan
Khansa sangat bagus, maka Nenek Sebastian mempostingngnya di grup Chat
pertemanannya.
“Ini bagus . . .
Ini bagus . . . Ini bagus!” gumam Nenek Sebastian seraya mengirimkan
langsung foto-foto yang sudah dia pilih sendiri, yang menurutnya bagus.
“Terima kasih Khansa
mungilku, muah!” Tulis Nenek sebastian menyematkan pesan di foto yang baru saja
di kirimkan ke Grup Chatnya.
Baru saja
mempostingnya, foto-foto Nenek Sebastian langsung saja mendapatkan pujian yang
banyak dari para penghuni grup chat tersebut.
[Wuah tenunan kain itu
indah sekali, sulaman yang sangat berseni tinggi]
[Khansa mungilmu itu,
sungguh pintar memilih hadiah]
[Aku saat ini di Bali,
aku akan mencari satu yang sama seperti ini, sehingga kita bisa berseragam jika
nanti temu kumpul ya]
[Wuah, kain songket
ini pasti mahal bukan].
[Jangan lihat
harganya, tapi lihat siapa yang memberi, cucu menantu yang sangat perhatian,
aku pun ingin satu yang seperti Khansa]
[Aku juga mau]
Nenek Sebastian
tertawa, tersenyum senang mendapatkan pujian-pujian itu di Grup Chatnya. Nenek
Sebastian pun mengusap puncak kepala Khansa. Nenek Sebastian, mengambil
sesuatu dari dalam sebuah tas.
“Khansa! Nenek juga
punya sesuatu untukmu,” ujar Nenek Sebastian.
Nenek Sebastian pulang
dari kegiatan berdoa dan memberikan sebuah jimat pelindung pada Khansa serta
berpesan agar Khansa tidak menghilangkan jimat itu.
“Ini simpan! Simpan
baik-baik,” ujar Nenek Sebastian sambil memberikan sebuah dompet kecil terbuat
dari Sutra ke tangan Khansa.
Khansa memperhatikan
ada tulisan nama dalam sulaman benang emas, di satu sisi tertera nama
Khansa, satu sisinya lagi tertera nama Leon.
“Nenek apa ini?” tanya
Khansa.
“Dalam dompet ini ada
jimat yang aku pinta dari kuil, kau jangan sampe menghilangkannya!” pesan Nenek
Sebastian.
Wajah Khansa memerah,
dengan pikiran cerdasnya, khansa langsung memuji Nenek, dalam hati berkata jika
Nenek Sebastian ini sangat pintar sekali untuk mengingatkan lagi tentang
keinginannya menimang cicit melalui jimat ini.
“Nenek …” ujar Khansa
terbata.
“Simpan baik-baik,
jangan sampai menghilangkanny!” Nenek Sebastian mengulangi perintagnya lagi.
Khansa menggigit ujung
bibirnya, lalu berkata “Baik Nenek! Aku akan menyimpan ini baik-baik dan tidak
akan menghilangkannya,” janji Khansa.
“Apa kau membawa
hadiah untuk Leon?” tanya Nenek Sebastian.
“Tentu saja, bagaimana
mungkin lupa dengan suami sendiri,” jawab Khansa dengan memaksakan senyuman di
wajahnya.
Dirinya masih tidak
mengira, bagaimana bisa membelikan ikat pinggang untuk Leon hanya karena
teringat pinggang kuatnya. Membayangkannya lagi, tiba-tiba saja telinga Khansa
nampak terlihat perlahan berubah menjadi merah.
Ketika mereka sedang
mengagumi hadiah masing-masing, dua cahaya lampu berjalan menyinari jendela
ruang tamu tersebut. Khansa menoleh dan melihat itu adalah Leon yang baru saja
tiba. Nenek Sebastian segera melipat-lipat kain songket yang tadi Khansa
berikan.
“Leon telah datang!
Kau sambutlah!” perintah Nenek Sebastian.
“Cepat!” pinta Nenek
Sebastian lagi.
Khansa terdiam, lalu
memasukan dompet jimat tersebut kedalam tas slempangnya.
“Ya Nek!” jawab Khansa
lalu berdiri.
Beberap hari
tidak bertemu, sehingga Khansa merasa canggung. Khansa segera
berdiri dan berjalan ke samping pintu Villa untuk menyambut Leon. Khansa
melihat mobil sport kesayangan Leon sudah terparkir di Villa Anggrek.
Pintu mobil terbuka,
dan tubuh tinggi yang tinggi dan tegap keluar dari mobil. Hari ini Leon memakai
jas jahitan tangan dengan dasi di lehernya, memperkuat guratan ketampanannya,
gerak gerik Leon sangat elegan menawan.
Leon berjalan masuk ke
rumah, dengan langkahnya yang tegap, dalam setiap langkahnya celana panjang
hitamnya yang dirancang dengan potongan yang tajam rapih itu mengeluarkan aura
dingin dan menawan, serta memancarkan aura bangsawan kerajaan yang alami.
Khansa ingin berlari
menyambut. Namun, jantungnya malah berdetak kencang, sampai-sampai menghentikan
langkahnya.
Khansa menepuk-nepuk
dadanya, sambil berkata, “Sst tenanglah, tenanglah hatiku.”
Khansa mengambil napas
panjang-panjang, untuk menenangkan hatinya. Tapi, semakin mengetahui Leon sedang
melangkah tegap ke arahnya, semakin menjadi tidak karuan hati Khansa dibuatnya.
“Ah! Ya ampun.”
gumamnya lagi.
Khansa malah
memutuskan bersembunyi di balik pintu Kusen, dan berniat ingin mengangetkan
Leon.
Khansa merasa sangat
tegang karena akan bertemu dengan Leon, seminggu tidak bertemu. Namun,
bukannya menutup rindu dengan langsung menghampiri Leon. Tapi, malah
Khansa langsung merubah niatnya dan bersembunyi, berpikir akan memberi
kejutan pada Leon.
Khansa bersembunyi,
hatinya sudah berdetak-detak tak karuan. Menunggu lama sekali, tapi kenapa Leon
masih belum sampai ke depan pintu?
πππππππππππππππππππ
BERSAMBUNG

Komentar
Posting Komentar