PENGANTIN PENGGANTI (BAB 1 : PERTEMUAN)
BAB 1 : PERTEMUAN
Dianggap sebagai pembawa sial Khansa dikirim ke desa oleh sang Ayah, karena perkataan salah satu peramal yang mengatakan bahwa Khansa adalah pembawa Sial.
Khansa memiliki ibu
tiri dan dua saudara tiri. Maharani, ibu tiri Khansa memiliki latar belakang
sebagai ratu film terpopuler, sangat pandai bermain trik. Status awalnya
hanyalah wanita simpanan ayah Khansa, lalu sekarang malah berhasil menjadi
istri sah.
Di kota Palembang, di
rumah utama isvara nampak perdebatan sengit sedang terjadi, ini adalah
perdebatan tentang perjanjian nikah antara dua keluarga yang telah diputuskan
oleh generasi yang lebih tua. Pernikahan diatur dengan keluarga salah
satu keluarga besar dari empat keluarga besar yang ada di Palembang.
Seharusnya ini adalah
hal yang menggembirakan, karena salah satu anak perempuan dari keluarga Isvara
akan menikah dengan salah satu Tuan Muda berkuasa besar di Palembang.
Namun Maharani tidak
rela jika putri kandungnya harus menikah dengan pria yang sakit-sakitan.
Tuan Muda yang di jodohkan adalah Leon Sebastian yang diketahui tengah
mengidap penyakit yang sangat parah, dan keluarga Sebastian menginginkan agar
Leon Sebastian memiliki keturunan, karena itulah pernikahan ini diaturkan.
Karena sakit, selama ini
tidak pernah ada yang tahu bagaimana rupa Leon Sebastian, yang selama ini
terisolasi tinggal di Villa Anggrek.
“Tidak mau! Jihan
tidak mau menikah dengan pria cacat itu,” protesnya.
“Bu, aku ini
cantik lho. Masa Ibu begitu tega menikahkan aku dengan Leon,” ujar Jihan.
“Lalu kita harus
bagaimana, tetua keluarga sudah memutuskan salah satu anak perempuan dari
keluarga Isvara harus menikahi Leon?” tanya Maharani lirih.
Mereka berdua nampak
sama-sama berpikir, lalu tiba-tiba Jihan berdiri sembari sedikit berjingkrak
dan menepuk tangannya.
“Khansa…” ujar Jihan.
“Khansa,” ujar
Maharani.
“Iya Bu, lekas jemput
Khansa. Biarkan dia saja yang menjadi pengantin untuk Leon,” usul Jihan.
Maharani merasa puas
jika anak pertamanya ini mewarisi kelicikannya yang cerdas, “kau pintar
sekali,” pujinya.
Maharani pun pergi ke
kamar utama, Tuan Fauzan Isvara nampak masih mengerjakan beberapa berkas
bisnisnya. Maharani menghampiri lalu memijit-mijit bahu suaminya itu.
“Ada apa?” tanya Tuan
Isvara.
“Tentang pernikahan,”
jawab Maharani.
“Keputusan para tetua
tidak bisa dibantah,” jawab Tuan Isvara.
“Ih kau ini, belum
selesai bicara sudah kau potong saja,” gerutu Maharani.
“Katakan dengan
jelas!” perintah Tuan Isvara.
Maharani pun berdiri
di depan meja kerja Tuan Isvara, “Kita jemput Khansa ya!” pintanya.
“Khansa?” tanya Tuan
Isvara.
“Iya, bukankah Khansa
sudah 20 tahun. Usia yang tepat untuk menikah,” jelas Maharani.
“Jihan, masih terlalu
muda untuk menikah,” jelas Maharani lagi sembari membujuk.
“Lagipula, apa kau
tega melihat Jihan menikah dengan pria sakit-sakitan seperti Leon?” tanya
Maharani dengan melirih.
Tuan Ishvara berpikir
sejenak, “lakukan saja seperti yang kau mau, tapi pastikan itu tidak akan
membawa malu nama keluarga kita,” tutur Tuan Isvara.
Maharani pun bersorak
horai gembira dalam hati, “terima kasih.”
Sementara itu di Pagar
Alam, di lereng bukit Dempo nampak Khansa sedang sibuk menebar jaring ikan di
sungai, untuk menangkap ikan semah.
Sungai Lematang adalah
sungai besar yang ada di Pagar Alam, yang melewati lereng bukit Dempo. Di
sinilah Khansa Isvara dibesarkan, oleh keluarga dari ibu kandung Khansa yang
telah pergi selamanya meninggalkan Khansa ketika Khansa berusia sembilan tahun.
Menjelang siang hari,
Khansa kembali ke rumah dengan membawa hasil tangkapan ikannya, “hari ini kita
akan makan gulai ikan,” ujar senang Khansa.
“Tante Anjani, lihat
deh ikan semah ini berukuran gembul semua,” ujar Khansa sambil tertawa senang.
Namun wajah Anjani dan
Nenek Rima terlihat sedih. “Ada apa ini? Kenapa semua nampak sedih?” tanya
Khansa.
“Sini duduk!” pinta
Nenek Rima.
Khansa pun meletakan
ikan-ikan yang baru saja tadi ditangkanya dan duduk di sebelah Nenek Rima. “Ada
apa ini Nek?” tanya Khansa lagi.
“Khansa, sebentar lagi
kau harus kembali ke kota palembang. Ke rumah ayahmu,” jawab Nenek Rima.
“Tapi kenapa? Aku
senang tinggal disini bersama Tante Anjani dan Nenek.”
“Dengarkan Nenek, usia
kau sudah 20 tahun. Saatnya kau menikah,” jelas Nenek Rima.
“Ayahmu sudah ada
calon untuk kau,” jelas Nenek Rima.
“Menikah? Tidak mau!”
tukas Khansa.
“Khansa dengar apa
kata Nenek,” nasehat Tante Anjani.
“Nenek sudah semakin
tua, tenaga sudah tidak sekuat dulu lagi. Kalau nanti Nenek tutup usia, Nenek akan
tenang karena sudah ada yang menjaga kau nanti,” tutur Nenek Rima seraya
membujuk Khansa sambil menangis.
“Nenek … jangan
menangis, jangan menangis!” pinta Khansa.
“Kalau begitu mau ya
menikah!” pinta Nenek Rima.
Khansa pun mengangguk
mau, Nenek Rima hanya bisa mengusapi lembut puncak kepala Khansa, satu-satunya
harta berharga yang telah ditinggalkan oleh putri kesayangannya itu.
Keesokan paginya
Khansa pun pergi ke kabupaten tetangga, kabupaten Lahat. Satu-satunya kabupaten
terdekat yang di lewati kereta api. Karena tinggal di lereng gunung dempo maka
perjalanan ke Lahat akan memakan waktu dua jam, dengan menaiki
angkutan umum, dan akses jalan yang naik turun bukit.
Sesampainya di Lahat,
Khansa pun membeli tiket untuk ke stasiun Kertapati, Palembang Kota, membeli
tiket kelas eksekutif. Khansa duduk didalam kereta api sambil membaca buku.
Khansa bangun dari
kursinya dan ingin pergi ke toilet yang ada di dekat bagian pintu masuk kereta.
Tiba-tiba pintu kereta terbuka.
Embusan dingin dan bau
amis darah masuk dari pintu, sebuah sosok yang besar terjatuh kedalam dan tak
sadarkan diri.
Kemudian disusul oleh
sekelompok orang berpakain hitam yang bergegas masuk dan ingin langsung
membunuh pria yang tak sadarkan diri itu.
Tapi mereka melihat
Khansa yang berdiri sambil memeluki buku di dadanya itu, mereka pun ingin
membunuh Khansa untuk melenyapkan saksi mata.
Khansa melihat senjata
ditangan mereka dan berpura-pura panik lalu memohon ampun. Sedangkan pria
dengan sebuah bekas luka di wajah yang merupakan bos mereka justru tertarik
oleh sepasang mata indah yang tidak tertutup oleh cadar. Nafsu bos itu pun
bangkit, dan malah mengancam Khansa.
“Jika kau masih mau
hidup maka layani kami!” ujar si bos tersebut.
Khansa berdiri didepan
pintu toilet kereta api, si bos tersebut menerjang kearah khansa, meletakan
satu tanganya di pintu toilet, dan mulai ingin melepaskan baju Khansa.
Detik berikutnya
tangannya di genggam oleh tangan kecil Khansa yang putih mulus, pria itu
melihat sepasang mata yang dingin menusuk, Khansa tersenyum, membuka
pintu Toilet lalu menjempit tangan si bos dengan pintu toilet.
Detik berikutnya
Khansa menusuk pelipis bos tersebut dengan jarum perak yang kecil panjang, lalu
bos tersebut mati di tempat.
Para anak buah bos
tersebut, merasa panik dan hendak menerjang Khansa, tapi tepat disaat itu, pria
yang tadi terjatuh ke lantai segera berdiri dan merebut senjata ditangan pria
berbaju hitam, tenggorokan para pria berbaju hitam dipotong dan terjatuh satu
persatu.
Khansa sudah tahu
sejak awal, meskipun pria ini berlumuran darah, tapi dia pura-pura pingsan.
Darah ditubuhnya adalah milik orang lain. Pura-pura pingsan karena hanya ingin
membuat orang-orang ini lengah.
Khansa memperhatikan
sosok pria berbadan tinggi tegap yang ada di hadapannya ini. Wajah tampannya
terlihat tegas dan memiliki sudut-sudut tajam. Terlihat dewasa, ningrat dan
acuh tak acuh dan terlihat sulit untuk di dekati.
Sementara Leon
memperhatikan Khansa yang memililiki tatapan mata yang cerah dan
tajam, kulit putih dan alis seperti pohon Willow.
“Tuan Muda, maaf kami
terlambat.”
Leon mulai mendekati
Khansa, selangkah demi selangkah lalu mencubit dagu Khansa, “Hmm … Sebaikanya
aku apakan ya?”
Khansa mengerti dia
telah melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat. “Bagaimana ini, cara
melarikan diri,” pikir Khansa.
Khansa mundur
selangkah, ‘plak’ dia memukul pipi Leon yang mencubit dagunya. “Jangan kurang
ajar!” hardik Khansa.
“Aku adalah calon
pengantin dari Tuan Muda Leon Sebastian,” ungkap Khansa.
Baru saja ditampar
oleh wanita, Leon mentertawai dirinya sendiri sambil mengusap pipinya sambil
berkepresi aneh, “Ini adalah pengantinnya,” gumam Leon dalam hati.
Khansa yang tidak
mengetahui apa-apa melanjutkan ancamannya, Pernikahan Villa Anggrek diketahui
oleh seluruh penjuru kota, menggemparkan seluruh kalangan atas.
Khansa berpikir Jika
pria ini berani menyentuhnya maka dia akan berada dalam masalah besar, orang di
Villa Anggrek tidak akan mengampuninya, terlebih lagi empat keluarga besar di
Palembang.
Leon pun semakin
tertawa mendengar ancaman Khansa, hari ini Leon ingin dibunuh oleh atas
perintah dari mitra bisnisnya, sungguh suatu kebetulan yang indah bisa bertemu
dengan pengantinnya.
Leon melepaskan Khansa,
dan meninggalkan sebuah kalimat. “Kita akan bertemu lagi secepatnya.” Kemudian
Leon pergi dengan membawa orangnya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
(bab 1 selesai)
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini. Kamu
juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan kamu. Misalnya
novelku, noveltoon dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..


Komentar
Posting Komentar