PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 93: MENGGENDONGNYA)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 93: MENGGENDONGNYA)
Leon tahu Khansa sedang menunggu, dirinya dan malah sengaja mengerjai Khansa. Flash turun dari lantai atas, lalu berjalan sama gagahnya seperti tuannya. Jantung Khansa semakin berdegup kencang melihat Flash berjalan ke arahnya, dua raja diraja sedang menuju kepadanya, bagaimana hatinya bisa tenang.
Khansa meletakan jari
tangannya di mulutnya, “Sssst,”
“Jangan kesini,” gumam
dalam hati Khansa kepada Flash seraya menggelengkan kepalanya.
Flash membangkang,
sifat Flash yang ini persis seperti Nyonya mudanya. Suka sekali ingkar dari
pengaturan. Flash malah merebahkan badannya dengan gemulai manja di kaki
Khansa. Satu minggu tak bertemu Nyonya Mudanya ini, Flash juga merasakan sangat
rindu dengan Khansa.
Khansa pun mengehela
Napas, lalu mencoba mengintip, mencari tahu mengapa Leon jadi begitu lama.
Khansa mengeluarkan kepalanya dengan perlahan untuk mencari tahu, hal apa yang
menghalangi Loen.
Khansa langsung
menarik kepalanya lagi untuk bersembunyi begitu melihat Leon akan menoleh
kepadanya, sementara Leon hanya tertawa, sedari tadi Leon sudah melihat juntain
gaun Khansa yang berwarna-warni di bawah gaunnya itu dan Leon tahu jika
Khansa bersembunyi.
Khansa masih saja
menunggu, tapi yang di tunggu nampak berjalan dengan lamban sekali, “Haish …
mengapa lama sekali!” pikirnya.
khansa mengeluarkan
kepalanya lagi, “Eh! Pergi kemana dia,” pikirnya seraya menilisik dengan kedua
bola matanya yang hitam pekat.
Khansa pun keluar dari
persembunyiannya dan mencoba melihat, mencari Leon, “Sebesar itu! Pergi kemana?
Mengapa tidak terlihat,” gumam Khansa heran.
“Arrrgh … roar …”
raungan Flash.
Khansa menoleh, dan
melihat Flash sudah berdiri di sebelah Leon yang sedang bersandar di dinding
dengan satu tangan dimasukan ke saku celananya.
Leon menatap Khansa
dengan mata tajamnya, "Mencari aku kah?
Khansa menatapi Flash,
seraya memanyunkan bibirnya sembari bergumam, “Dasar! Penghianat kecil. Baru
saja berpihak padaku, melihat tuannya datang langsung saja berpindah haluan.”
Pandangan Khansa
berpindah kepada Leon yang masih tersenyum penuh kemenangan, Leon baru saja
menggodai Khansa, dan saat ini Khansa merasa sangat malu karena tadi terlihat
sedang mencari-cari keberadaan Leon.
“Issh! Sungguh
memalukan!” pikir Khansa dengan wajah yang memerah.
Untuk menghilangkan
malu, Khansa langsung saja berjalan ke arah Leon, lalu berlutut mengambil Flash
yang berdiri di sisi kaki Leon, lalu Khansa berkata kepada Leon dengan
wajah yang cemberut “Aku mencari Flash.”
“Kau ini GR sekali!”
tukas Khansa kepada Leon.
Leon merasa sudah
tidak tahan lagi, landak kecilnya ini sudah bermain lama di luar, lama tak
bertemu, Leon tahu Khansa pun sama merindu sepertinya, namun masih tidak
mau mengaku. Leon pun langsung maju dan dengan cepat menggendong tubuh Khansa.
“Ei! Ini kau mau apa?”
Leon mengabaikan
pertanyaa Khansa, malah semakin mempercepat langkahnya. Flash dengan sigap
langsung saja melompat keluar dari pelukan Khansa, merasa terkejut Khansa malah
melingkarkan lengannya ke leher Leon untuk berpegangan.
“Ini kau mau apa?”
tanya Khansa lagi.
“Tidak ada, tak
bolehkah jika aku mau memeluk Nyonya Sebastian?” tanya Leon.
Leon memeluk Khansa
dan melakukan beberapa putaran. Nenek Sebastian bergegas keluar dan mendapati
pemandangan indah itu. Seketika saja bergumam, “Jimatnya sedang bekerja, bagus
sekali!”
Gerak gerik Leon dan
Khansa terlihat sangat manis dan romantis. Saat ini Nenek Sebastian melihat
Leon dan Khansa lalu berjalan mendekati mereka berdua, “Kalian sedang bermain
apa?”
“Issh … cepat!
turunkan aku!” perintah Khansa yang merasa malu melihat ada Nenek Sebastian.
Paman indra pun
tercengang melihat tuan mudanya bermain tertawa lepas dengan Nyonya Muda.
Sementara itu, wajah Khansa sudah sangat memerah, karena Leon masih saja terus
menggendongnya.
Tangan kuat Leon masih
menopang tubuh Khansa untuk tetap dekat dengannya. Mencium aroma wangi Khansa
yang sangat dia sukai, mana rela Leon melepaskannya.
Nenek Sebastian yang
tahu jika Khansa sudah merasa sangat malu, segera memukul Loen dengan serbet
yang ada di tangan salah satu pelayan yang sedang menikmti adegan romantis itu.
“Anak nakal! Turunkan
Khansa!” perintah Nenek Leon seraya menyabet-nyabet Leon yang sedang memakai
jas mahal itu.
“Tuan! Turunkan Nonya
Muda, jangan sampai terjatuh,” ujar Paman Indra juga.
Merasa banyak yang
menekannya, akhirnya Leon melepaskan pelukannya, Merasa sudah terbebas dari
tangan kuat Khansa, maka secepat kilat Khansa bersembunyi di belakang Nenek
Sebastian lalu mengendong Flash lagi.
Nenek Sebastian
menasehati keduanya “Nenek tahu kalian pengantin baru, tapi terlalu bersemangat
juga tidak baik,” nasehat Nenek Sebastian kepada Leon
Leon melihat
Khansa yang memunggunginya, sambil asyik membelai-belai Flash. Berpikir landak
kecilnya ini sedang marah dengannya, karena tadi dirinya sudah menggodanya.
Leon dengan elegan melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Paman Indra.
Leon malah acuh tak
acuh mendengarkan nasehat neneknya itu, karena hati dan pandangannya telah
terfokus kepada Khansa semua.
Setelah mendengar nasehat
Nenek Sebastian, Leon pun segera menjawab, “Apa makan malam telah siap?”
Nenek Sebastian
mencubit lengan Leon karena merasa gemas dengan cucunya yang tampan ini sambil
berkata “Nenek akan mengecek dapur,” jawabnya.
Melihat Nenek
sebastian pergi, Leon pun melangkah ke arah Khansa, memeluknya dari belakang,
meletakan dagunya di bahu Khansa, seraya menciumi bahu Khansa. Leon sudah
sangat merindukan wangi tubuh Khansa, aroma manis yang feminim ini.
Sambil tetap memeluki
Khansa yang terlihat mematung, Leon pun bertanya, “Apa marah kepadaku?”
Khansa menggoyangkan
bahunya, mengusir Leon agar menjauhi tubuhnya, tapi Leon tetap bertahan dan
malah ikutan membelai-belai Flash.
Lalu Leon berkata lagi
menjelaskan, “Kan tadi! Kau dulan yang ingin mengerjai aku,” tukas Leon.
“Ya … jadi aku hanya
membalas bermain denganmu saja, kan kau yang lebih dulu mengajak bermain
bukan?” Jelas Leon lagi.
“Hissh!
Kekanak-kanakan sekali!” ujar Khansa.
“Sudah! Sudah jangan
marah! Nenek sudah menyabetku dengan serbet. Aku sudah mendapatkan hukuman,
jadi jangan marah lagi ya!” pinta Leon.
“Aku minta maaf!”
bujuk Leon lagi, agar Khansa tidak marah.
Mendengar perkataan
manis Leon tadi, terang saja membuat Khansa merasa lebih malu lagi. Khansa
berusaha melepaskan diri dari pelukan Leon. Namun mana bisa Leon mengijinkan
landak kecilnya ini pergi.
Ketika Flash melompat
lagi dari pelukan Khansa, langsung saja Leon merangkulkan tangan kuatnya itu ke
pinggang ramping Khansa seperti sedang mengurungnya.
“Jika marahmu
semenggemaskan ini maka bisa-bisa aku akan menghukummu lho!” bisik Leon di
telinga Khansa yang sudah tampak memerah itu.
Khansa menoleh, “k-kau
… mau apa lagi?”
Leon menyeringai
nakal, dan sekali lagi dengan spontan, Leon menggendong Khansa lalu membawanya
ke kamar mereka, “Jika kau masih marah, kalau begitu kita coba bertengkar di
atas ranjang, dan menyelesaikannya di atas ranjang, bagaimana menurutmu?” jawab
ringan Leon.

Komentar
Posting Komentar