PENGANTIN PENGGANTI (BAB 98 : TEPUNG TERIGU PENUH CINTA )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 98 : TEPUNG TERIGU PENUH CINTA )
Untuk membuat rencananya berjalan lancar maka, Yenny berpikir akan mengirim Jihan belajar di luar Negri. Mengetahui adiknya ini suka dengan uang dan kemewahan sehingga terkadang membuat dirinya sendiri menjadi bodoh dan ceroboh.
Dengan wajah penuh
kelembutan, Yenny mencoba membujuk Jihan, “Aku telah mengatur agar kau bisa
berkuliah di luar Negeri,”
“Urusan tentang
keluarga kita, serahkan semua kepada kakak,” ujar Yenny lagi.
Jihan sangat terkejut
mendengarnya, karena Fauzan dan Maharani tidak pernah membahas tentang ini,
“Kak mengapa aku harus belajar di luar Negeri?” tanya Jihan.
Yenny pun berkata
dengan lembut lagi, “Ayah dan Ibu sedang dalam permasalahan yang pelik, mana
sempat membahas ini denganmu. Maka aku sebagai Kakak yang akan mengambil alih
untuk menjagamu,” jelas Yenny.
“Ditambah dengan
kepulangan Khansa, semakin membuat keluarga kita berada dalam kerumitan, karena
itu kau masih terlalu muda untuk menanggung beban ini. Akan sangat baik jika
kau bersekolah di luar Negeri, jauh dari sekala konflik ini,”
“Nanti kakak akan
mengirimkan biaya hidup bulananmu dan juga uang saku,” janji Yenny.
Mendengar jika Yenny
menjamin uang saku dan semuanya maka dengan cepat Jihan langsung menyetujui
saran Kakaknya itu, “Berapa pun yang aku pinta?” tanya Jihan.
“Ya tentu saja,” janji
Yenny sambil mengacak-acak rambut Jihan.
“Jika begitu aku akan
pulang dan segera berkemas,” ujar Jihan bersemangat sambil berlalu pergi.
Ketika Jihan pergi,
senyuman diwajah Yenny menghilang dan berganti dengan pandangan jijik.
Baru saja pintu tertutup,
Yenny menoleh karena mendengar suara pintu terbuka. Fauzan memasuki kamar rawat
inap Maharani, “Yenny,” panggilnya.
Melihat Fauzan yang
datang, maka wajah Yenny langsung berubah menjadi lembut kembali, “Ayah! Apakah
kau akan menjaga ibu juga?”
Fauzan tersenyum
melihat putrinya ini, Fauzan selalu merasa puas dengan yenny, putri yang baik,
sopan juga cerdas dan dikagumi banyak orang.
Yenny adalah harapan
satu-satunya bagi Fauzan untuk bisa meneruskan perusahaan Isvara.
Fauzan duduk di sofa,
menyilangkan kakinya lalu bertanya kepada Yenny, “Ayah tadi bertemu Jihan di
koridor, apakah kau akan mengirim Jihan sekolah di luar Negeri?”
Yenny menggangguk,
lalu menjelaskan maksudnya, “Jihan sudah bukan anak kecil lagi, dia harus
belajar bagaimana menjadi tumbuh dewasa, menjadi seorang yang lebih cerdas
untuk keluarga Isvara nanti,”
“Ibu terlalu
memanjakannya, karena itu aku mengirimnya untuk belajar di luar Negri?”
“Di sana juga banyak
anak-anak kaya raya, kedepannya kemungkinan besar Jihan bisa menemukan jodoh di
sana,” jelas Jihan lagi.
Mendengar analisa
Yenny, maka Fauzan pun semakin merasa puas dengan putrinya ini, “Baiklah urusan
Jihan Ayah serahkan kepadamu saja yang mengaturnya.”
Fauzan menghela bapas
panjang ketika mengingat keadaan perusahaan, "Yenny! Kau pasti tahu jika
perusahaan kita diambang kebangkrutan.
Yenny berdiri lalu
duduk di sebelah Fauzan, “Ayah jangan khawatirkan tentang ini, aku memiliki
cara.”
Fauzan selalu tahu
jika putrinya ini memamg pintar, tapi berpikir jika masalah kebangkrutan ini saja
dia tidak bisa menanganinya, apalagi putrinya yang baru saja lulus kuliah ini,
darimana akan mendapatkan uang.
Yenny menatapi Fauzan
lalu berkata, “Ayah aku akan memberikan bantuan, tapi Ayah harus berjanji
kepadaku!” pinta Yenny.
“Katakan persayaratanmu,”
jawab Fauzan.
“Ayah tidak boleh
menceraikan ibu,” ujar Yenny.
Mendengar Yenny
mengungkit ini wajah Fauzan langsung terlihat menjadi dingin. Dalam hati Fauzan
sudah sangat merasa muak dengan Maharani, apalagi ketika dia mengingat
video-video itu. Kemuakannya pun semakin bertambah, karena itu telah
membulatkan tekad untuk menceraikan Maharani.
“Ayah! Silahkan
dipikirkan dulu,” Yenny mengatakan hal itu dengan penuh diplomasi kepada
Fauzan.
Fauzan tidak langsung
mengiyakan, setelah selesai bicara dengan Yenny Isvara, Fauzan pun bergegas
meninggalkan rumah sakit.
Yenny berjalan ke
ranjang Maharani, memikirkan jika yelat sedikit saja membawa ibunya ini ke
rumah sakit, maka lula-luka ini akan membusuk dan akan mengeluarkan amis yang
berbau busuk.
Yenny Merasa meski
Khansa sudah diasingkan ke kampung namun, ternyata dia adalah lawan yanv
tangguh.
Namun, itu tidak
membuat Yenny menciut karena Yenny memiliki kartu penting di tangannya.
Di hotel, Leon rasanya
ingin segera menyudahi pertemuan ini, hati,raga,pikirannya sudah jalan pulang
lebih dulu ke Villa Anggrek.
Landak kecilnya itu
selalu saja menggoda dirinya sehingga selalu saja membuat dirinya seperti
kehilangan kontrol diri.
Leon sedikit menarik
kursinya, dan memajukan badannya kepada asistennya, “Ini sampai jam berapa?”
“Masih ada beberapa
perwakilan lagi yang akan membacakan materinya,” jawab Gerry.
“Berapa?” tanya Leon.
“Tiga,” jawab Gerry.
“Apa! Tiga …” gumam
dalam hati Leon yang merasa sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Kau gantikan aku
disini! Dan, aku ingin laporan tentang ini semua besok pagi
Kunci Mobilnya!” perintah Leon seraya mengambil kunci mobil dari
tangan Gery lalu bergegas berdiri meninggalkan aula pertemuan.
Melihat landak
kecilnya begitu imut diantara bunga-bunga mawar yang dia kirim, jadi mana tahan
jika Leon diminta untuk menunggu tiga orang selesai presentasi barulah dia bisa
kembali pulang ke Villa Anggrek.
Leon melajukan
mobilnya dengan cepat, segera ingin merasakan tajam landak kecilnya itu, “Bugh”
Leon menutup pintu mobilnya dengan keras, seraya berlari kecil masuk ke Villa
Anggrek.
“Di mana Nyonya?”
tanya Leon kepada salah satu pelayan.
“Di dapur,” jawab
pelayan itu.
Leon segera melangkah
ke dapur, dan sedang melihat landak kecilnya itu seperti sedang mengikuti
sebuah kursus memasak.
Sore ini Khansa sedang
mencoba membuat takoyaki aneka isi. Leon bersandar di pintu dapur,
sembari menguping materi kelas memasak ini.
“Nah dengarkan resep
ini baik-baik,” ujar kepala koki dapur Villa Anggrek
“Berikut adalah
bahan-bahan yang harus disiapkan! Silahkan siapkan katsuboshi,gurita, jahe
merah untuk acarnya, daun bawang dan remaham tempura, rumput laut kering,
mayonaise dan juga tepung serbaguna, telur, garam,” jelas kepala Koki itu.
“Ada semua,” jawab
Khansa bersemangat.
“Jika begitu kita
mulai dengan menumbuk katsuboshi hingga halus!” perintah kepala koki.
“Baik … katsuboshi …
katsuboshi … nah yang ini,” gumam Khansa seraya mengambil sebungkus katsuboshi
yang masih kasar itu.
“Kau! Potong halus
daun bawang dan juga cincang jahe merah ini!” perintah kepala koki kepada
pelayan.
“Dan kau rebus gurita
ini! Cukup sebentar saja, jangan terlalu lama, merebusnya terlalu lama
akan membuatnya terasa alot seperti karet,” jelas kepala koki itu.
“Ini! Sudah halus,”
lapor Khansa kepada kepala koki.
“Bagus saatnya kita
membuat adonan kulit,” ujar kepala koki tersebut.
“Siap!” jawab Khansa
bersemangat.
Leon sudah tidak tahan
lagi, dan memutuskan untuk ikut bergabung, dengan berjalan perlahan Leon
menghampiri kepala Koki, lalu mengambil kertas resep dari tangan kepala koki.
Leon mulai membacakan
langkah-langkah resep berikutnya, “Untuk membuat adonan kulit takoyaki,
campurkan baking powder, garam dan tepung terigu penuh cinta hingga rata.”
Khansa mulai mencari
bahan-bahan yang Leon sebutkan tadi, Khansa mulai mengambil bahan-bahannya,
" Ini garam … ini baking powder … lalu tepung terigu penuh cinta."
“Tepung terigu penuh
cinta?” gumam Khansa dengan aneh sambil meletakan tepung terigu serbaguna yang
tadi dia pegang.
“Ih … mana ada tepung
terigu penuh cinta,” gumam Khansa lagi sembari menoleh ke belakang.
Kepala koki dan
pelayan hanya bisa berdiri diam dibelakang Leon, memperhatikan jika Tuan mereka
baru saja menggagalkan acara memasak Nyonya Muda mereka.
ππππππππππππππππππ
-BERSAMBUNG-

Komentar
Posting Komentar