PENGANTIN PENGGANTI (BAB 95 : AKU TIDAK TAKUT )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 95 : AKU TIDAK TAKUT )
“Apa kau memiliki tujuan khusus memberikanku hadiah ikat pinggang ini?” tanya Leon.
Khansa segera menarik
tangannya dari pinggang kuat Leon, waktu itu dia teringat pinggang kuat Leon,
dan dengan impulsifnya langsung saja membeli ikat pinggang ini sebagai hadiah.
“I-itu …” Khansa
bingung untuk menjawabnya.
“Apa kau ingin
mengikatku erat-erat?” tanya Leon sekaligus menggombali Khansa.
“Salah !” jawab Khansa
dengan nada arogan.
“Jadi karena apa?”
tanya Leon.
Khansa berjinjit lalu
berbisik, “Itu artinya hanya aku yang boleh membuka sabuk ikat pinggangmu!”
Binar mata Leon
menyiratkan penuh nafsu, mencium wangi aroma tubuh Khansa yang sudah dia
rindukan, Leon dengan cepat merangkulkan kedua tangannya ke pinggang khansa,
lalu mendorong Khansa ke ranjang besar mereka, lalu menguncinya dengan satu
kakinya.
“Perintah dari Nyonya
Sebastian, maka aku akan patuh!” janji Leon.
Khansa terbaring di
ranjang, Leon mengulurkan tangannya, membuka cadar Khansa dengan perlahan.
Khansa masih sangat mudah, kulitnya masih terlihat bercahaya dan kenyal,
kecantikannya terlalu indah, membuat Leon tak tega jika ingin menodainya, namun
Leon ingin memilikinya.
Dengan masih
terbaring, Khansa tersenyum lalu mengangkat kepalanya dan mencium pipi Leon
seraya memujinya, " Tuan Sebastian sungguh patuh."
Mendapatkan kecupan di
pipi dengan tiba-tiba, Leon membelai wajah Khansa lalu menundukan kepalanya dan
mencium bibir Khansa yang berwarna merah ranum tersebut.
Leon melepaskan tautan
bibirnya, ketika merasa Khansa sudah mulai kesulitan bernapas. Dengan napas
tersengal, Khansa merasa sangat menyukai wajah tampan yang sedang memandanginya
ini.
Merasa malu, Khansa
malah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Leon menarik kedua tangan
Khansa, “Kenapa? Apa beberapa hari tidak bertemu kau tidak merasa rindu?”
“Tuan Sebastian, kau
yang seperti ini, sedikit membuatku takut,” jawab Khansa.
“Jika takut maka tutup
matamu!” ujar Leon.
Tubuh Khansa gemetar,
dan dengan cepat menutup kedua matanya. Leon menarik tubuh Khansa masuk dalam
pelukannya, lalu Leon berbaring di ranjang, dan memposisikan tubuh Khansa
berbaring diatas tubuhnya.
“Jika kau takut kau
bisa turun dari tubuhku kapan saja,” ujar Leon.
Khansa ingin bangun
dari atas tubuh Leon, namun Leon malah menariknya kembali. Pada saat itu, jimat
yang Nenek Sebastian berukan terjatuh di ranjang besar mereka.
Tadi,ketika sedang memandangi tas jimat Itu lagi, Khansa memasukan asal jimat
itu ke kantong yang ada di gaunnya, yang dibuat di sisi kanan gaun.
Leon langsung saja
mengalihkan perhatian Khansa, “apa ini?”
“Jimat dari nenek,”
jawab Khansa.
Leon mengambilnya dan
memperhatikan, ini sedikit berbeda dengan yang Nenek Sebastian berikan waktu
itu. Jimat yang diberikan sebelum Leon menikah.
Berpikir jika waktu
itu yang diberikan kepadanya adalah jimat agar dirinya segera menikah, jadi
kali ini Leon berpikir ini sudah pasti jimat untuk segera memiliki bayi.
“Apakah ini jimat
untuk mendapatkan bayi?” tanya Leon seraya tersenyum tampan.
“Nenek membawakan ini
setelah berdoa lama,” jawab Khansa.
“Jika begitu simpan
baik-baik,” ujar Leon.
“Ya,” jawab Khansa
sambari tersenyum senang.
Khansa begerak sedikit
ingin menyimpan jimatnya, namun tangan besar Leon menahannya lagi, tiba-tiba
saja wajah Leon mendekat dan mendaratkan bibirnya lagi di bibir Khansa.
Berhari-hari tak
bertemu mana rela jika hanya menciumnya satu kali saja. Leon memeluki erat tubuh
Khansa yang lemah lembut ini.
Leon membelai lembut
puncak kepala istri kecilnya itu, lalu bertanya lagi, “Apa kau benar-benar
tidak merindukanku?”
“Hei! Sejak kapan kau
menjadi polisi, pandai sekali menginterogasi orang,” jawab Khansa.
“Atau jangan-jangan
selain pandai menginterogasi kau juga pandai mengintai?” ujar Khansa.
Mendengar sangkaan
Khansa, langsung saja Leon terbatuk-batuk, “K-kau mengapa berpikir seperti
itu,” jawab Leon mengalihkan pikiran Khansa.
“Tidak apa-apa, hanya
iseng berpikir saja,” jawab ringan Khansa.
“Jangan berpikir
macam-macam, lebih baik pikirkan satu macam saja!” tukas Leon.
“Apa?” tanya Khansa.
“Aku!” jawab Leon
tertawa senang.
“Hiiish …” ujar Khansa
sembari mencubit pinggang kuat Leon.
Leon malah balik
mencubit, menggelitiki pinggang ramping Khansa, "Ah ya Tuhan! Tuan Muda
sebastian mengapa kau nakal sekali.
“Sudah aku katakan
bukan! Aku seperti ini hanya padamu,” bisik Leon seraya menggigit lembut daun
telinga Khansa.
Keduanya malah saling
bergumul di ranjang, beradu gelitik di pinggang, berlomba siapa yang berhasil
mengelitiki paling banyak.
“Ah … ampun … ampun,”
teriak Khansa.
Leon pun menghentikan
gerakannya, memandangi wajah Khansa yang memerah sambil mengatur nafasnya yang
tersengal, tak bisa menahan diri, Leon pun mendaratkan bibirnya lagi di kening,
turun ke hidung, lalu mengecup-ngecup bibir Khansa agak lama dan mulai turun ke
tulang selangka khansa, lalu Leon dengan perlahan menurunkan kepalanya ke dada
Khansa.
Dengan tangan
mungilnya, Khansa memegangi kepala Leon, lalu sedikit menarik rambut Leon yang
terasa halus di tangan.
“Aah … Tuan
Sebastian,” panggil Khansa dengan suara lembut menggoda.
“Nyonya Sebastian,”
panggil lembut Leon juga.
Tok! Tok!, terdengar
suara ketukan di depan pintu, Paman Indra memanggil mereka untuk makan malam.
“Tuan! Nenek Sebastian
telah menunggu Tuan dan Nyonya Muda untuk makan malam,” ujar Paman Indra.
Leon langsung
mengangkat kepalanya, lalu mengusap-usap tengkuk lehernya, “hiish,” gumamnya
seraya menatap ke arah pintu.
“Ayo! jangan buat nenek
menunggu. A-aku juga sudah lapar,” ujar Khansa tergugup.
Leon pun bangkit dari
atas tubuh Khansa, dengan cepat Khansa turun dari ranjangnya, mengambil
cadarnya lalu memakainya dan segera turun untuk makan malam. Sementara Leon
masih terduduk di ranjang besar mereka, memikirkan betapa sial nasibnya malam
ini.
Tak ingin membuat dua
kesayangannya menunggu lama, Leon pun segera saja turun untuk ikut bergabung,
makan malam bersama.
Keesokan paginya,
Khansa dibangunkan oleh suara dering ponselnya, dengan tangan kecil imutnya
Khansa pun meraih ponselnya yang diatas nakas lalu menjawabnya, “Halo.”
Terdengar suara manis
di telinga Khansa, suara yang sangat Khansa kenal, “Halo! Ini aku, Yenny.”
Khansa membuka kedua
matanya, lalu bangkit dari ranjang dan melangkah ke jendela kamarnya, berdiri
sambil menyibak tirai kain putih tipis untuk melihat sinar matahari dengan
lebih jelas.
Rasa kantuk di kedua
matanya tiba-tiba menghilang, Khansa pun tersenyum menyeringai, lalu menyapanya
“Yenny! Kau sudah pulang.”
“Ya! Aku sudah
kembali, lama tak bertemu. Sepuluh tahun tidak melihatmu, apa kau rindu aku?”
tanya Yenny.
“Tentu saja, apa kau
tahu ? selama sepuluh tahun ini aku selalu memikirkanmu setiap hari,” jawab
Khansa.
“Tentu saja tahu!”
jawab Yenny.
“Aku tahu suatu hari
nanti kau akan kembali, jadi karena itu aku selalu bekerja keras untuk
menjadi lebih baik lagi, agar aku bisa menjatuhkanmu sekali lagi ke neraka,”
ancam Yenny Isvara.
Khansa pun tertawa
dengan sedikit meledek Yenny, "Aku tidak takut pada nerakamu! jawab tegas
Khansa.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Bersambung

Komentar
Posting Komentar