PENGANTIN PENGGANTI (BAB 94 : PAKAIKAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 94 : PAKAIKAN)
Dengan mudahnya, Leon membawa Khansa ke kamar mereka, dengan berat badan yang tak sampai mencapai 47kg itu, maka itu tidak menyusahkan bagi Leon yang memiliki pinggang kekar dan kuat untuk menggendong Khansa naik ke lantai atas.
Semenjak mengintainya
tadi, Leon sudah berkata dalam hati, jika nanti dia harus memeluk landak
kecilnya ini, tak peduli apa pun dia harus tetap memeluknya.
Nenek Sebastian keluar
dari dapur, untuk mengatakan jika makan malam sudah siap. Tapi malah tidak
menemukan siapa-siapa.
“Ei! Kemana perginya
mereka berdua,” gumam Nenek Sebatian.
“Apa Leon sudah
membawa Khansa ke kamarnya?” gumam senang Nenek Sebastian lagi.
“Wuah … jimat itu
benar-benar sedang bekerja,” ujar Nenek Sebastian sembari bertepuk tangan.
Nenek Sebastian pun
merasa perjalanan berhari-harinya untuk berdoa di kuil, tidak sia-sia “Lain
kali harus banyak-banyak berdoa lagi,” gumamnya senang.
Di dalam kamar, Khansa
berpikir nkekuatan fisik Leon ini tidaklah kecil, jadi daripada melawannya
lebih baik membujuknya.
“Tuan Muda Sebastian,
bisa turunkan aku tidak?” bujuk Khansa dengan suara lembutnya.
Leon sudah berhasil
membawa Khansa ke dalam kamar mereka,“Nyonya Sebastian, anggap saja aku tuli,
tidak bisa mendengarmu! Kecuali jika kau bilang merindukanku.”
“Pria ini benar-benar
deh!” pikir Khansa.
“Ada hal yang ingin
aku bicarakan!” ujar Khansa membujuk Leon lagi.
Leon masih acuh tak
acuh, tidak menjawab Ya atau tidak kepada Khansa. Khansa mengernyitkan
alisnya, lalu berkata lagi.
“Turunkan aku dulu!
Aku membawa hadiah untukmu juga,” jelas Khansa.
Leon menaikan satu
alisnya, lalu menjawab, “Benarkah!?”
“Tentu saja! Turunkan
aku dulu, maka aku akan memberikan hadiahnya!” ujar Khansa seperti sedang
membujuk bocah berusia lima tahun dengan coklat manis.
Leon pun menurunkan
Khansa, lalu Khansa segera berlari kecil ke arah tas kopernya, dan membuka tas
koper yang telah diletakan oleh pelayan di kamarnya, Khansa mencari kotak
hadiah yang sudah dia siapkan untuk Leon.
Punggung Leon
bersandar dengan elegan di pintu kamar mereka, Leon sudah melepaskan Jasnya,
dan sekarang hanya memakai kemeja putih dan dasi di lehernya. Tulang belikatnya
yang kokoh membentuk siluet busur seksi, pinggang yang kuat dan kaki panjang
yang menawan. Walaupun bersandar dengan asal, tapi itu sudah selevel dengan
model internasional.
Leon menatapi
Khansa, menangkap setiap gerakan tubuh Khansa yang telah menyihir kedua
matanya itu, rambut panjang yang di ikat kuncir kuda dengan tinggi. Memperjelas
tulang selangka Khansa yang indah dan lehernya yang putih mulus.
“Sungguh mempesona,”
pikir Leon.
Saliva Leon naik turun
di jakunnya, lalu Leon menarik dasi di antara lehernya dengan tangannya, dan
dengan masih satu tanganya masuk ke dalam saku celananya.
“Ini dia!” gumam
senang Khansa sambil memandangi kotak hadiah yang ada di dalam koper itu.
Khansa mengambil
kotak itu, yang disampingnya diberi pita ungu. Lalu melangkah ke arah
Leon," Tuan Sebastian! Ini hadiah untukmu,"
Khansa menjulurkan
tangannya, dan Leon pun mengambilnya dengan gaya elegan mempesonanya, meski
dasinya telah membengkok kesamping, tetap saja dia terlihat sangat menawan dan
mempesona.
Leon melihat isi di
dalam kotak tersebut, lalu tersenyum senang melihat sabuk ikat pinggang yang
sesuai dengan seleranya. Meski sabuk ini terbilang sederhana, namun terlihat
indah karena landak kecilnya telah memilih sabuk ikat pinggang ini untuk
dirinya.
“Bagaimana, bagus
tidak?” tanya Khansa.
“Apa kau suka?” tanya
Khansa lagi.
Tiba-tiba saja tubuh
Khansa seperti melayang lagi, dan sedetik kemudian dia sudah berada di dalam
pelukan Leon lagi.
“Tuan muda Sebastian,
kau mau apa lagi?” tanya Khansa seraya mencoba melepaskan diri lagi dari Leon.
“Aku menyukai
hadiahmu,” jawab Leon.
“Lalu?” tanya Khansa
dengan nada curiga dan memicingkan matanya.
“Pakaikan sabuk ikat
pinggang ini!” pinta Leon seraya menarik tangan mungil Khansa dan meletakan di
pinggang kuatnya itu.
“Apa-apaan pria ini,”
pikir Khansa dengan hampir-hampir gemetaran di sekujur tubuhnya, dan membuat
detak jantungnya menjadi berdebar-debar ketika tangannya menyentuh pinggang
kuat Leon lagi.
“Tidak bisa?” tanya
Leon sedikit menggodai Khansa.
Khansa langsung
menarik kedua tangannya dari pinggang Leon, lalu mengambil sabuk ikat pinggang
yang sedang Leon pegang.
“Sini! Pakaikan yah
tinggal pakaikan saja, ini bukan sesuatu yang sulit,” jawab Khansa.
Khansa pun berlutut
dan mulai membuka perlahan sabuk ikat pinggang lama yang tengah di pakai Leon.
Leon merasa sangat
senang dengan hadiah yang Khansa pilihkan ini, apalagi ketika Khansa dengan
patuhnya berlutut dan membukakan sabuk ikat pinggang Loen denhan perlahan,
untuk memakaikan sabuk ikat pinggang yang baru.
Pada saat sedang
serius, terdengar suara tawa Leon yang terdengar magnetis, Khansa mendongakan
kepalanya lalu melihat senyum tampan sedang menghiasi wajah Leon, casanova
sempurna yang sedang menggodai wanitanya.
“Ayo! Teruskan!”
perintah Leon.
Leon terbiasa mendominasi,
sehingga tidak tahu bagaimana menyampaikan jika dia sangat menyukasi situasi
yang sedang dia alami sekarang. Bukanya berkata manis ketika Khansa menatapnya,
tapi malah memerintahnya lagi.
Leon pun lagi-lagi
menelan salivanya, melihat Khansa yang sedang mendongak dan berlutut seperti
ini, sungguh itu adalah sebuah pesona tersendiri yang mampu dengan cepat
merasuki jiwa Leon, ingin rasanya Leon segera bisa mengunyah-ngunyah gadis
kecil yang sedang dalam posisi berlutut menggoda seperti ini.
Khansa pun melanjutkan
memakaikan sabuk ikat pinggang itu lagi. Leon pun semakin merasa gemas, dan
sedikit mencandai istri kecilnya itu lagi, “Dulu tidak bisa membukanya,
sekarang sudah pandai.”
Leon sembari mengusap
puncak kepala Khansa lalu berkata lagi, “Aku akan mengajari hal- hal yang tidak
kau mengerti dengan perlahan-lahan nanti.”
Mendengar perkataan
Leon, langsung saja Khansa memelototi Leon, “Hissh, kau ini sungguh mesum!”
cibir Khansa.
Leon sangat menyukai
gaya Khansa ketika marah, matanya melebar dengan binar tatapan tajamnya, Leon
lalu berkata “Ya… itu hanya denganmu.”
Khansa sedikit merasa
senang ketika mendengar arti perkataan Leon, jika dia hanya berpikir mesum
kepada Khansa saja, lalu Khansa pun bertanya, “Hal-hal seperti apa memangnya
yang akan mau kau ajarkan?” tanya tantang Khansa kepada Leon.
“Apa kau benaran ingin
tahu?” tanya goda Leon dengan suara yang menyiratkan kegemasan hatinya.
“Hissh …” gumamnya.
Khansa pun enggan
memperpanjang perdebatan, lalu segera memakaikan sabuk ikat pinggang yang dia
belikan ke pinggang kuat Leon.
Melihat itu memang
sangat pas di pinggang Leon, Khansa pun mengangguk seraya memuji “bagus”
“Jelas saja, pinggang
aku memang sudah kuat dan bagus sedari dulu.” jawab sombong Leon.
Pada dasarnya tubuh
Leon sudah sangat bagus, jadi memakai apa pun sudah pasti akan bagus.
“Hiish! Narsismu itu
memang benar-benar tidak ada obatnya,” gumam Khansa seraya mencubit lengan
Leon.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar