PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 99 : MENGAKU )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 99 : MENGAKU )
“K-kau sedang apa di dapur?” tanya canggung Khansa.
“Tidak ada! Hanya
penasaran saja dengan apa yang sedang dilakukan Nyonya Sebastian,” jawab Leon.
“Sebelum mencampurkan
terigu penuh cinta, jangan lupa diayak dulu. Sesuai dengan apa yang resep
katakan,” ujar Leon tertawa sembari mengkibas-kibaskan kertas di
tangannya.
“Penuh cinta
kepalamu,” gumam Khansa sembari melemparkan sejumput tepung terigu yang tadi
sudah sempat dia buka sedikit di kemasannya.
Jas hitam yang Leon
pakai seketika saja ternoda oleh lemparan terigu Khansa, bukannya marah tapi
Leon malah tertawa, lalu melangkah mendekati Khansa. Satu tangannya mengunci
Khansa, satu tangan menggambil tepung terigu lalu menaruhnya di pipi Khansa.
Leon mencium pipi
Khansa yang telah bebedak terigu itu, lalu berkata “Jika seperti ini, bukankah
ini dinamakan tepung terigu penuh cinta.”
Mata Khansa
terbelalak, karena Leon sudah berani menggoda dengan intim di depan kepala Koki
dan pelayan.
"K-kau mau apa …?
tanya Khansa terbata.
“Tentu saja menagih
janji,” bisik Leon.
“Janji,” gumam Khansa.
Khansa mencoba
mengingat janjinya, “Astaga! Itu janji tentang melanjutkan hal manis semalam.”
Khansa mengambil satu
telur, lalu memecahkannya ke pinggang kuat Leon, Khansa pun menyengir
ketika telur itu pecah dan mengotori bagian belakang jas Leon.
“He … he … sengaja?”
ujar Khansa sambil tertawa kecil.
“Kau … ini nakal
sekali! Selalu ingin menentangku,” ujar Leon merasa gemas.
Khansa dengan cepat
menurunkan badannya lalu keluar dari kungkungan lengan Leon. Tapi dengan cepat
Leon menarik Khansa dan memeluknya dari belakang.
“Katakan padaku!
Hukuman apa yang pantas untuk gadis yang nakal!?” tanya Leon dengan suara
magnetisnya.
"K-kau jangan
berpikir macam-macam!’ jawab Khansa.
“Bagaimana jika aku
menolak?” tanya Leon sambil tertawa menggodai Khansa.
Khansa melihat
semangkuk daun bawang yang telah di potong-potong oleh pelayan, lalu
mengambilnya dengan cepat dan menumpahkan semua di kepala Leon yang sedang
bersandar di bahu Khansa.
“Hissh …” gumam Leon
yang tidak menyukai aroma daun bawang.
Khansa segera berlari
ketika Leon mengendurkan pelukannya karena membersihkan daun bawang yang ada di
kepalanya.
“Hei landak kecilku!
Jangan lari,” teriak Leon sembari mengejarnya.
“Dia pasti baru salah
makan,” pikir Khansa sambil terus berlari.
Karena gugup, khansa
malah lari ke area kolam renang, tanpa sengaja kaki khansa tersandung dan malah
jatuh ke kolam renang.
Melihatnya Leon segera
saja terjun masuk ke dalam kolam renang yang luas itu, Leon segera menarik
tubuh Khansa, “Apa kau baik-baik saja?” tanya Leon sembari memeluk Khansa.
“A-ku baik-baik saja,”
jawab Khansa.
“Kau lepaskan aku
dulu!” pinta Khansa.
Leon mengabaikan
permintaan Khansa, karena tengah asyik mengagumi wajah Khansa yang terlihat
berseri-seri, cadar Khansa telah terlepas.
Khansa mendorong
tubuh Leon, dan berenang ke tepi kolam. Khansa naik ke atas kolam, Leon
langaung dengan cepat juga ikut naik, lalu menarik tubuh Khansa lagi.
Leon langsung
memasukan Khansa ke balik jaketnya dan memeluknya. Beberpa penjaga datang ke
arah mereka, jadi mana rela Leon melihat pria lain memandangi lekukan tubuh
Khansa yang terjiplak karena bajunya yang basah, dan lagi cadar Khansa telah
terlepas.
"Tetap masukan
kepalamu! Ada banyak orang disini.
Mendengar perkataan
Leon, Khansa pun langsung merangkulkann kedua lengannya di pinggang kuat Leon,
dan membenamkan kepalanya dengan lebih dalam ke dada Leon.
Dengan gagah dan kuat,
Leon menggendong Khansa lagi ke lantai atas, menuju ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar,
Khansa segera meminta Leon menurunkannya, “Aku mandi dulu,”
Khansa pun segera
masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya,
Di rumah sakit, dalam
ruang pasien, Yenny memandangi Maharani yang belum siuman, kondisi Maharani sangat
lemah dan hampir meninggal.
Yenny mengeluarkan
sebuah giok dan menelepon Leon. Selama ini Yenny menyukai Leon.
Ponsel yang merdu
berdering sekali, kemudian langsung terhubung, dan suara dengan nada rendah
magnetis terdengar, “Halo”
“Tuan Sebastian sudah
lama kita tidak bertemu?” sapa Yenny isvara.
Gerakan tangan Leon
yang sedang membuka kancing kemejanya pun terhenti, sambil tetap memegangi
ponsel di telinganya.
Mendengar suara indah
Yenny, wajah tampah Leon tetap terlihat datar. Leon hanya sedikit mengangkat
bibir tipisnya, “Ada apa mencariku?”
“Tuan Sebastian apakah
kau masih ingat jika kau ada menjanjikan aku tiga permintaan pada waktu itu?”
jawab Yenny.
Leon tidak berbicara
dan Yenny yang selalu percaya diri tanpa sadar menggenggam erat ponselnya. Dia
sangat mengagumi tuan muda yang angkuh ini. Namun, hatinya juga sedikit takut.
Setiap kali melihatnya
maka jantung Yenny akan berdetak dengan kencang. Terutama ketika Leon diam
seribu bahasa seperti sekarang, tidak bisa menduga apa yang sedang Leon pikirkan.
“Tuan Sebastian,
permintaan pertamaku telah kau penuhi. Saat ini aku akan mengatakan permintaan
keduaku,” ujar Yenny.
Permintaan Yenny yang
pertama adalah, Leon mensponsori kepergian Yenny bersekolah di luar Negeri, di
Universitas yang paling sulit dimasuki.
“Katakan!” jawab Leon.
“Perusahaan keluarga
aku membutuhkan suntikan dana, aku berharap tuan muda Sebastian bisa dengan
murah hati untuk memberikannya,” jelas Yenny.
“Berapa?” tanya Leon.
“20 Miliar,”
jawa ringan Yenny.
“Baik! Assistenku akan
segera mengurusnya,” janji Leon lalu segera menutup sambungan telpon dari
Yenny.
Beberapa tahun lalu,
Leon pernah berjanji beberapa hal pada Yenny. Sekarang Yenny meminta uang dalam
jumlah besar pada Leon, Leon pun langsung menyetujuinya, Karena Leon bukanlah pria
yang suka ingkar janji.
Leon merasa berhutang
nyawa pada Yenny karena beberapa tahun lalu Yenny mengaku telah
menolongnya dalam kejadian itu.
Waktu itu sakit Leon
kambuh, dan kehilangan kesadarannya. Dalam samar Leon merasakan ada yang
merawatnya dengan penuh kelembutan. Saat itu Leon juga mencium aroma tubuh yang
bisa menenangkannya. Bahkan Leon sampai memeluknya, karena itu bisa membantunya
menjadi lebih tenang meski dalam keadaan setengah sadar.
Keesoakan paginya,
Leon memberikan gioknya, namun wajah gadis itu tidak terlihat jelas karena
ditutupi. Tak berapa lama, Yenny datang menemui Leon dan mengatakan jika hari
itu, dirinyalah yang telah menyelamatkan Leon. Untuk membuat Leon percaya,
Yenny bahkan mengeluarkan giok pemberian Leon yang diberikan kepada Khansa.
Leon mengirimkan pesan
kepada Gerry untuk mengurus pentransferan 20 Milliar permintaan Yenny.
Gerry juga mengenal
Yenny Isvara, gadis cerdas luar biasa. Namun, setelah dirinya mengenal Khansa
Isvara, Gerry merasa jika Khansa Isvara lebih unggul dari pada Yenny Isvara.
Leon terduduk di sofa
dengan masih memakai pakaian basahnya, dia tahu bahwa sekali menyuntikan dana
20 Milliar ini maka berita ini akan cepat viral dan akan sampai ke telinga
istrinya. Tapi karena Leon merasa berhutang nyawa kepada yenny, dan juga Leon
adalah orang yang tepat janji di sepanjang hidupnya ini.

Komentar
Posting Komentar